Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Tangan Kanan Linda


__ADS_3

Melihat hasil kerja anak buah kepercayaannya, Linda tersenyum puas.


Kau memang selalu bisa ku andalkan John.


Begitupun pagi ini, wajahnya selalu tersungging senyum manis, langkah penuh semangat ia arahkan ke mobilnya yang terparkir di lantai dasar apartemen.


Jika kemarin ia memanjakan diri dengan treatmen untuk badannya, maka hari ini ia akan melakukan perawatan wajah dan rambut.


Agar penampilannya semakin membuat rasa percaya dirinya semakin bertambah.


Ruang apartement terlihat kosong akibat ulahnya yang mengakibatkan sebagian besar perabotan hancur, dan hari ini Linda berencana menggantinnya dengan yang baru.


Di sebuah toko furniture terkenal, wanita sexy itu memarkirkan mobilnya.


Tak membutuhkan waktu lama baginya, karena bagi Linda perabotan yang rusak tak begitu penting.


Hanya beberapa figura, vas bunga, meja sudut dan sebuah televisi.


Setelah membayar tagihan Lindapun melajukan mobil menuju salon langganan.


"Pagi bu Linda, mau perawatan apa hari ini?" sapa ramah seorang karyawan salon.


"Aku mau treatmen ini dan ini, express ya, aku mau pelayan yang gesit, waktuku nggak banyak" pinta Linda tegas.


Beberapa pelayan saling tunjuk, para karyawan yang sudah hapal dengan tabiat aneh Linda, meski ramah dan royal namun jalan pikiran dan mood nya sangat susah di tebak.


Bagai menggenggam bom yang akan meledak sewaktu-waktu.


Sifat Linda yang hangat namun cepat berubah menjadi temperamental jika suasana hatinya memburuk.


Dan ada beberapa karyawan yang sudah menjadi korban sifat bipolar wanita itu.


Dengan terpaksa seorang karyawan senior mengajukan diri untuk melayaninya kali ini.


Dengan jantung berdebar keras dan wajah yang tegang, akhirnya penderitaanya berakhir setelah lebih dari satu jam merawat Linda.


Seringai lebar dari bibir Linda terbit, hasil perawatan di salon itu memang selalu memuaskan dan cocok baginya.


Lambaian tangannya di sambut anggukan ramah dari karyawan yang masih tersenyum bahagia karena kali ini mendapat uang tip cukup banyak dari wanita sexy tersebut.


Perusahaan Wijaya Corp. kini tujuan Linda.


Meeting internal akan di lakukan untuk membicarakan rencana ekspor produk terbaru.


Karena respon dari konsumen yang memuaskan maka Lefrant berniat untuk mensegerakan produknya agar merambah ke dunia internasional, meski masih bertahap dam butuh waktu.


Linda menyambut antusias rencana sang kakak, dengan berhasilnya Tetsafood meng ekspor ke manca negara tentu saja membuat perusahaan yang mereka rintis semakin maju dan tidak lagi di pandang sebelah mata oleh perusahaan lain.

__ADS_1


Dan dengan wajah penuh semangat kala Lefrant memintanya untuk meminta tanda tangan dari pimpinan Wijaya Corp, sebagai salah satu klien yang sudah bekerja sama dengan Testafood.


Lefrant hanya bisa menggelengkan kepalanya saat sang adik sangat antusias membawa berkas ke Wijaya Corp.


Bisa saja Lefrant menyuruh karyawan lain namun Linda bersikukuh ia yang akan melakukannya.


Setelah melakukan treatmen di salon langganan membuat rasa percaya diri Linda melambung tinggi.


Kulit yang terdapat bekas luka kini mulai tersamar, dan baju sexy pun ia sudah berani memakainya.


Beberapa menit Linda mematutkan diri di depan cermin, senyum puas melihat tubuhnya kembali putih mulus tanpa noda apalagi dengan bentuk tubuh yang menjadi dambaan setiap kaum adam.


Polesan lipstik merah menggoda dan rambut hitam tergerai indah, lelaki mana yang tak akan tergoda jika di dekati oleh wanita secantik Linda.


Namun tidak dengan Rangga, kali ini Linda harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan lelaki yang sudah menjadi targetnya kali ini.


Rangga tak seperti lelaki lain yang akan langsung terpikat pada pesona Linda.


Langkahnya gemulai menuju ke lobi perusahaan Wijaya Corp.


Lefrant memintanya untuk segera pulang begitu tanda tangan sudah di dapat, tentu saja hal itu membuat Linda berdecak kesal, mana mungkin ia bisa bertemu tatap hanya beberapa menit dengan lelaki pujaannya, Linda hanya menyunggingkan senyum saat sang kakak meminta segera menyudahi pertemuannya dengan pimpinan Wijaya tersebut.


Karyawan petugas resepsionis tersenyum ramah dan mengangguk hormat begitu Linda datang.


"Selamat siang bu Linda, apa ibu sudah ada janji dengan pak Rangga?"


Terpaksa resepsionis hanya dapat tertegun saat Linda memaksa masuk tanpa ada janji ketemu dengan pimpinan Wijaya Corp.


"Maaf pak, ada bu Linda yang memaksa masuk, katanya ini sangat penting, kami tidak bisa menahannya pak."


Ucap petugas resepsionis dengan suara gemetar di balik sambubgan telepon.


"Baiklah, biarkan dia masuk, aku yang akan mengurusnya" jawab Rangga tegas.


Tok tok tok.


"Masuk."


Dengan memamerkan senyum terbaiknya, Linda memasuki ruang Rangga dengan langkah penuh percaya diri.


Glek.


Lelaki mana pun jika melihat penampilan Linda pastilah akan menelan salivanya.


Tubuh sexy dengan baju pas di badan membuat tubuhnya tercetak sempurna.


Sungguh pemandangan yang sangat menggoda iman.

__ADS_1


"Maaf pak Rangga saya terpaksa memaksa karyawan bapak untuk mrngijinkan saya masuk ke ruangan bapak, karena rencana ekspor kami yang mendesak membutuhkan tanda tangan dari bapak."


"Oh, baiklah bu Linda, maafkan karyawan saya jika membuat anda kurang berkenan, saya memerintahkan karena memang saya sebentar lagi harus mengikuti tranning."


Mata Linda berbinar, memang hati pria itu sangatlah lembut, tak pernah ia memarahi karyawannya meski mereka melakukan kesalahan, batinnya.


Linda mengeluarkan berkas untuk di tanda tangani Rangga.


"Mohon tanda tangan di sini pak."


Rangga pun membubuhkan tanda tangannya di selembar kertas yang Linda sodorkan .


"Terima kasih banyak pak."


"Sama-sama bu Linda, saya do'a kan semoga pelaksanaan ekspor perdana Testafood berjalan lancar dan sukses."


Linda mengangguk dalam, hingga entah di sengaja atau tidak, hal itu membuat kedua gunungnya semakin terlihat nyata saat ia membungkukan tubuh.


Rangga mengalihkan pandangannya ke meja kerjanya, tak ingin menimbulkan masalah lebih dalam Ia pun segera membereskan meja dan berniat untuk pulang.


Namun ia terpaksa menahan niatnya karena mobil yang di pakainya sedang di pakai David ke salah satu klien Wijaya.


Terpaksa Rangga masih harus berdiam diri di ruangan bersama wanita sexy di hadapannya.


Meski berkasnya sudah di tanda tangani namun wanita itu masih tak juga beranjak pergi.


"Pak Rangga, sebagai tanda ucapan terima kasih dari saya bagaimana kalau kita makan malam dulu?"


Linda mulai menjalankan siasatanya.


Rangga sedikit ragu, di lihatnya jam di pergelangan tangan, David yang ternyata sedang di bengkel karena ada kecelakaan kecil, mobilnya masuk ke parit menyebabkan sedikit kerusakan dan harus segera di perbaiki.


"Ayolah pak, ini hanya makan malam, dan saya sangat berharap bapak bersedia menerima ajakan saya sebagai tanda ucapan terima kasih kami dari Testafood"


Rangga tak akan tega jika ia meng atas namakaan Testafood sebagai alasan logis kali ini.


Linda mulajukan kereta besinya menuju ke sebuah restoran mewah yang terletak di tengah kota yang merupakan tempat makan kesukannya.


Rangga terlihat kikuk duduk berhadapan dengan wanita yang terus menatap tajam ke arahnya.


Jentikan jari lentik Linda memanggil karyawan restoran untuk memesan makanan.


Pemuda berseragam mendekat dan tersenyum ramah menyerahkan buku menu.


Dari interaksi antara Linda dan karyawan tersebut mereka sudah cukup akrab karena memang Linda sering makan di situ.


Rangga yang fokus pada ponsel di gengamannya tak menyadari saat Linda mengisyaratkan sesuatu pada karyawan pria tersebut.

__ADS_1


__ADS_2