
Meski waktu sudah tengah hari tapi udara masih terasa dingin menusuk tulang,Devon yang sebenarnya tak menyukai cuaca di daerah pegunungan terpaksa mengikuti kemauan tunangannya untuk pergi ke villa ,dan kini badannya masih terasa menggigil meski jaket yang ia gunakan merupakan jaket tebal berbahan premiun yang tentu saja memiliki harga bukan kaleng-kaleng .
Hana yang mengetahui hal itu segera membuatkan minuman penghangat tubuh rasa jahe agar tubuh Devon tidak terlalu kedinginan .
Devon hanya dapat melihat Shanum tersenyum girang saat pulang dari kebun bersama Rangga yang menenteng beberapa buah di tangannya .
Tak pernah ia lihat Shanum tersenyum bahagia seperti itu saat bersamanya .
"Nak Devon habiskan minumannya biar badan hangat dan ini ada ubi manis rebus "bu Hana menawarkan dengan sopan ,meski dengan wajah indo campuran mungkin Devon tak pernah merasakan makanan ubi rebus .
"Oh iya bu ,trima kasih "Devon tersenyum senang ,meski dalam kesederhanaan tapi keluarga itu begitu hangat ,mungkin ini yang membuat Shanum begitu dekat dengan mereka ,di samping keadaannya yang sudah tidak lagi mempunyai seorang ibu .
Shanum di tinggalkan ibunya saat usia yang masih belia ,sejak itulah tak pernah ia rasakan lagi kehangatan dan kasih sayang dari orang yang melahirkannya .
__ADS_1
Dengan kedua pria bersaudara itupun Shanum tampak akrab bahkan Rangga yang sebagai seorang karyawan hanya memanggil nama Shanum, tanpa embel-embel sebutan 'nona' ,mungkinkah Shanum melarang Rangga dan sepertinya bu Hana dan Ardi pun tak mengetahui jika Shanum adalah seorang CEO yang tak lain bos Rangga .
"Sha ,istirahatlah biar aku yang akan membersihkan buah-buahan ini "Rangga membawa jinjingan hasil dari kebun dan mencucinya ,Shanum melangkah ke arah Devon yang duduk dengan tangan bersedekap di dadanya agar menjaga tubuhnya tidak terlalu dingin .
"Kau masih dingin Von ?"Shanum melihat tunangannya sambil meneliti wajah indo berhidung mancung itu .
"Ehmm sudah berkurang Sha ,bu Hana memberiku minuman penghangat tubuh ini "
Devon memandang Rangga "Lalu siapa dia?".pandangannya ke arah pemuda tampan hitam manis bibir tipis bergelombang.
"Dia penyelamatku ,jika tak ada dia mungkin saat ini kau hanya dapat mengenang namaku "Shanum memandang Rangga yang sedang menata buah yang telah di cucinya .
"Apa kau menyukainya ?"Devon menatap tajam tunangannya ,meski status mereka adalah tunangan karena perjodohan tapi masih bisa berubah kapanpun ,selama pernikahan resmi belum terlaksana dan Devon tahu jika Shanum menyimpan rasa kepada pemuda itu.
__ADS_1
"Hmm untuk saat ini aku tak bisa berharap lebih dari itu "mengela nafas berat,Shanum sadar jika selama ini perasaannya pada Rangga berbeda dengan rasa terhadap Devon yang tak lain adalah sang tunangannya .
Devon menatap tajam manik gadis di depannya ,ia akan melepas gadis itu jika memang cintanya milik Rangga .
"Sha ikutilah kata hatimu,bahagiakan dirimu dan jangan pernah lepaskan dia jika memang kau menyukainya "Devon berucap penuh bijak ,membuat Shanum terdiam .
Sikap Rangga yang mulai menghindar darinya ,membuat kebimbangan hadir dalam hatinya ,jika perasaanya hanya bertepuk sebelah tangan maka ia bisa apa .
"Bawalah ini nanti jika kalian pulang "Rangga membawa jinjingan buah lalu di taruhnya di dekat mobil lalu melangkah pergi menjauh agar matanya yang terasa pedih karena melihat kedekatan Shanum dengan sang tunangannya .
Shanum hanya memandang kepergian Rangga .
"Dia selalu menghindar dariku ".
__ADS_1