
Terima kasih untuk yang sudah like, koment, dan vote nya, semoga sehat selalu, happy reading 😘😘😘😘
💦💦💦💦💦
Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya selama perjalanan, Shanum yang tengah sibuk dengan berbalas pesan dengan Rangga, sama sekali tak menunjukan sikap sekedar beramah tamah pada Daren.
Sementara Daren yang nota bene pria cuek dan dingin, tampak segan untuk memulai pembicaraan, apa lagi ini baru pertama kali ia bertemu dengan Shanum.
"Ehm, apa masih jauh Sha?"tanya Daren memberanikan diri, membuat Shanum mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Shanum memandang jalan di depannya.
"Ehm sudah dekat, sekitar lima kilometer lagi" jawab Shanum.
Daren manggut-manggut sambil memutar otaknya, pertanyaan apalagi yang harus ia ucapkan agar gadis di samping nya tak lagi diam membisu.
"Ehm apa sabtu besok kau ada acara Sha?" kali ini Daren memberanikan diri.
Shanum memandang manik mata Daren.
"Maaf kak, sabtu besok aku ada acara" tolak Shanum halus.
"Ehm, bagaimana kalau hari minggu nya?" Daren tetap gigih.
"Hari minggu aku tidak ada acara, tapi aku akan pergi dengan orang lain" jawab Shanum jujur, karena memang hari minggu Rangga mengajaknya ke rumah sang ibu di kampung.
"Ohh ya sudah mungkin lain kali" Daren berucap dengan tenang.
Sebenarnya Shanum ingin mengatakan sejujurnya bahwa ia sudah bersuami, namun ia tak ingin terlalu percaya diri hingga menganggap Daren menyukainya, mungkin saja pria itu hanya sekedar ber ramah tamah dengannya karena ayah mereka pun bersahabat, gumam Shanum.
Tidak seperti gadis lain yang tampak agresif dan dengan senang hati pasti akan menerima ajakan Daren, namun berbeda dengan Shanum, ia masih mempertimbangkan ajakannya, mungkin perlu pendekatan lebih lanjut, gumam Daren dengan senyum senang.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya sampailah di mansion tujuan.
Daren turun lalu memutari mobil dan membuka pintu samping agar Shanum turun.
Dengan kikuk Shanum melangkah, tak biasa bagi Shanum mendapat perlakuan dari orang lain yang begitu manis.
"Terima kasih" ucap Shanum dengan kepala mengangguk ringan.
Daren langsung pamit padahal di dalam hatinya ingin berkunjung sejenak dan berbincang dengan Shanum, namun apa daya, Shanum sama sekali tak mengatakan basa-basi agar menyuruhnya mampir ke mansion.
Ah mungkin dia tak enak karena ayahnya tidak berada di rumah, dan malam pun sudah larut, hati Daren mencoba menghibur diri.
Kau memang berbeda dari yang lain, batinnya, lalu menyalakan mesin mobilnya menuju tempat Hardy dan ayah Darmawan.
Darmawan tersenyum melihat kedatangan sang putra.
"Ku perhatikan wajahmu kini lebih ceria Ren"sapa Darmawan membuat sang putra menarik garis lengkung membentuk senyum manis.
__ADS_1
"Ehm kau sangat memahamiku Yah"jawabnya singkat.
"Apa om Hardy sudah pulang?" sambung Daren.
"Ya beberapa menit yang lalu, bagaimana menurutmu putri teman ayah itu?"tanya Darmawan dengan senyum smirk.
Instingnya tak salah, memang sengaja ia mengajak sang putra ikut bergabung dengannya karena ada maksud lain yaitu ingin memperkenalkan putri temannya itu dengan Daren.
Sudah berumur 28 tahun dan cukup bagi seorang lelaki untuk memiliki pasangan hidup.
Sibuk dengan urusan pekerjaan, itulah satu alasan yang selalu Daren katakan jika Darmawan memintanya untuk segera menikah.
Dan entah berapa kali acara kencan buta yang Darmawan rencanakan akhirnya gagal, tak ada satu pun gadis yang mampu membuatnya tertarik.
Namun saat pertama kali melihat Shanum, entah kenapa Darmawan melihat putranya begitu bersemangat, meski tak menyapa namun beberapa kali terlihat Daren mencuri pandang ke arah Shanum.
"Yah, apa menurutmu Shanum akan tertarik padaku"tanya Daren penuh harap.
Darmawan tersenyum, "Siapa yang berani menolak pesonamu Ren, sabarlah, dekati pelan-pelan dan beri dia perhatian ektra agar Shanum tahu jika perasaanmu lebih dari sekedar teman".
Daren tersenyum mendengar kalimat sang ayah.
Semangatnya kini semakin membara, Shanum kini menjadi titik ujung pencariannya.
Hati yang telah lama beku kini kembali menghangat.
Sementara itu di mansion.
Suara nafasnya pun terdengar teratur.
Shanum bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tak membutuhkan waktu lama untuknya.
Masih dengan bathrobe Shanum melangkah ke lemari di kamar.
Langkahnya tertahan saat melihat tubuh Rangga yang tertutup sebagian wajahnya oleh selimut.
Wajah tampan dengan hidung mancung dan garis hayang tegas, tangan Shanum mengusap wajah sang suami dengan lembut, bibir bergelombang yang selalu membuatnya terbuai dengan permainan lembutnya.
"Hhhmmm" Shanum terpaku di tempatnya saat tubuh Rangga menggeliat.
Nafas Shanum tertahan, sungguh memalukan jika Rangga memergokinya tengah membelai wajahnya.
Dengan gerakan perlahan Shanum menarik tangannya, namun belum sempat Shanum melakukan niatnya, tangan Rangga terlebih dahulu menariknya hingga tubuhnya jatuh menindih Rangga yang masih terbaring di ranjang.
"Apa yang sedang kau lakukan terhadap wajahku heum?"suara berat Rangga membuat Shanum diam tak berkutik.
"Kau telah mengusik tidurku, maka kau harus bertanggung jawab untuk membuatku kembali tidur"ucapan Rangga membuat bulu halus di tengkuk Shanum meremang.
"M maaf kan aku"ucapan Shanum tergagap.
__ADS_1
Mata Rangga kini terlihat tajam memandang ke arah belahan bathrobe yang terbuka, memperlihatkan kulit putih mulus dengan bongkahan daging kenyal nan lembut yang kini sudah menjadi mainan favoritnya kala sedang berdua.
Dan kini hanya terdengar ******* halus, yang lolos keluar dari mulut Shanum tanpa ia sadari.
Gerakan tangan Rangga yang mahir membuat Shanum terbang melayang dengan bonus kecupan dan gigitan nakal dari bibir Rangga.
Dengan lincah Rangga menyapu bibir lembut Shanum bahkan kini area leher pun tak luput ia absen.
Rangga menatap Shanum dengan tatapan sayu.
"Aku menunggumu sayang, kenapa kau begitu lama menyiksaku di ranjang dingin ini"ucapan Rangga seakan menusuk dadanya.
Rasa bersalah kini menggerogoti Shanum.
Rangga semakin tak bisa melepas kendali hasratanya yang kini bagai di puncak ubun-ubun.
Bathrobe yang Shanum pakai sudah tergeletak di lantai, tubuh putih yang tadi tertutup kain lembut kini berganti dengan tubuh Rangga yang tengah mengungkungnya.
Shanum membuka mata saat tak merasakan sapuan bibir dan gerakan nakal tangan sang suami.
"Sayang, kenapa berhenti?" Shanum tak dapat lagi menutupi gelenyar yang menjalar di tubuhnya.
Hasrat yang ingin segera tersalurkan membuatnya tak dapat membendung hawa panas di tubuhnya.
Rangga pun tersenyum senang.
"Jadi kau pun menginginkanku heum?"Rangga mengecup kening Shanum dengan lembut.
Shanum tak perduli dengan rona wajahnya yang kini bagai kepiting rebus, yang ia inginkan saat ini adalah kehangatan dari tubuh Rangga.
Shanum menarik tengkuk Rangga dan dengan agresif ******* bibir lembut sang suami.
Rangga menaikan alisnya, tak biasanya Shanum bertingkah seperti itu, namun hal itu tentu saja sangat menguntungkan bagi Rangga.
Rangga tetap mengikuti alur saat Shanum memintanya untuk berganti posisi.
Rangga menggeliat geli saat Shanum menyapu dada bidangnya dengan kecupan-kecupan ringan.
Sungguh tak dapat lagi Rangga menahan hasratnya yang membuncah.
Di angkatnya tubuh ramping Shanum lalu mendudukannya tepat di atas bagian inti tubuhnya yang sudah sejak tadi mengeras sempurna menunggu untuk masuk ke sarangnya.
Keduanya melenguh panjang saat Shanum dengan sempurna menyatu memasuki tubuh Rangga yang berada di bawah.
Kedua insan itu pun melewati malam panas yang panjang, menjelang pagi mereka baru menyudahi kegiatan yang memeras keringat itu, setelah untuk pelepasan yang ke tiga kali.
Shanum terkulai lemas dalam pelukan Rangga, berbagai gaya sudah Rangga praktekkan membuat tubuh Shanum terasa remuk.
Cupp.
__ADS_1
"Terima kasih sayang" kecupan hangat mendarat di puncak lepala Shanum yang sudah terlelap.