Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Adikku


__ADS_3

Deru suara mesin mobil memasuki parkir mansion.


Waktu menunjukan pukul delapan malam, Rangga bergegas ke lantai atas menuju kamarnya.


Ceklek.


Rangga melangkah ke arah Shanum yang seperti biasa, tertidur di sofa dengan layar televisi yang masih menyala.


Di usapnya puncak kepalanya lembut, namun gerakan kecilnya membangunkan sang istri yang kini mulai menggerakan kelopak matanya.


"Ehhm, sudah pulang sayang?" sapa nya dengan suara serak.


Rangga mengangguk pelan," Kau sudah makan?" tanyanya pada sang istri, dan Shanum pun menggeleng pelan.


"Ya sudah, tunggu aku mandi dulu, kita makan bersama" ujar Rangga.


Setelah tak lebih dari lima belas menit, keduanya pun keluar menuju ruang makan.


"Apa hari ini kerjaanmu begitu banyak, hingga baru pulang jam segini" tanya Shanum sambil menyendokan nasi untuk Rangga.


"Tidak, hanya ada urusan penting dengan David."


"Kenapa dengan asistenmu itu memangnya?"


Rangga menatap Shanum yang sedang menunggu jawaban darinya, lalu ia pun menceritakan apa yang sedang terjadi.


Entah bagaimana ia pun tak mengerti, David kini berurusan dengan Linda hingga akhirnya membuahkan hasil dengan adanya janin di perut pimpinan Testafood itu.


Bahkan baru kemarin malam ayah mertuanya menceritakan sosok Lefrant yang tegas dan berwibawa, serta bertangan dingin, membuat dirinya begitu di segani oleh para pengusaha lain.


Kini Rangga terpaksa harus menelan pil pahit karena terpaksa harus berurusan dengan Lefrant, kaka dari Linda sendiri.


Sedangkan Shanum tak henti-hentinya mengusap dada mendengar cerita sang suami, bagaimana mungkin David dan bu Linda ternyata ada affair di belakang, mereka menutup hubungan dengan begitu rapat, bahkan Rangga yang sebagai atasannya sendiri pun tak menyadari hal itu.


"Jadi kau yang akan melamarnya untuk David besok?" tanya Shanum.


"Ya, aku kasihan padanya, kedua orang tuanya selalu sibuk dan tak mau tahu urusan anak satu-satunya itu, dan mungkin Lefrant mau memaafkan dan menerima David jika aku yang melamar adiknya."


"Siapa yang akan kau lamar?."


Shanum dan Rangga secara serentak menengok ke arah asal suara yang tak lain milik ayah Hardy yang baru datang dari arah pintu masuk.


Glek.


Rangga menelan ludah kasar, makanan yang baru masuk ke dalam mulutnya langsung meluncur indah masuk ke tenggorokan tanpa sempat ia kunyah.

__ADS_1


"Uhuk uhukk."


"Ini minum sayang."


Shanum dengan cepat menyodorkan segelas air minum ke suaminya.


Hardy menatap Rangga dengan tatapan tajam.


"Apa ada cerita yang terlewatkan olehku Ngga?" tatapan Hardy tajam ke menantunya.


Shanum memegang tangan suaminya erat, dan menganggukan kepala tanda menyetujui agar Rangga menceritakan semuanya.


Dengan tenang Hardy mendengarkan semua penuturan menantunya, tentang masalah yang kini sedang asistennya hadapi, dan tentu saja itu menyangkut nama baik Wijaya Corp juga.


Hardy menghela nafas panjang "Lalu kapan kau akan melamar adik Lefrant?"


"Rencananya besok malam jam tujuh Yah."


Hardy manggut-manggut, ada sedikit rasa bangga di hatinya melihat kepedulian sang menantu pada asistennya itu.


Karena sudah makan di luar, Hardy pun masuk ke kamar untuk istirahat, meninggalkan Shanum dan Rangga yang hanya bisa saling pandang.


Setelah menyelesaikan makan malam, pasangan tersebut pun kini memasuki peraduan untuk beristirahat.


Para pelayang mansion yang ada enam orang sudah memulai pekerjaannya masing-masing seperti biasa, dua tukang masak dapur mansion sudah memulai memasak makanan, untuk Hardy dan Shanum yang mereka buat berbeda.


Jika Rangga yang merupakan pemakan segala, alias tidak pilih-pilih makanan tentu saja bisa menikmati makanan Shanum atau pun hardy.


Jika Hardy sama sekali tak menyukai pedas maka lain halnya dengan Shanum yang begitu menyukai makanan bercita rasa pedas, namun karena perintah Rangga dan Hardy, semua bibi di larang untuk membuat makanan yang Shanum minta.


Karena kehamilannya, terpaksa Shanum harus menghindari dulu makananan pedas kesukaannya, sampai bayinya lahir.


Rangga yang sudah berpakaian rapi menuruni tangga lantai atas bergandengan tangan dengan Shanum, sementara Hardy karena ada suatu kepentingan, berangkat lebih awal dengan Harun sang asisten tanpa sarapan terlebih dahulu.


"Sayang berarti nanti malam kau akan pergi ke mansioan Bu Linda?" tanya Shanum.


Rangga mengangguk.


Sebenarnya Shanum ingin bertemu dengan wanita itu, sekedar untuk memberinya semangat dan berbagi cerita, Shanum tahu saat ini pastilah Linda sangat membutuhkan seorang teman untuk berbagi sedihnya.


Namun Rangga melarangnya karena suasana hati Lefrant sedang tidak baik-baik saja.


Rangga melajukan mobil menuju gedung Wijaya Corp, ia masih memberi ijin pada David untuk absen hari ini, ia tak ingin asistennya itu menjadi bahan omongan para karyawan karena luka bekas pukulan Lefrant yang masih terlihat jelas.


Shanum duduk termenung di taman mansion, hatinya pun di liputi kegundahan, di tatapnya layar ponsel di mana nama Linda sudah siap untuk ia hubungi.

__ADS_1


"Bu Linda apa kabar?" tanya Shanum lewat pesan singkat.


"Baik bu, apa bu Shanum sedang sibuk? bolehkah saya menghubungi bu Shanum? Saya ingin ngobrol tapi nggak ada teman."


Sontak kedua mata indah Shanum berbinar ceria, benar kata hatinya, Linda pastilah sedang merasa kesepian.


Tanpa menunggu waktu lama, Shanum pun mengalihkan pesan menjadi panggilan vidio.


Benar saja wajah Linda terlihat sangat sayu dan kedua matanya masih tampak sembab.


Sementara Lefrant di ruangannya tampak fokus dengan gawainya.


Dari informasi yang di kirim oleh anak buahnya, di ketahui bahwa David merupakan anak semata wayang dari keluarga kaya namun karena kesibukan kedua orang tua membuatnya bagai hidup sebatang kara, tak pernah ia mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya.


Lalu apakah dengan adanya calon cucu yang akan hadir pun tak dapat membuat mereka sedikit lebih memperhatikan putra mereka, gumam Lefrant dalam hati.


Sungguh Lefrant tak ingin nasib adik satu-satunya tak menadapat sambutan hangat dari kedua calon mertuanya, apa jadinya jika mereka nanti ber rumah tangga tanpa persetujuan dari orang tua calon suaminya itu.


Untuk apa harta banyak, jika tak ada kasih sayang, gumam Lefrant.


Tangan Lefrant mengepal keras.


Tak akan ku biarkan hidup adiku sengsara tanpa kasih sayang, jika mereka tak menerimanya sebagai menantunya maka akupun tak akan mengijinkan pernikahan ini, batinnya geram.


Brakk.


Terdengar suara keras meja yang di pukul tangan kekar Lefrant.


Tok tok tok.


"Masuk."


"Maaf pak, ada meeting tiga puluh menit lagi dengan perusahaan Xenda Group" kata sekertaris Lefrant dengan wajah tegang.


"Batalkan semua meeting hari ini, undur semuanya, kalau ada yang menolak maka batalkan pengajuan kerja sama kita" ucapnya tegas.


"B baik pak" sang sekertaris pun keluar dengan bafas lega, wajah tampan Lefrant sungguh menakutkan, entah masalah apa yang sedang di hadapinya, batin sang sekertaris.


Selama satu hari penuh hati dan pikiran Lefrant sama sekali tak fokus pada pekerjannya, pria itu masih saja memikirkan bagaimana nasib sang adik nantinya, melepasnya untuk menjalani kehidupan rumah tangga baru, sungguh sangat berat bagi Lefrant.


Jam di dinding menunjukan pukul lima sore, iapun bergegas pulang ke mansion.


Kereta besinya ia lajukan dengan kecepatan sedang.


Tak akan ku lepaskan adikku, jika kalian tak meng inginkannya sebagai anggota keluarga baru kalian.

__ADS_1


__ADS_2