
Hardy merasa gelisah, entah sudah berapa kali langkah kakinya berjalan memutari ruang tamu itu.
"Tuan, apa saya perlu membuat teh hangat untuk Tuan"bibi pelayan yang menyadari kegelisahan sang Tuan Besar akhirnya memberanikan diri menawarkan minuman hangat agar dapat menenangkan hati Tuan Besarnya itu.
"Ehmm boleh bi"jawab Hardy singkat.
Sang pelayan lalu bergegas menuju dapur mansion.
Sebenarnya ia ingin membicarakan tentang kelanjutan hubungan antara Shanum dan Devon, yang kini telah kandas.
Hardy tak ingin saudara-saudaranya yang mengincar Wijaya Corp, kini merasa memiliki kekuatan untuk menggulingkan posisi CEO yang kini di duduki putrinya itu.
Jika mereka mengetahui pertunangan putrinya itu telah kandas, bukan tak mungkin hal itulah yang akan menjadi senjata musuhnya yang paling ampuh untuk merebut Wijaya Corp.
Karena menurut peraturan yang telah di tandatangani oleh para direksi bahwa orang yang menjabat sebagai CEO harus sudah memiliki pendamping hidup.
Dan Hardy yang saat itu menganggap putrinya itu masih terlalu belia untuk menikah, mengajukan syarat agar pernikahan dapat di tunda dahulu selama dua tahun.
Namun kini, kenyataan berbicara lain.
Devon telah menghianati nya, memutuskan pertunangan hingga cukup sampai di sini, karena ternyata ia lebih memikih kembali pada seorang gadis yang ternyata adalah cinta pertamanya.
Tok tok tok.
__ADS_1
Hardy bergegas melangkah menuju ke pintu.
"Biar aku saja yang membukanya bi" ucapnya saat melihat seorang pelayan hendak melangkah menuju ke arah pintu.
"Ayaahh, ada apa menyuruhku pulang segera, apa ada hal yang begitu penting, hingga kau harus mengganggu keasikan kami"
Ucap Shanum dengan nada merajuk karena merasa kesal, moment istimewa bersama ibu angkatnya itu terganggu.
"Hmm, duduklah dulu Sha"jawab Hardy pada putrinya,namun kedua matanya memandang sosok perempuan yang berada di belakang Shanum yang tangannya di genggam erat oleh putrinya itu.
Rangga mengangguk hormat pada Hardy, begitupun Hana.
Namun seakan waktu berhenti berputar saat netra Hana bertemu dengan Hardy.
"Hana"
Ucap keduanya secara bersamaan.
Rangga dan Shanum pun hanya terdiam melihat keanehan tingkah keduanya.
"Ada apa ini, kenapa tuan Hardy menatap ibu seperti itu, jangan-jangan...ya tuhan takdir apalagi ini, jangan sampai mereka adalah sepasang mantan kekasih dahulunya".
Itulah harapan Rangga saat ini, melihat interaksi keduanya, jelas terlihat bahwa mereka memiliki hubungan yang tak biasa di masa lalu.
__ADS_1
"Masuklah, sudah berapa puluh tahun kita tidak bertemu Han, bagaimana kabarmu?"
Hardy menyalami Hana dengan erat begitupun Hana, dengan senyum bahagia menyambut jabatan pria paruh baya di depannya, membuat sang putra kini merasa ketar-ketir.
Shanum masih terpaku saat melihat Ayahnya dengan tenang menggandeng erat tangan bu Hana lalu menuntunnya agar duduk di kursi.
Rangga menatap Shanum dengan wajah penuh kebingungan.
Perasaan hatinya kini berubah tak menentu, debaran jantungnya seakan ingin meledak.
"Bi...bibi,tolong buatkan minuman istimewa bi, cepat bi"perintah Hardy dengan semangat.
Rangga yang merasa pegal karena masih berdiri tegak di samping Shanum, kini ikut melangkah ke kursi di sebelah sang ibu.
Entah kenapa perasaannya kini begitu cemas, satu do'a yang diam-diam ia panjatkan berkali-kali pada sang Pencipta.
"Tuhan Engkau maha Kuasa, yang dapat membolak-balikkan hati, tolong jangan biarkan mereka kembali bersatu, jangan biarkan rasa cinta kembali bersemi di antara mereka".
Shanum terlihat bingung melihat bibir Rangga yang berkomat-kamit dan bergerak tanpa suara.
Hardy terlihat begitu bahagia bertemu Hana,begitupun sebaliknya.
Tiba-tiba pandangan Hardy beralih pada Rangga, netranya kini memandang lekat ke arah pemuda di samping Hana.
__ADS_1
"Pantas aku seperti mengenalmu"ucap Hardy dengan senyum bangga lalu melangkah ke arah Rangga dan merengkuh tubuh kekar Rangga ke dalam pelukannya.
"Tuhan,apakah dia ayahku sesungguhnya, Apakah aku dan Shanum saudara kandung?"