Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Udang di balik Terigu


__ADS_3

Rangga tersenyum puas, mengerjai asistennya yang polos, memiliki ke asikan tersendiri.


Memiliki wajah tampan rupawan namun tak pernah sekalipun David terlihat menghabiskan waktu bersama seorang gadis.


Rangga tertegun saat melihat pesan tengah malam dari asistennya itu yang memintanya untuk di kirimkan mobil miliknya ke lokasi hotel tempat mereka melakukan meeting.


Terdengar lancang memang, mana ada asisten yang memerintah atasannya sendiri, namun Rangga tak mempermasalahkannya selama itu untuk David, asisten yang sudah di anggapnya sebagai adik sendiri.


Sudah hal biasa jika David sering meminjam mobilnya, namun terasa aneh jika tujuannya adalah salah satu hotel mewah apalagi waktunya tengah malam.


Mungkinkah ia menghabiskan malam dengan seorang gadis, batin Rangga.


Namun tentu saja David tak akan pernah mengatakan padanya, dari beberapa pancingan pun berakhir gagal, karena David tetap menyembunyikan sosok yang sedang bersamanya.


Waktu menunjukan pukul satu dini hari, dan Rangga pun kembali masuk ke dalam selimut bersama Shanum.


Geliat tubuh sang istri membuatnya tertegun, selimut yang tersingkap membuat tubuh mulus Shanum kini terekspose nyata.


Apalagi dengan baju tidur tipis yang di kenakan, puncak kedua bukitnya terlihat jelas, membuatnya harus bekerja keras menelan salivanya.


Sudah menjadi kebiasaan Shanum sejak ibu mertuanya memberi wejangan bahwa tidur akan lebih sehat jika tidak menggunakan kain penutup dada tambahan, di balik bajunya.


Rangga tersenyum masam, apakah ia akan membiarkan pemandangan indah itu terlewati begitu saja, tak tega rasanya jika membangunkan tidur sang istri.


Dengan perlahan Rangga membetulkan posisi selimut agar kembali menutup sempurna tubuh Shanum.


Pagi hari, Rangga tersenyum melihat mata indah sang istri mengerjap lucu saat mendapatinya tengah asik bermain dengan squishy kesukaannya.


"Sayang sejak kapan kau terjaga?"


Nada suara Shanum terdengar berat dan serak, sungguh sexy Rangga mendengarnya.


"Sudah lebih dari tiga puluh menit yang lalu sayang."


Rangga berucap dengan tangan yang masih asik dengan kegiatan menyenangkannya.


"Sshhhh sayang, tolong lepaskan tanganmu, badanku sampai meremang " ucap Shanum berusaha mengurai tangan Rangga di atas tubuhnya.


Namun pria gagah tersebut tak membiarkan keasikannya terganggu.


Bukannya menyudahi ke jahilan tangannya kini malah semakin meluas area tangan Rangga bermain dengan tangannya.


Suasana pagi yang dingin membuat keduanya enggan beranjak dari dalam selimut.


Shanum yang merasa haus ingin segera beranjak untuk mengambil minum, namun tangan kekar Rangga menahannya.


"Mau ke mana, ini masih terlalu pagi sayang, temani aku sebentar lagi" pinta Rangga dengan netra menatap sayu ke arah Shanum.


"Tapi aku haus"


"Tunggu di sini tuan putri, biar aku yang akan mengambilkan minum untukmu."

__ADS_1


Shanum tersenyum masam, terbaca jelas di mata suaminya, sikapnya mengandung udang di balik batu.


Tak lebih dari lima menit, Rangga pun datang dengan segelas air hangat di tangannya.


Glek.


Rangga kembali masuk ke dalam selimut tebal untuk melanjutkan keasikannya yang tertunda.


Kini bukan lagi desisan keluar dari mulut Shanum namun rintihan dan lenguhan saling bersahutan kala olah raga panas di mulai dan mengawali pagi mereka.


Jika malam hari Rangga masih bisa menahan arjunanya yang ingin berontak dari sarangnya, namun pagi ini ia merasa lega saat Shanum pun tampak ikut terbuai dengan ulah jahil tangannya, hingga hasratnya pun ikut terpancing.


Lenguhan panjang mengakhiri penyatuan panas mereka.


Tubuh polos Rangga yang banjir dengan keringat tampak terkulai lemas setelah berhasil mengeluarkan larva hangatnya.


"Muaachh, ayo kita mandi sayang."


Zara tersenyum dan mengangguk lemas.


"Mau jalan sendiri atau aku gendong heum?"


"Aakhh."


Karena tak ada respon, Rangga pun mengangkat tubuh polos sang istri menuju kamar mandi.


"Duduklah akan ku siapkan air hangat"


Rangga tersenyum gemas, sikap sang istri masih saja malu-malu kucing terhadapnya.


Bahkan bagian paling tersembunyinya pun Rangga sudah melihat, lalu kenapa ia masih saja berusaha menutupinya.


Aktifitas mandi berjalan lancar, tanpa drama lanjutan tadi pagi, karena Rangga pun sudah sedikit telat untuk berangkat kerja.


"Sayang mobil yang biasa kau pakai tidak ada di garasi?".


Shanum terkejut karena salah satu mobilnya tak ada di sana.


"Oh ehm tadi malam David ijin pinjam?"


"O ya, jam berapa dia ke sini, kenapa aku tak melihatnya."


"Dia minta lewat chatingan, jadi ku kirim bersama supir sekalian, takut ada situasi darurat" jawab Rangga.


"Lalu, tidak ada apa-apa kan dengan asistenmu itu?"


Rangga menatap Shanum intens, kenapa hatinya sedikit kesal saat Shanum tampak perhatian pada David.


"Sayang, apa kau menghawatirkan asistenku itu?"


Shanum tertegun, apa sikapnya terlihat berlebihan?, batinnya.

__ADS_1


"Aku hanya sedikit cemas sayang, apa yang membuatnya menghubungimu saat tengah malam jika tak terjadi hal-hal yang aneh."


Ujar Shanum dengan alasan logis, bisa-bisanya suaminya merasa cemburu pada asistennya sendiri.


"Tidak ada hal aneh, dia juga mengirimkan poto selfi nya, dan ku lihat wajahnya masih tetap utuh dan ...pas-pas an."


Shanum tertawa gemas dengan ucapan sang suami, dan melepasnya untuk pergi ke kantor setelah melambai kan tangannya.


Besok ia sudah mulai untuk mengikuti senam hamil.


Pertemuan pertama adalah perkenalan, jadi Shanum tak harus mengajak Rangga kali ini.


Sesampainya di kantor wajah berseri Rangga muncul di ruangan, membuat David kesal, karena bos nya lah yang memiliki andil penuh atas kejadian cinta satu malamnya dengan bu Linda.


Entah itu suatu keberuntungan ataukah musibah, namun David masih bisa bersyukur karena Linda adalah wanita baik-baik.


"Pagi Vid, muka lu loyo amat, kurang tidur lu?"


Tanya Rangga datar.


David yang tampak jengah pun menuju pantry untuk membuat kopi sang bos nya.


Rangga mencebik kesal, dasar asisten nggak ada sopan santunnya sama sekali, bos datang bukannya di sambut senyum ramah, ini malah ninggalin.


Jika di ingat, masih ada berkas milik Testafood yang belum David serahkan ke bu Linda.


Apakah dia hari ini akan datang, David membatin.


Di taruhnya kopi di atas meja atasannya, sambil melirik ke beberapa tumpukan berkas yang sudah di tanda tangani.


"Pak, apa ini berkas yang sudah di tanda tangan, akan saya pisahkan di meja saya."


Rangga tertegun, sikap David hari ini begitu manis, semoga saja tak ada udang di balik terigu, Batinnya.


"Ehm iya pisahkan saja Vid."


Dari sudut matanya Rangga melirik, David tampak memeriksa nama masing-masing berkas yang sudah di tandatangani olehnya.


Apa yang sedang kau cari anak muda.


Dua sudut bibir David tertarik ke atas membuat garis lengkung kecil.


Nama yang di carinya sudah di temukan, tinggal ia yang akan menjaganya.


"Vid, tolong kau bawa file ini ke Divisi humas, mereka sudah menunggunya sekarang ."


"Baik pak."


Sepeninggal David, dengan langkah perlahan Rangga menuju meja kerja asistennya itu, lalu membalik-balik berkas, mencari apa ada hal aneh yang di cari oleh asistennya itu.


Rangga menautkan kedu alisnya, sama sekali tak ada hal yang mencurigakan, hanya berkas beberapa klien Wijaya Corp, termasuk klien perusahaan Testafood.

__ADS_1


"Uhukk uhukk" Rangga tertegun, apakah ada sesuatu antara Testafood dengan asisten barunya itu.


__ADS_2