
"Run apa kau sudah menyelidiki semua tentang kecelakaan yang menimpa putriku?"
Hardy menatap Harun intens, sejak kejadian kemarin Hardy sudah me wanti-wanti Harun agar segera menuntaskan masalah ini.
Harun menghela nafas panjang, menjadi asisten yang di percaya oleh Hardy adalah suatu keberuntungan yang amat besar baginya, untuk membayar kebaikan pria paruh baya di hadapannya itu nyawanya pun tak akan cukup.
Setelah memerintahkan beberapa orang untuk menyelidiki CCTV di mansion dan sekitarnya,Harun menemukan sisi terang dan bukti bahwa pelaku inti adalah orang suruhan Hendy.
Bahkan beberapa foto sudah ia dapat sebagai bukti di mana Hendy sedang melakukan transaksi dengan sang pendamping sopir mobil box yang menculik Shanum.
Bahkan dari keterangan yang di berikan oleh sang sopir bahwa ternyata dirinya hanyalah orang yang di suruh untuk mengemudi mobil box terbuka tersebut tanpa mengetahui bahwa ternyata ada rencana penculikan yang tak ia ketahui.
Dan sopir mobil box tersebut pun menyanggupi jika suatu saat di jadikan saksi di persidangan.
"Baiklah, kau harus berikan penjagaan untuk sopir itu agar Hendy tak berbuat sesuatu yang membahayakan hidup sopir itu"perintah Hardy tegas.
Harun pun menggangguk.
"Kalau begitu kumpulkan semua bukti-bukti dan setelah Shanum pulih dan sopir itu pun mampu bersaksi di persidangan maka kita harus menyered Hendy saat itu juga"nada suara Hardy tegas dan tajam.
"Apa tuan sudah siap tentang kemungkinan yang akan tuan Hendy dapat jika kita menyerednya di persidangan?"tanya Harun.
Mengetahui jiwa lembut Hardy yang tak akan tega menjebloskan saudara kandungnya sendiri ke penjara Harun pun bertanya dengan ragu.
"Sudah ku pikirkan matang-matang Run, sudah cukup Paramitha yang menjadi korban, aku tak mau kehilangan putriku satu-satunya, perbuatan Hendy sudah di luar batas, dan aku tak bisa tinggal diam lagi, Hendy harus di hentikan"tegas Hardy.
Sementara di rumah sakit, hari beranjak sore saat yang di nanti oleh Rangga, mata yang terasa sepat pun ia tahan karena kejadian pagi tadi tak ingin terulang membuat ia melewatkan tugas yang mengasikkan itu.
"Sayang sst, bangun udah sore"bisik Rangga di telinga Shanum yang masih terpejam karena sedang istirahat siang.
"Hmm"menjawab singkat namun matanya masih terpejam.
"Sayang...bangun..udah sore"kembali bisikan Rangga kini terdengar bernada panjang.
Shanum membuka matanya, matanya berkedip mengarah jam dinding.
"Masih jam tiga "ujarnya lalu kembali memejamkan matanya.
"Ahh aahh"teriak Shanum terkejut karena merasakan jepitan tangan di pipinya.
"Makanya bangun sayang, waktunya kamu di lap"bisik Rangga terdengar horor di telinga Shanum.
Otaknya kini mulai bekerja, rupanya Rangga sengaja menunggu waktu.
"M mana mba suster nya?"tanya Shanum pura-pura polos dan lupa akan janji yang di ucapkan pagi tadi.
__ADS_1
Rangga merapatkan giginya, rupanya kelinci kecilnya sedang berusaha melarikan diri dari perjanjian yang telah mereka buat.
Tok tok tok.
Rangga iini tersenyum senang, karena pasti itulah sang perawat yang bertugas membawakn peralatan untuk membersihkan badan pasien.
Permisi Nona Shanum, sekarang saatnya anda mandi sore.
"Biar suami saya saja sus yang membersihkannya" ujar Shanum karena tak ingin lagi di acuhkan oleh Rangga hanya karena terlewatkan kesempatan mengelap tubuhnya.
Rangga barusaha tetap tenang menahan debaran jantungnya, hatinya begitu girang, kupu-kupu beterbangan di dadanya.
Rangga kini telah siap lahir dan batin, akan melakukan tugasnya dengan benar, kedua lengan bajunya sudah di singsikan dan tempat air hangat beserta perlengkapan semua sudah di tata di samping brangkar Shanum.
Tok tok tok
Rangga dan Shanum saling pandang dan melihat ke arah pintu.
"Permisi Nyonya Shanum, selamat sore, kali ini saya yang bertugas untuk memeriksa kondisi Nyonya"sapaan ramah dari dokter jaga sore ini.
Shanum tersenyum menyambut sang dokter yang masih terlihat muda mungkin beberapa tahun lebih tua dari Shanum.
Namun sambutan berbeda terlihat dari raut wajah Rangga yang terlihat datar dan dingin.
Sang dokter yang tak menyadari perubahan sikap Rangga pun terlihat santai dan melakukan tugasnya dengan cepat.
Ceklek.
Rangga dengan cepat menutup kembali pintu ruangan serelah kunjungan dokter berakhir.
"Sayang kamu kenapa?"tanya Shanum melihat tingkah aneh Rangga.
"Dokternya lama nggak pulang-pulang"jawab Rangga polos.
"Tuh kan air hangatnya sudah dingin sayang"Tangan Rangga memeriksa suhu dalam baskom yang kini sudah berubah menjadi dingin.
"Apa aku minta air hangat yang baru ke perawat saja?"tanya Rangga memandang Shanum.
"Nggak apa-apa kok, lagian aku sudah sehat kata dokter juga, tinggal luka di bahuku kering".
"Tapi kan kamu nanti kedinginan sayang"
Shanum menggelengkan kepalanya dengan pasti.
"Sudah ayo cepetan makin lama makin dingin nih airnya"ujar Shanum melihat Rangga masih terlihat ragu.
__ADS_1
"Ehm oke"
Meski wajahnya terlihat tenang namun sebenarnya Rangga sangat gugup.
Satu persatu kancing baju Shanum di bukanya setelah mengelap kedua tangan Shanum, meski rasa pusing di kepalanya berkurang namun dokter menganjurkan agar tidak banyak berdiri dulu agar pemulihan berjalan cepat.
Maka itu Rangga mewanti-wanti Shanum untuk selalu meminta bantuannya apapun itu agar geraknya tak terlalu menguras energi dan mengganggu penyembuhan nantinya.
"Kenapa di tutup sayang?"tanya Rangga saat Shanum menutup area dadanya dengan handuk.
"Ehmm kalau bagian ini, biar aku saja ya?"pinta Shanum dengan nada memohon.
"Sstt, kau serahkan semua pada suamimu ini oke, kau duduklah dengan tenang"jawab Rangga dengan santai lalu menyingkirkan tangan Shanum yang menutupi dadanya.
Terpampanglah pemandangan indah yang selalu menggoda tidurnya.
Merah muda, gumam hati Rangga, sementara Shanum sudah memejamkan matanya dengan kuat.
Rona wajah Shanum kini berwarna merah dan panas dingin tubuhnya.
Rangga tersenyum senang, seperti dugaannya, kegiatan itu begitu mengasikan, meski belum menikmati malam pertama tapi melihat dengan jelas aset berharga yang kini sudah sah ia jamah membuat mood booster Rangga kini membaik.
Dengan gerakan lembut dan perlahan usapan-usapan tangannya menyapu area bagian atas Shanum.
"Kenapa kau masih malu sayang, tidak lama lagi kita akan saling melihat tubuh kita masing-masing, saling mengusap mengecup me..."
"Cukup udah cepetan lama banget"Shanum dengan ceoat memotong kalimat yang makin frontal dari mulutnya.
Rangga hanya tersenyum gemas.
Andai saat ini mereka berada di ranjang dan Shanum dalam keadaan sehat sudah tentu Arjunanya sudah bertarung dengan sengit mengeluarkan larva mautnya.
Tenang wajahnya namun di balik itu Rangga tengah menahan sekuat tenaga hasrat sang Arjunanya yang sejak tadi sudah menegang sempurna.
Cupp
"Aahhkk"Shanum sontak membuka matanya dan muulutnya mengangga saat dengan cepat Rangga mengecup puncak dadanya dengan lembut.
Dengan senyum puas Rangga segera memakaikan kain penutup dada dan baju sang istri, karena untuk tubuh bagian bawahnya Shanum menolak keras, ia ingin ia sendiri yang akan membersihkannya di kamar mandi.
Shanum yang masih dalam keadaan shock masih terdiam membeku, gelenyar lembut kini menjalar dadanya, bahkan bagian inti tubuhnya kini berdenyut hebat.
Cup.
Kembali Rangga mengecup puncak kelapa Shanum,ia tahu saat ini sang istri masih gugup menata jantung karena ulah jailnya.
__ADS_1
"Aku sudah tak sabar ingin memakanmu sayang, lekaslah sembuh dan kita pulang"bisikan mengerikan membuat Shanum meremang.