
Nafas Linda kian memburu, tubuhnya yang terasa panas bagai terbakar membuat mulutnya terus meracau tak henti.
"Panas shhh tolong, aku panass"
"Tenanglah bu Linda, saya akan minta bantuan" Rangga berusaha menenangkan Linda, padahal hatinya pun sedang di landa penuh rasa bingung.
Tingkah Linda yang aneh pastilah karena efek dari suatu obat, dan bisa di pastikan obat tersebut berasal dari pria yang tadi ia lihat bersama Linda.
"Pak Rangga, ku mohon tolonglah aku, panas"
Sreett.
"Bu ...t tunggu, jangan di sini" Rangga berteriak panik saat Linda mulai meracau dengan tubuh menggeliat berusaha merobek jas yang ia gunakan untuk menutupinya.
"Aku sudah tak tahan lagi pak, gerah."
Rangga semakin panik saat jas nya di lepas oleh Linda dan di buangnya ke sembarang arah.
Glekk.
Kini semakin terpampang jelas kulit mulus dengan tonjolan benda yang membusung dari balik kain penutup dadanya yang sempit.
"Sshhhh, sadar bu, ini di tempat umum, pakai kembali jas ini" Rangga berusaha menutupi dengan jas miliknya kembali lalu mengancingnya rapat agar Linda tak dapat membukanya.
"Ishh gerah pak, panas badanku, tolong lepas jas bapak" Linda berucap spontan karena tak sadar.
Dengan langkah sempoyongan karena menahan berat tubuh Linda, Rangga berjalan menyusuri lorong hotel.
"Pak, pak Rangga" suara David terdengar di telinga Rangga, belum pernah hatinya merasa lega seperti saat ini.
"Kau datang di saat yang tepat Vid" ujarnya.
David memandang Linda yang berada dalam pelukan Rangga dengan keadaan tubuh lemas dan mulut tak henti meracau tak jelas.
"Jangan salah sangka dulu, aku tak se picik yang ada dalam otakmu" Rangga ber ucap sinis.
"Memang bapak bisa baca isi otak saya pak?" ujar David santai.
Meski situasi terlihat jelas bahwa mereka sedang berpelukan dengan keadaan Linda yang mungkin sedang tak sadar, mungkin jika orang yang tak mengenal mereka pastilah berfikir bahwa mereka adalah pasangan mesum, namun David mengenal baik siapa bos nya itu.
Dia tak akan berbuat se rendah itu, yang jadi persoalan saat ini adalah bagaimana membawa Linda keluar dari hotel sedangkan David datang tanpa membawa mobil karena ia di antar oleh supir dan mobil perusahaan sudah kembali pulang.
David hanya bisa pasrah saat Rangga memindahkan tubuh Linda ke dadanya.
"Ku percayakan dia padamu, aku harus segera pulang, kasihan Shanum pasti sudah menungguku."
"T tapi pak bagaimana d dengan dia" David panik saat Rangga lepas tangan dan menyerahkan Linda padanya.
__ADS_1
"Aku akan telfon taxi, sebentar lagi datang, kau tunggu saja di...." Rangga dan David saling pandang.
Tak mungkin mereka menunggu di lobi dengan keadaan tubuh Linda seperti itu.
"Ahh kau pakai saja kamar ini, klien tadi memberi jatah masing-masing satu kamar, kau bisa menunggu taxi di dalam, nanti kalau datang taxi nya baru kau turun, kasihan jika ada orang lain melihat keadaan bu Linda seperti itu."
Rangga berucap santai tanpa dosa, lalu pergi setelah memberikan kartu chip miliknya, sedangkan David hanya dapat memandang kepergian atasannya dengan semua umpatan dalam hati.
Sialan, bos nggak ada ahlak, umpatnya kesal.
Punya bos satu-satu nya cuma bisa nyusahin, mau mecat tapi takut kualat.
"Sshhh panaass, lepass" Linda meracau lagi, kini dengan menggeliatkan tubuhnya.
David mempererat pelukannya agar tubuh lemas Linda tak terjatuh.
Dari nomor urutan kamar dapat di lihat jika ternyata letaknya berada di ujung lorong, membuqt David semakin geram.
Gerakan tubuh Linda yang tak henti menggesekan tubuhnya ke David, semakin membuat desiran halus kini mulai muncul di dadanya.
"Bu, bu Linda, tolong jangan bergerak bu."
David ber ucap lirih sambil menahan gelenyar aneh di tubuh.
"Sshhh panas pak, tolong saya, panass."
Pintu kamar yang tinggal beberapa langkah lagi, akhirnya David membopong tubuh Linda ala bride style menuju pintu kamar hotel.
Tett.
Ruang kamar luas nan mewah, membuat David menelan salivanya, selera para pengusaha kaya memang tidak main-main, hanya untuk istirahat sebentar pun mereka menyewa kamar VIP dengan layanan komplit.
Perlahan David membaringkan tubuh yang menggeliat bagai cacing kepanasan tersebut di atas ranjang besar tersebut.
Di ambilnya air dingin di lemari pendingin lalu di sodorkan ke mulut Linda.
Glek glek.
Satu gelas penuh tandas oleh Linda.
David tersenyum lega, berfikir bahwa akhirnya penderitaannya telah usai, namun sebenarnya satu masalah lebih besar kini mendatanginya detik itu juga.
Linda kini tiba-tiba melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya satu persatu, mulutnya mendesah lirih bahkan rintihan dengan suara yang bisa menggetarkan kalbu, membuat David mengusap tengkuknya yang meremang.
"Bu Linda, apa yang kau lakukan."
Linda tiba-tiba menubruk David dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Sshhh tolong saya pak, saya sudah tak tahan lagi."
David memejamkan kedua matanya, meski pemandangan indah kini terpampang jelas di depan matanya, namun akal sehatnya masih bisa berfikir dengan baik, tubuh polos itu bukan miliknya.
Rapalan do'a ia panjatkan, berharap setan masih menjaga jarak darinya.
"Pak sshhhhh hhh panasss."
Linda semakin erat memeluk David, efek obat kian menjalar ke seluruh tubuhnya, hastar di dadanya kian tak tertahan.
Bahkan kini Linda semakin erat memeluk tubuh kekar David, ciuman Linda bertubi- tubi menghujani wajah tampan David meski pemuda itu tak merespin sedikitpun.
"Oh sh**." David mengurai pelukan Linda, namun wanita itu tak mau melepasnya, gerakan tubuh yang membabi buta membuat benda lunak di dadanya ikut bergoyang indah.
Sebelum keadaan menjadi semakin runyam dan imannya runtuh David segera membawa Linda ke kamar mandi.
Di dudukannya tubuh Linda di bawah Shower dan kucuran air hangat kini membahasi tubuh polosnya.
Sialan, umpat David.
Rupanya obat yang masuk ke tubuh Linda adalah dosis tinggi terlihat dari sikapnya yang tak ada perubahan meski sudah beberapa menit berada di bawah guyuran air.
"Sshh panaas." kini Bahkan Linda menggulingkan tubuh indahnya di lantai kamar mandi.
David meski merapalkan segala do'a yang ia kuasai namun jika godaan terus bertubi-tubi mendatanginya, Imronnya pun tak kuasa untuk menolak.
Linda kini merintih dengan tubuh meringkuk dengan nafas memburu.
Perlahan David meraih tubuh polos itu untuk di baringkan di atas ranjang, karena lantai kamar mandi terlalu dingin apalagi di tambah dengan air bekas guyuran shower.
Namun saat David hendak mengurai tubuh Linda tiba-tiba wanita itu mencium bibir David dengan buas, tak hanya bibir pria itu yang ia jadikan sasaran.
Tangan putih itu dengan cepat membuka kancing baju kemejanya hingga dada bidang David terekspos sempurna.
"Bu apa yang bu Linda lakukan."
"Tolong saya pak, hanya bapak yang bisa menolong saya saat ini, saya mohon bantu saya untuk lepas dari obat ini pak, saya sudah tak tahan lagi hiks."
Entah kesadaran dari mana yang kini mendatangi Linda.
David pun merasa iba dengan wanita yang sedang dalam pengaruh obat laknat itu.
"Apa bu Linda tidak akan menyesal?" kalimat David bergetar lirih.
Linda menggeleng pasti.
David perlahan membuka kancing bajunya, hingga kini hanya tersisa boxer yang menutupi bagian sensitifnya yang sudah sejak tadi terasa sesak karena sang naga telah bangun sempurna.
__ADS_1
Linda terpejam di atas ranjang dengan dada naik turun menahan hasrat yang sudah membuncah.