Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Joy


__ADS_3

Rangga menatap Shanum lekat, rupanya makan siang yang terlewatkan karena meeting, membuat Shanum begitu kelaparan.


Sungguh lucu melihat kedua pipi yang mengembung dan bergerak cepat.


"Makanlah perlahan Sha"ujar Rangga, hanya anggukan yang Shanum lakukan karena mulutnya tampak penuh dengan makanan.


Senyum Rangga beberapa kali terbit saat melihat bibir mungil itu masih sibuk mengunyah dengan cepat bagai kelinci.


"Kau makan Ngga"


"Ehmm..aku masih kenyang"jawab Rangga, melihat Shanum yang begitu lahap, seakan perutnya yang malah merasa kenyang.


Shanum hanya mengangguk.


Mata Rangga membelalak saat melihat beberapa piring yang telah kosong di atas meja.


Sementara Shanum dengan senyum puas, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Setelah melewatkan makan siang rupanya cacing di dalam perutnya berdemo dan meminta porsi dua kali lipat dari biasanya.


Kini Rangga hanya menggelengkan lepalanya, berhenti di mana semua makanan yang telah masuk ke mulutnya, gumam hati Rangga.


Rangga membungkukkan badannya untuk melihat tubuh Shanum.


Netra nya lekat memandang ke arah bagian perut yang masih rata seperti biasa.


"Kamu lihat apa Ngga?"


"Ehm tidak apa-apa"jawab Rangga dengan menggaruk kepalanya yang gatal.


Makanan habis sebanyak itu tapi perut masih sama rata, Rangga berpikir masih dengan wajah penuh heran.


"Hehee...aku memang seperti ular Ngga, jarang makan, tapi sekalinya makan beberapa porsi akan ku habiskan"rupanya Shanum menyadari keheranan Rangga.


"Makanlah sewajarnya Sha, dan jangan sampai telat, ingat lambungmu sedang tidak sehat"Rangga mencoba memberi pengertian meski mungkin masuk di telinga kiri dan langsung keluar dari telinga kanan bagi Shanum.

__ADS_1


Drrt drrtt


Shanum meraih ponsel yang berada di atas meja.


"Ada apa Sha"tanya Rangga saat melihat dahi Shanum berkerut setelah membaca pesan di ponselnya.


"Devon minta bertemu"kini ganti Rangga yang mengerutkan dahinya.


"Untuk apa?"


Shanum hanya menggeleng pelan.


"Mau apa lagi tu orang, kalau udah putus ya udah nggak usah lagi minta ketemuan mulu, nyusahin aja"geram Rangga namun hanya dalam hati karena tak ingin Shanum melihat dirinya yang kini selalu merasa kesal jika ada yang mendekati wanitanya.


"Udah ayo pulang" ujar Rangga lalu memanggil pelayan hendak membayar tagihan.


"Maaf tuan, anda tak perlu membayarnya karena tuan Joy sang pemilik restoran ini sengaja menyediakan semua special buat Nona Shanum"kalimat yang membuat Rangga menautkan alisnya, lalu memandang Shanum berharap gadis itu menjawab kebingungannya.


"Apa kau mengenalnya ?"tanya Rangga.


"Tolong sampaikan ucapan terima kasih kami untuk Tuan Joy"perintah Rangga pada sang pelayan resto.


Mereka pun melangkah keluar dari area resto, tapi...


"Tunggu Nona"teriak salah satu pelayan pria yang berlari ke arah Rangga dan Shanum.


"Tuan Joy meminta Nona Shanum agar mau menerima pemberian kado ini dari beliau"sang pelayan memberikan sebuah kado cantik berpita indah pada Shanum.


Dengan ragu Shanum menerima kado tersebut setelah sebelumnya ia meminta persetujuan Rangga lewat pandangan matanya.


"Terima kasih atas kado yang di berikan dan tolong sampaikan permintaan maaf dari kami jika ada tingkah laku dan perkataan kami yang kurang berkenan"ucap Shanum dengan bijak.


Sang pelayan pun senyum dan membungkuk hormat namun beberapa kali Rangga menangkap lirikan penuh kekaguman pada Shanum.


"Baiklah kami mohon pamit, karena ada suatu hal mendesak yang harus di selesaikan"ucap Rangga yang merasa kesal pada tingkah pelayan laki-laki itu.

__ADS_1


"Kalau nggak ingat dosa, gue sleding lu"geramnya dalam hati.


Rangga melangkah menuju motornya yang terparkir tak jauh dari mobil Shanum.


"Sha..."satu suara memanggil Shanum dari arah belakang.


"Maaf, aku tak bisa menemani kalian tadi, ada karena urusan yang mendesak"ucap sang pria tampan yang tak lain adalah Joy sang pemilik restoran.


"Ehmm nggak apa-apa oiya terima kasih atas kado dan makannya , maaf juga telah merepotkan "Shanum berucap dengan pandangan menunduk hormat.


"Nona Shanum, apa kau ada waktu luang besok malam, bisa kita bertemu untuk makan malam, ada satu tempat yang ingin ku tunjukan padamu"ucap Joy.


"Ehhm maaf Tuan Joy, besok aku ada acara, sayang sekali"jawab Shanum dengan nada menyesal.


"Hmm kalau begitu lain kali saja, bagaimana"pintanya lagi dengan gigih.


Rangga hanya dapat memandang dari kejauhan dengan kesal, ingin rasa hati secepatnya mengajak Shanum ke Penghulu agar pernikahan mereka segera di laksanakan hingga tak ada lagi yang berani menggoda wanitanya itu.


Joy tersenyum senang saat akhirnya Shanum menyanggupi untuk bertemu dengannya, sejak pertama kali bertemu, hatinya sudah begitu tertarik pada gadis yang beberapa tahun lebih tua darinya itu.


Dengan berbekal informasi yang di dapat dari anak buahnya, ia begitu terkejut karena Shanum yang ia kira seorang mahasiswi ternyata adalah seorang CEO di salah satu perusahaan besar.


Kini ia tak ingin membuang kesempatan untuk yang kedua kali, meski dengan cara apapun gadis itu harus ia dapatkan.


Joy melambaikan tangannya pada Shanum saat mobil itu melaju pergi, dan tanpa di sadarinya, sepasang mata yang tengah memandangnya tajam tak berkedip dari atas motor maticnya.


"Hhhh, langkahi dulu mayatku jika kau ingin mendekatinya, dasar bocah ingusan"Rangga bermonolog dengan tangan mengepal kencang di atas stang motornya.


Hatinya semakin mendidih saat pria itu tampak memamerkan senyum tiga jarinya.


Shanum memandang bungkusan cantik pemberian pria bernama Joy sang pemilik restoran itu.


"Ya Tuhan"ucapnya dengan mulut membulat penuh.


Kini ia baru mengingat kejadian saat di sebuah taman dan tak sengaja menabrak seorang pemuda, dan baru di sadari bahwa pemuda itu adalah Joy.

__ADS_1


__ADS_2