
Dengan lembut Rangga merangkul tubuh sang istri setelah sidang selesai.
Di tuntunnya tangan Shanum menuju mobil yang berada di parkiran gedung tersebut.
Dengan perlahan Rangga melajukan mobil menuju hotel tempatnya menginap.
Melihat kondisi Shanum yang masih pucat dan tangan yang dingin bahkan wajahnya masih tampak tegang.
"Makanlah," Rangga menyerahkan sebatang coklat yang di ambilnya dari tasnya.
Shanum mengambil coklat lalu memakannya perlahan, tatapan matanya lurus ke depan.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka pun sampai di hotel tempat mereka menginap.
Shanum langsung membaringkan tubuhnya di sofa panjang di kamar hotelnya, sementara Rangga memesan coklat hangat pada room service.
Shanum memejamkan matanya mencoba mengalihkan pikirannya yang masih teringat saat persidangan.
Dadanya kembali bergetar saat teringat tatapan Hendy yang begitu menakutkan bahkan tersirat dendam yang begitu dalam padanya.
Rangga mengusap kepala istrinya dengan lembut, ia tahu jika Shanum belum tertidur.
Shanum membuka matanya dan menatap Rangga dengan pandangan tajam.
"Katakan semua yang ada di hatimu, berbagilah denganku, aku disini untukmu"Rangga membalas netra Shanum dengan lembut.
"Apa aku sejahat itu, hingga ayah Hendy begitu membenciku?"tanya Shanum dengan wajah menghiba.
Rangga memeluk erat tubuh Shanum.
"Bukan kau yang jahat, tapi dia yang tak punya hati"jawab Rangga pasti.
Shanum makin terisak, sedih rasanya saat di benci keluarga sendiri padahal di dalam hati Shanum, sama sekali tak memiliki sedikitpun rasa benci pada Hendy kakak dari ayahnya sendiri yang sudah di anggap sebagai ayah Shanum sendiri.
Sungguh tak enak rasanya di lihat seseorang dengan penuh rasa kebencian.
Rangga menghela nafa berat, dadanya pun serasa sesak mendengar Shanum menangis sedih.
Ingin rasanya ia menghajar pria tua yang telah menyakiti hati dan fisik istrinya.
Namun Rangga pun tidak ada hak ikut campur masalah pelik keluarga dari istrinya.
Meski sekarang hidup Shanum adalah penuh menjadi tanggung jawabnya.
__ADS_1
Di ambilnya minuman coklat hangat lalu menyodorkan pada Shanum.
"Minumlah, akan sedikit membantu memulihkan suasana hatimu sayang"ucap Rangga lembut.
Shanum mengambil gelas yang Rangga sodorkan meski sedikit ragu, sebenarnya ia tidak begitu menyukai rasa yang terlalu manis, namun tak ingin melihat rona kecewa wajah suami maka Shanum pun meneguknya perlahan.
Kedua alisnya terangkat saat merasakan minuman coklat hangat yang biasanya cenderung ber rasa manis namun kali ini yang ia rasakan manis yang hanya sebagai pelengkap sehingga tidak mengganggu rasa coklat aslinya yang terasa sedikit pahit.
"Kau suka?"tanya Rangga tersenyum.
Pertama kali merasakan minuman coklat hangat di hotel itu saat pertama kali ia datang kemarin, dan Shanum tak sempat mencicipinya karena sibuk dengan aksi Rangga yang mengajaknya melakukan kegiatan panas.
Kembali di teguknya minuman pekat di tangannya, kini sedikit demi sedikit suasana hatinya kembali tenang dan rasa sesak yang sempat menghinggap di dadanya kini banyak berkurang.
"Istirahatlah dulu, aku akan mandi, kita pulang sore nanti"Shanum mengangguk pelan pada Rangga.
Sementara di tempat lain, Hardy masih diam di dalam mobilnya.
Harun yang melihat lewat kaca spion pun tak mau mengganggu suasana hati tuan besarnya, yang kini tampak sedang tidak baik.
Meski misi mereka untuk menjebloskan Hendy ke dalam penjara berhasil, namun di dalam hati kecilnya terbersit penyesalan yang menyelimuti hatinya.
Hidup rukun berdampingan dengan saudara kandung satu-satunya adalah mimpinya sejak dulu, namun keadaanlah yang membuat mereka akhirnya saling jauh bahkan bagai air dan minyak yang tak akan dapat bersatu.
Sedih melihat kakak kandungnya sendiri di penjara, juga hatinya merasa sesak saat Hendy yang tanpa perasaan bahkan menyalahkan semua kejadian itu pada Shanum.
Masih teringat jelas saat melihat Shanum tampak begitu shock ketika Hendy murka dan mengamuk hendak membunuhnya.
Jika saja para polisi yang mengawal jalannya sidang lengah, tentu Shanum telah menjadi sasaran cekikan tangannya.
Bahkan saat ini pun Hardy belum bisa mengetahui bagaimana kondisi putrinya itu.
Semoga baik-baik saja karena Hardy yakin, Rangga bisa mengatasi semuanya dengan baik.
"Apa kita langsung ke mansion tuan?"tanya Harun.
"Iya kita langsung saja pulang ke mansion Run, aku ingin istrirahat dengan tenang"jawab Hardy lalu menyandarkan tubuhnya di jok dan memejamkan matanya.
Sementara di kamar hotel, Shanum sudah makin membaik, hatinya pun sudah tidak setegang siang tadi.
Walau bagaimanapun ia harus kuat, ia akan berusaha sebaik mungkin menjadi putri yang bisa menjadi kebanggaan ayahnya.
Apalagi dengan adanya Rangga di sisinya, yang selalu menemaninya dalam suka dan duka, saat kesedihan melanda, dengan senyum ceria Rangga akan menghibur hatinya.
__ADS_1
Dan saat ketakutan menghantuinya, Ranggapun akan siap dengan pelukan hangat nya.
Rangga tersenyum melihat Shanum yang terlihat segar setelah selesai mandi.
"Kita pulang sekarang sayang?"tanya Rangga setelah membereskan semua barang bawaannya.
Shanum mengangguk pasti.
"Kau yakin tubuhmu kuat?"tanya Rangga lagi karena tak ingin Shanum kembali drob dalam perjalanan nanti.
"Aku sudah sepenuhnya siap sayang, ayo kita pulang ke mansion"Shanum meraih tangan Rangga lalu menggenggam erat bahu kekar suaminya.
Rangga menghela nafas lega lalu mengecup puncak kepala Shanum lembut.
"Kau memang istriku yang tangguh"puji Rangga lalu mengacak rambut lebat sang istri.
"Ishh"Shanum mencebik kesal dan membetulkan tatanan rambutnya.
"Jangan kau mainkan bibirmu seperti itu, aku tidak suka"Rangga berucap dengan nada mengancam.
"Huumm"cibir Shanum semakin kesal dengan ucapan tak masuk akal Rangga.
Rangga melotot tajam ke arah Shanum lalu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar hotel.
Shanum pun ikut terdiam bingung.
"Ada apa?"tanya Shanum polos, tak sadar jika saat ini pria di sebelahnya begitu gemas dengan permainan bibirnya yang begitu membuat jantungnya berdebar cepat.
Rangga tiba-tiba menarik tengkuk Shanum lalu mencium bibir mungil nan lembut yang selalu menjadi candunya.
Shanum yang tiba-tiba mendapat serangan panas itupun hanya berkedip lalu ikut hanyut dalam permainan Rangga yang kini berubah semakin panas.
Rangga melepas permainannya saat Shanum tampak terengah.
"Sudah ku bilang, jangan pernah mainkan bibir ini jika kau tak ingin menerima akibatnya"ucapan Rangga yang terdengar berat karena kini ia pun tengah berusaha menahan gejolak yang kini terasa panas di tubuhnya.
Rangga menahan nafas panjang, berusaha menenangkan kembali Arjunanya yang tiba-tiba bangun dari tidur nyenyaknya.
"Kita teruskan nanti di mansion"ujar Rangga sambil mengusap saliva yang menempel di bibir Shanum.
Shanum menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rangga, tak dapat di pungkiri bahwa dadanya pun kini berdebar cepat bahkan daerah inti tubuhnya berkedut kencang.
Dengan lembut Rangga mengusap rambut Shanum dan berusaha menenangkan bagian di bawah sana yang tadi sudah menegang sempurna.
__ADS_1