
Rangga keluar ruang setelah meeting selesai, namun mereka kembali mengajak Rangga untuk memasuki ruangan lain.
Rekan klien kali ini sebagian besar pengusaha muda yang masih hidup bebas.
Minum bersama, adalah kegiatan rutin setelah meeting selesai dan sukses.
Hotel Lexa yang memikiki ruang privat khusus untuk mereka yang mau membooking dengan harga fantastis dan di gunakan sebagai tempat perayaan pesta.
Berbagai minuman keras dari lokal dengan harga ratusan ribu hingga produk luar yang berharga ratusan juta, tersedia lengkap di ruangan tersebut.
Bartender cantik dengan tubuh proporsional dan baju kurang bahan yang di kenakannya sungguh membuat panas mata yang memandangnya.
Senyum manis nan menggoda selalu tersungging dari dua bartender cantik tersebut.
Alunan suara musik keras terdengar memenuhi ruangan kedap suara tersebut.
"Pak Rangga, ayo pilih salah satu dari mereka, yang mana yang bapak suka."
Sapa salah satu klien yang ternyata telah menggelontorkan dana besar hanya untuk membooking para wanita cantik untuk menemani rekan-rekan pengusaha lain.
Pria ber rambut klimis dan berkaca mata minus itu terlihat mulai bergoyang dengan tangan tak lepas dari pinggang wanita yang ia pilih.
Rangga hanya mengangguk risih.
Jangankan memilih perempuan yang berjejer di atas panggung, memasuki ruangan seperti itu pun ini adalah pertama kali bagi Rangga.
Kalau untuk minuman berkadar alkohol tinggi Rangga sempat sesekali mencicipinya, itupun beberapa tahun yang lalu, saat dirinya merasa begitu terpuruk dan kecewa karena di tinggal kawin oleh kekasih pertamanya di kampung.
Dan sejak saat itu Rangga tak pernah mau lagi meminum minuman haram tersebut, karena sudah membuatnya terkapar dua malam di dalam kamarnya dengan kepala serasa mau copot.
Di pilihnya minuman berkadar paling rendah, itupun Rangga minum hanya untuk menghormati klien lain.
Linda ketar ketir di luar ruangan menunggu Rangga, karena ruangan tersebut tanpa CCTV membuatnya tak dapat memantau situasi di dalam ruangan.
Panas dada Linda saat iringan beberapa wanita sexy bookingan memasuki ruangan di mana Rangga berada.
"Duhh Lex, gimana doong, gue takut Pak Rangga di gaet cewek gatel itu."
Linda gusar berkali-kali ia melirik ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat dengan penjagaan ketat itu.
"Ya udah lu masuk aja ke dalam." Lexa berucap santai.
"Ya nggak bakal bisa nyong, noh penjaganya serem kaya macan kelaparan."
Lexa tersenyum gemas.
"Ehm gue ada ide" lalu Lexa membisikan ke telinga Linda.
"Waaahh, lu emang temen gue yang paling cerdas."
Keduanya menuju ruangan lain, setelah beberapa menit akhirnya Linda pun keluar dengan dandanan super sexy.
Tak beda jauh dengan para wanita yang berada dalam ruangan privat tersebut, namun yang membuat Linda lebih menonjol adalah tubuh bagian atasnya yang lebih dari setengahnya tersembul sempurna bagai hendak tumpah dari wadahnya.
Dengan penuh percaya diri Linda melangkah ke ruangan tersebut dengan tangan membawa dua botol mahal yang masih bersegel.
Dua penjaga bermuka garang tersebut menelan salivanya seketika.
__ADS_1
Linda dengan senyum manis dari bibir merah menyala berhenti tepat di hadapan kedua penjaga dengan mata mengerling manja.
"Maaf tuan, saya harus mengantar pesanan ini untuk salah satu bos di dalam."
Suara Linda yang lirih dengan di bubuhi ******* nakal membuat dua pria kekar tersebut blingsatan.
Wajah garang dengan tubuh gagah, jika di rayu dengan wanita memiliki spare part ukuran xl ternyata mudah luruh.
Dengan tatapan fokus pada bagian tengah Linda, keduanya menelan saliva kasar, tangannya tampak gatal untuk mengelus benda lunak di hadapannya.
"Ehm hmm, s siapa nama bos yang memesan ini?" pertanyaan formalitas yang membuat Linda terkikik.
"Namanya pak Rangga, tuan."
Keduanya saling pandang lalu tampak sejenak berfikir, apakah benar di antara bos besar di dalam ada yang bernama Rangga.
Linda melangkah senang saat salah satu penjaga tampak mengangguk dan mengijinkannya untuk masuk ke ruangan tersebut.
Matanya menyapu ruangan, mencari sosok Rangga, suasana ruangan yang remang di penuhi asap rokok, musik pun terdengar keras menyiksa gendang telinga, sungguh ruangan yang sangat mengerikan, pikir Linda.
Langkahnya hati-hati agar tak bertubrukan dengan mereka yang sedang menari dengan badan terhuyun karena efek alkohol yang mereka minum.
Wanita yang tadi berjejer kini hanya tersisa dua orang yang masih berlenggok dengan gerakan erotis di atas panggung.
"Hei nona cantik, mau kemana kau nona?" sapa salah satu pria berdasi yang berpapasan dengan Linda.
Bau alkohol tercium dari mulutnya, tubuhnya pun tak henti bergoyang tak tentu arah.
Linda hanya mengangguk tersenyum lalu meneruskan langkahnya mencari Rangga.
Duh jangan-jangan pak Rangga sudah di ajak ngamar sama cewek gatel itu, Linda membatin cemas, matanya menatap ke beberapa pintu yang tertutup, rupanya ruangan privat tersebut di lengkapi dengan kamar-kamar tersembunyi.
"Nona, minumlah dulu, temani aku, jangan buru-buru."
"Ehm maaf tuan, saya tidak biasa minum jenis itu?"
"Halahh siapa yang percaya dengan omonganmu nona, lihatlah tubuhmu, pastilah kau terbiasa menjualnya pada laki-laki hidung belang dengan harga murah."
Linda membelalak tajam.
Sialan laki tua bangka, enak aja mulut busukmu ngomong, Umpat Linda dalam hati.
Namun ia hanya diam karena ia takut jika keberadaannya sebagai pengunjung gelap akan di ketahui dan di usir dari ruangan.
"Ehm bukan begitu tuan, saya saat ini sedang tidak enak badan, dan lambung saya kurang sehat"
"Alesan kamu, ayo lekas minum sebelum aku minta penjaga untuk mengeluarkanmu dari sini, aku tahu kau adalah tamu tak di undang."
Jederr.
Linda sontak mengikis jarak lalu mendekati pria serengah mabuk tersebut, dan meraih botol yang ada dalam genggaman pria tersebut.
"Ehm baik tuan, saya akan menemani tuan minum, ayo kita cari tempat duduk biar nyaman tuan"
Pria tersebut, tersenyum puas, dari pertama Linda memasuki ruangan ia sudah tertarik dengan ke sexy an tubuhnya.
Satu gelas kecil di teguk habis oleh Linda,senyum puas dari pria berdasi terbit.
__ADS_1
"Duduklah, temani aku minum sebentar."
"E hmm baiklah tuan."
Meski terpaksa, Linda pun akhirnya duduk di sebelah pria yang kini kedua matanya memerah.
Duhh di mana pak Rangga, kenapa di ruangan ini tidak ada, Linda membatin sambil matanya tetap mencari sosok Rangga.
"Hum minumlah."
Tawar pria berdasi itu lagi.
Glek.
Linda meminum minuman laknat itu lagi, tubuhnya terasa gerah, saat ia hendak bangkit untuk ke kamar kecil,pria berdasi tersebut menahan tubuh Linda hingga terjerembab ke kursi.
"Mau ke mana cantik, temani aku dulu.."
Suara pria terdengar mulai berat karena pengaruh alkohol yang membuatnya sempoyongan.
Linda mengipasi tubuhnya dengan kedua tangannya, Meski kain yang melekat di tubuhnya begitu minim namun entah kenapa aliran darahnya terasa panas.
Sshhh, kenapa tubuhku menjadi terasa panas, batin Linda sambil tak henti mengibaskan tangannya.
Pria di sebelahnya menyeringai tajam.
Sebentar lagi kau akan ku nikmati sayang, batinnya.
"Aduhh panas sekali" ucap Linda.
"Apa? panas, bagaimana kalau kita ke luar saja"
Linda mengangguk pelan karena kepalanya pun mulai terasa pusing.
Sshh panass, ohhh ada apa ini , ruangan ini pun terasa berputar, Linda berucap lirih dalam hati.
Tubuhnya mulai begitu panas, getar aneh menjalar di sekujut tubuhnya membuatnya menggeliat tak karuan.
"Ayo aku antar kau keluar" pria itu memapah tubuh Linda menuju ke salah satu pintu yang tertutup.
Linda yang tak menyadari bahwa itu adalah pintu kamar rahasia, hanya diam dan menurut, sementara tubuhnya kian terasa panas, perasaan aneh yang kini membuat tubuhnya bergetar.
"Bu Linda....anda di sini."
Rangga yang baru keluar dari kamar kecil tampak terkejut dengan keberadaan Linda di ruangan tersebut apalagi busana yang di kenakannya saat ini membuatnya terbelalak lebar.
"Ahh pak R rangga..akhirnya aku menemukanmu."
Suara Linda kini parau karena menahan sesuatu dalam tubuhnya yang hendak berontak.
"Maaf pak, dia teman saya, biarkan dia pulang bersama saya karena tampaknya ia sedang tak sehat."
Rangga segera meraih tubuh Linda yang terlihat lemas dengan jalan yang sempoyongan, di lepasnya jas dari tubuhnya kalu ia selimutkan ke tubuh Linda hingga menutupi bagian atas Linda yang menggoda.
Pria ber jas tersebut hanya memandang penuh kecewa, mana berani ia menolak perintah seorang wakil CEO dari perusahaan besar Wijaya Corp.
"Sialan gagal gue nikmati hidangan lezat"
__ADS_1