
Shanum terbangun saat rasa dingin menusuk kulitnya.
Di lihatnya jam dinding yang menunjukan pukul tiga pagi.
Langkahnya perlahan menuju kamar mandi, panggilan alam yang tak dapat lagi di tahannya membuat tidurnya terganggu.
Shanum menarik selimut yang teronggok di sebelak kaki Rangga lalu menutupkannya kembali ke tubuh suaminya hingga sebatas dada.
Langkahnya kini ia lajukan ke meja, dimana ia selalu menaruh gelas dan teko berisi air bening untuk persediaannya di kala malam.
Sejak kehamilannya Shanum sudah menghentikan kebiasaan meminum air dingin dari kulkas.
Di teguknya perlahan hingga kerongkongan yang terasa kering kini mulai nyaman kembali.
Dengan pelan Shanum kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.
Tak ingin menganggu sang suami yang masih terlelap Shanum pun berusaha menyambung kembali tidur nya yang sempat terpotong.
Serasa baru beberapa menit Shanum terlelap dalam tidur nya, tiba-tiba di kejutkan dengan suara gemericik air yang terdengar nyaring dari kamar mandi.
"Maaf, lupa ku matikan" ucap Rangga segera kembali masuk ke kamar mandi untuk menutup kran yang masih mengalir.
"Heum," Shanum mendehem pelan.
Rangga telah rapi dengan jas hitam menutupi kemeja putihnya yang pas di badan.
Terlihat semakin tampan dan berwibawa.
Tatapan Shanum terus mengikuti langkah Rangga yang berada di depan cermin tengah memasang dasi.
Dengan cekatan Shanum segera meraih dan merapihkan letak dasi di leher Rangga.
"Ehm terima kasih, aku berangkat dulu muacch" kecupan ringan mendarat di puncak kepala Shanum.
"Sayang kau tidak sarapan dulu?" Shanum mengikuti langkah sang suami yang tampak tergesa.
"Eham tak perlu, aku sudah pesan pada David untuk sekalian membawa sarapan, ada meeting penting pagi ini" sambung Rangga lalu melambaikan tangan dan keluar dari mansion.
Shanum memandang kepergian sang suami, ia merasa sikap sang suami yang berubah datar dan dingin tak seperti biasanya.
Apa karena kejadian kemarin?, pikir Shanum.
Tak ingin terlalu larut dengan pikiran yang akhirnya menganggu suasana hatinya, Shanum segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Perut yang sudah merasa keroncongan membuat Shanum untuk segera mengakhiri aktifitas mandinya.
"Bi tolong buatin jus alpukat ya." Shanum merasa perutnya pagi ini sedikit tak nyaman, meminum jus alpukat mungkin akan sedikit membantu memulihkan ke tidak nyamanannya.
__ADS_1
"Bi tolong bawain jus ke lantai atas ya?"
"Baik non"
Mata indahnya tertuju ke bungkusan tote bag belanjannya yang belum satu pun ia buka dari kemarin.
Di bukanya satu persatu lalu di cobanya di depan cermin.
Senyumnya merekah, semua baju pilihannya sunggun nyaman di pakai, tak salah ia memilih butik itu untuk membeli baju dasternya.
Namun sudut mata Shanum melihat ke arah salah satu tote bag yang berisi gaun yang bukan ia pilih.
Di lihatnya dengan seksama, memang ukuran gaun cantik itu sesuai dengan tubuhnya namun ia merasa tak memilihnya kemarin.
Apa ini adalah belanjaan pembeli lain yang tak sengaja di bawa oleh pengawalnya?, tapi bukankah yang menyerahkan tote bag adalah karyawan butik, jadi tidak mungkin pengawalnya yang salah ambil, pikir Shanum.
"Non, ini jusnya, apa non mau sarapan sekarang?"tanya sang bibi sambil menyodorkan minuman yang di pesan nyonya muda mereka.
"Ehm nanti saja bi, begah perutku kalau habis minum jus lalu langsung sarapan."
"Baik non."
"Eh bi tunggu."
Bibi pelayan pun menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Shanum.
"Apa pak pengawal yang kemarin ikut ke mall bersamaku ada di depan?" tanya Shanum.
"Ehm setahu bibi hari ini giliran mereka libur non, jadi baru masuk besok mungkin non" jawab bibi.
"Memang ada apa dengan mereka non, apa mereka melakukan kesalahan pada non Shanum?"tanya bibi tampak panik.
"Oh tidak bi, mereka tidak melakukan kesalahan kok, aku hanya ingin menanyakan apa mereka salah bawa tote bag, karena aku merasa tidak memesan gaun ini bi" jelas Shanum.
Bibi pun mengangguk mengerti.
"Apa biar bibi telfon aja non, untuk nanyain pada mereka" usul bibi.
"Ehm nggak usah bi, biar besok aja aku nanyain langsung, kalau di telfon kan mereka nggak paham tote bag mana yang bukan miliku yang mereka bawa" terang Shanum.
"Baik non, kalau tidak ada apa-apa lagi bibi mau ke dapur lagi"
"Oke bi, terima kasih jus nya ya bi."
"Iya non."
Shanum pun membereskan baju dan tote bag yang kini berserakan, jika memang pengawalnya salah ambil maka ia yang harus mengembalikan ke butik itu.
__ADS_1
Dengan perlahan Shanum menuruni tangga lantai dua mansionnya.
Setelah menghabiskan segelas jus, perutnya terasa penuh, mungkin dengan berjalan di taman samping mansion akan membuat tubuhnya terasa sedikit bugar.
Memang sudah sangat Jarang Shanum meregangkan otot tubuh, sering badannya merasa pegal dan ngilu, apalagi usia kehamilannya semakin membesar.
Semenjak kehamilan tri mester pertama hingga kini, entah mengapa perasaan malas selalu menghinggapi nya meski hanya untuk berjalan ringan memutari taman.
Udara yang masih terasa sejuk, membuat Shanum menghirup panjang udara pagi lewat hidung mancungnya.
Tanganya mengusap perut dengan lembut.
Kita berolah raga pagi ini ya sayang, biar kita berdua sehat, biar kelak ibu bisa menyambut kedatanganmu dengan tubuh segar oke, kita mulai ..
Gerakan mulut mungil Shanum yang berkomat kamit tampak begitu lucu.
Perlahan ia melangkah memutari taman mansion.
Satu putaran sudah terlampaui, senyum Shanum terbit.
Satu putaran sudah kita selesaikan nak, kita berdua hebat.
Shanum bermonolog sendiri lagi sambil berjalan memutari taman untuk yang kedua.
"Non, istirahat sebentar, makanlah dulu, nanti den Rangga marah kalau non belum minum obatnya" ucap sang bibi yang tergopoh-gopoh menuju Shanum dengan membawa segelas air bening untuk nona kesayangan mereka yang kini sudah menjadi seorang Nyonya Muda.
"Iya bi bentar lagi, tanggung tinggal setengah putaran lagi" ujar Shanum lalu kembali melangkah setelah meneguk habis minuman yang di bawa oleh bibi.
Keringat mulai keluar dari pori-pori di kening Shanum.
Akhirnya , ucapnya lega.
Untuk permulaan dirasa cukup, batinnya.
Bibi pelayan segera menyodorkan tisu untuk mengelap keringat yang sudah membasahi kening nona muda mereka.
"Non makan dulu, bibi sudah nyiapin makanan yang non suka, apa non mau makan dulu apa mandi dulu?"tanya bibi semangat.
"Ehm aku mandi dulu bi, gerah dan lengket badanku, bau lagi" ujar Shanum sambil menciumi baju nya sendiri.
"Eh non kalau mau mandi, tunggu keringat di badan non kering dulu, baru mandi, bahaya non, nggak baik untuk kesehatan" pesan bibi bijak.
"Ehm ya udah aku makan dulu deh bi, boleh kan?" tanya Shanum polos bagai seorang anak yang minta ijin pada ibu nya untuk pergi main.
"Boleh dong non, lagian tadi pagi kan non Shanum sudah mandi" jawab bibi gemas.
Meski nona muda mereka sudah dewasa bahkan kini sedang mengandung, tapi wajahnya masih terlihat begitu menggemaskan, apalagi kini kedua pipinya semakin chuby.
__ADS_1
"Oiya bi tolong ambilin juga asinan buah yang di kulkas, aku mau makan" pinta Shanum lagi.