Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Murka Istri


__ADS_3

Shanum masih diam dengan wajah masam, berkali-kali Rangga membujuknya namun wanita yang sedang hamil muda tersebut tampak acuh dan tak perduli.


"Sayang, maafkan aku, sungguh aku tak sempat mengisi daya batre ponselku, kepalaku pusing bagaimana aku masih sempat berfikir untuk mengisi daya nya sayang" rajuk Rangga saat sadar dari pingsannya.


Shanum menatapnya dengan rasa kecewa, sesak dadanya masih terasa saat David membawa sang suami yang dalam keadaan tubuh lemah lunglai dengan baju kemeja terbuka beberapa kancingnya.


Sungguh tak pernah ia melihat sang suami seperti itu, beberapa jam dirinya menunggu dengan cemas kepulangan sang suami yang tak ada kabar, dan akhirnya pulang dalam keadaan tak sadar.


Tak ingin memperpanjang masalah karena jam menunjukan pukul satu dini hari, Shanum pun beranjak naik ke ranjang dan merebahkan tubuh di kasur besarnya tanpa memperdulikan sang suami.


Matanya masih belum bisa terpejam bahkan saat Rangga kini sudah terlelap ke alam mimpinya setelah meminum pereda nyeri kepalanya.


Pagi hari Shanum melepas keberangkatan Rangga dengan kedua kantung mata terlihat jelas di wajah cantiknya.


"Vid jangan bawa mobil kemarin" titah Shanum tegas.


"Baik bu."


"Kan sudah di perbaiki bengkel sayang" ujar Rangga.


Namun akhirnya Rangga menyerah dengan membawa mobil lain, melihat wajah tak bersahabat sang istri, juga rasa sesal yang masih bergelayut di dadanya.


"Vid bisa lu ceritain kejadian tadi malam?" tanya Rangga di perjalanan.


"Ehm, sungguh bapak tidak mengingatnya?"


Rangga menggeleng, David pun mulai menuturkan rentetan kejadian yang akhirnya membuat Nyonya Muda Shanum murka.


David yang akhirnya menemukan keberadaan Rangga di apartemen Linda dalam keadaan tak dasar, meski perempuan itu berkata jika ia terpaksa membawa Rangga ke apartemennya karena ia merasa tak enak hati jika mengantar Rangga pulang dalam keadaan tak sadar, meski David belum percaya sepenuhnya namun keberadaan John di apartemen setidaknya membuat hatinya sedikit lega, bahwa tidak terjadi apa-apa di antara bu Linda dan atasannya itu.


Rangga merutuki kebodohannya, berkali-kali ia meremas kepalanya.


Pantas saja Shanum mendiamkannya, wanita mana yang tak murka jika melihat sang suami pulang dalam keadaan tak sadar.


"Apa lu bilang kalau gue di apartemen bu Linda Vid?"


"Tidak lah pak, saya hanya mengatakan bapak di apartemen salah satu klien bapak."


David yang menyadari ke gundahan atasannya mencoba menenangkan hati Rangga.


"Tenanglah pak, jika memang bapak tidak melakukan hal-hal yang aneh maka percayalah, semua akan baik-baik saja"


"Tapi Shanum masih marah Vid, bahkan tadi pagipun ia sama sekali tak menatap ke arahku seakan aku ini tak ada di sampingnya Vid?"


David tersenyum masam.


Jangankan Nyonya Shanum, istri lain juga pasti akan berbuat seperti itu pak, masih untung bapak di bukakan pintu kamar.


Wajah murung Rangga masih terlihat jelas bahkan hingga makan siang.

__ADS_1


"Pak mau makan di kantin atau saya pesankan?" tanya David.


"Tolong pesankan saja Vid."


"Baik pak"


Dan seakan selera makan Rangga hilang karena se porsi makan siang pun masih tersisa lebih dari setengahnya.


David menghela nafas panjang.


"Mau minum kopi pak" tawarnya lagi saat membereskan peralatan makan Rangga.


"Ehm jeruk hangat saja Vid."


David pun kembali ke pantry untuk membuatkan pesanan atasanya yang sedang galau tersebut.


"Ini pak minumnya, apa ada yang lain pak?"


"Sudah cukup Vid, terima kasih."


"Vid bagaimana situasi kantor cabang, apa masalah sudah bisa di atasi?"


"Sudah pak, kondisi sudah mulai stabil, tapi saya masih tetap memantau secara rutin."


Rangga mengangguk puas.


"Pak, apa berkas sudah di tanda tangan semua?" tanya David Ragu, karena biasanya berkas yang sudah di tanda tangan akan berpindah di rak berwarna biru tapi sekarang berkas masih utuh di rak warna kuning.


Rangga tergagap dan matanya menatap nanar setumpuk berkas yang rupanya belum satupun ia tanda tangan.


"Sorry Vid, lupa" ucapnya dengan senyum masam.


Bukan lupa, tapi pikiran bos yang lagi kosong jadi nggak fokus kalau ada berkas bejibum yang belum bos tanda tangan.


"Apa lu udah cek semua ini Vid?"


"Sudah pak, bapak hanya tinggal tanda tangan."


Waktu berjalan terasa begitu lambat bagi Rangga, pikirannya masih terfokus pada sang istri yang masih mendiamkannya, pesan yang ia kirim lewat aplikasi hijau pun tak di balas


David melirik dengan senyum gemas.


Baru se hari di diamkan sang istri sudah membuat hari bos nya begitu kacau, entah sudah berapa kali ponsel ia lihat, namun wajah murungnya tak berubah saat ternyata notifikasi yang di tunggu tak juga datang.


Sore hari Rangga bergegas pulang saat jam kerja usai, berharap perang dinginnya segera berakhir, ia akan bersikap semanis mungkin dan sehangat mentari pagi agar hati Shanum luluh.


Suasana mansion terlihat sepi, Rangga menyisir ruangan mencari sosok Shanum.


Apa iya sore hari istrinya sudah tidur di kamar, batinnya, lalu melangkah ke dapur mansion.

__ADS_1


"Bi bibi, Shanum di mana bi?"


Bisik Rangga karena tak ingin suaranya terdengar oleh sang istri.


"Oh Non Shanum ada di taman Den."


"Ngapain bi?"


"Tadi bibi lihat Nonya sedang membaca bukunya dan minta di buatin jahe madu sama Bibi"


Rangga mengangguk pelan lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, ia teringat perintah sang ibu untuk selalu membersihkan tangan dan kakinya setelah bepergian sebelum menyentuh sang istri yang sedang hamil.


Kegiatan mandi yang Rangga lakukan secara express membuat Bibi melirik ke arahnya dengan tatapan aneh.


Kalau memiliki wajah tampan, mandi nggak mandi tetap akan terlihat tampan, batin Bibi.


"Kenapa menatap seperti itu Bi?"


"Ah t tidak apa-apa Den, kalau sudah tampan, mandi nggak mandi tetap saja kelihatan tampannya" jawab Bibi sambil senyum salah tingkah.


"Hah, apa aku terlihat tidak mandi Bi?" ujar Rangga dengan mengendus tubuhnya takut masih tercium bau keringat.


"Oh j jadi Den Rangga sudah mandi, m maaf Den, bibi kira Den Rangga hanya berganti baju" ucap Bibi panik.


"Ish, aku mandi Bi, cuma kilat mandinya" Rangga menjawab dengan wajah masam.


Ia berusaha keras untuk bersikap baik dan manis di depan Shanum agar istrinya itu menyudahi marahnya.


Untung saja ayah mertua sedang di negara tetangga hingga tak mengetahui perang dingin yang sedang terjadi.


Tak tok.


"Sayang sedang apa kau cantik muuachh."


Rangga datang dan mengecup mesra puncak kepala sang istri.


"Lagi baca" jawaban datar dan singkat Shanum membuat hati Rangga mencelos.


"Sayang apa kau tidak ingin melewatkan sore yang cerah ini untuk jalan-jalan sore?"


"Malas"


Glekk.


"Ehm, buku apa yang kau baca?"


Shanum memperlihatkan sampul buku agar Rangga membaca judulnya.


Aisshh gini ya rasanya kalau istri lagi marah, batin Rangga lirih.

__ADS_1


__ADS_2