
Shanum terdiam, beberapa hari Rangga tak menjamah tubuhnya, ada rasa rindu dengan hangatnya sentuhan lembut yang biasa ia dapatkan setiap menjelang tidur.
"Bagaimana kata dokter sayang, apa aku harus menunggu kandunganmu melewati trimester pertama, tega kah padaku sayang."
Bisikan Rangga penuh menggoda di dekat kuping Shanum sungguh membangunkan hasratnya.
Hati kecilnya terdalam sungguh rindu belaian dan sentuhan mesra Rangga.
Rangga kini memulai aksinya, sikap sang istri yang tak menolak kecupan di leher nya membuat Rangga semakin berani melanjutkan aksi nakal yang kini mulai semakin menyebar ke area bawah.
Hanya ******* lembut yang kini lolos dari bibir Shanum.
Gelenyar dalam darahnya kini semakin panas, tangan lincah Rangga sudah mulai dengan aksinya.
"Sayang, aku merindukanmu" bisik Rangga.
Shanum memejamkan matanya, meresapi setiap gerakan lembut yang begitu memanjakan tubuhnya.
Erangan halus pun terdengar lirih saat Rangga memanjakan buah kenyal miliknya.
Rangga tersenyum senang, kelincahan tangan dan bibirnya sudah sangat terasah, sebentar saja ia melancarkan aksinya, sudah dapat membuat tubuh Shanum menggelinjang dahsyat.
Satu persatu kain penutup tubuh Rangga pun terlepas, setelah lebih dulu tubuh Shanum sudah sepenuhnya polos entah sejak kapan.
Kecupan bibir Rangga kini terhenti di atas perut datar Shanum.
Di usapnya dengan begitu lembut, perut yang masih tampak datar.
"Hai baby how are you, cupp" sapa Rangga mengecup permukaan kulit halus perut sang istri, lalu menatapnya penuh harap, seakan meminta ijin apakah aksinya boleh di lanjutkan.
"Sayang, bolehkan aku menjenguknya?"
Shanum mengangguk cepat karena tubuhnya sudah tak dapat lagi menahan hasrat yang sudah menggebu karena rangsangan yang Rangga berikan.
Shanum meraih wajah Rangga dengan tatapan sayu.
"Lakukanlah, dokter tidak melarang selama kau melakukan dengan lembut" ucap Shanum dengan nafas yang sudah memburu.
"Akan aku lakukan dengan hati-hati, hentikan aku jika kau merasa tak nyaman."
Shanum mengangguk pasrah dan memejamkan matanya menikmati sentuhan Rangga.
"Aku datang nak, " Shanum melenguh panjang saat Rangga membenamkan miliknya secara perlahan.
Kehangatan yang beberapa malam mereka lewati kini seakan telah terobati.
Rangga melakukan penyatuan dengan begitu lembut, namun ia juga ingin memuaskan sang istri yang tampak begitu mendamba.
"Ssshhhh" desisah Shanum sontak membuat Rangga seketika panik dan menghentikan gerakannya.
"Kenapa sayang, apa terlalu keras?" bisik Rangga.
Shanum menggeleng pasti.
__ADS_1
"L lakukan lebih cepat" bisiknya perlahan.
Rangga tersenyum puas, rupanya sang istri pun merindukan permainannya.
Rangga kini mempercepat irama gerakannya, namun tetap ia menahan berat tubuhnya agar tubuh Shanum tetap aman di bawahnya.
Shanum meremas kepala Rangga saat erangan halus keluar dari mulutnya, menandakan sudah mencapai pelepasannya.
Rangga menghentikan gerakan tubuhnya membiarkan Shanum menikmati puncak permainannya.
"Bersiaplah kita tuntaskan sebentar lagi" ucap Rangga lembut lalu kembali memulai gerakan tubuhnya memacu perlahan namun pasti hingga tubuhnya pun menegang saat larva hangat keluar dari Arjunanya.
Keringat membanjiri tubuh keduanya yang polos.
Nafas yang saling memburu mengakhiri olah raga panas malam ini.
Rangga tersenyum puas sambil mengusap perut rata sang istri.
"Kau memang tangguh baby, terima kasih atas kerja samanya" bisik Rangga lembut.
Rangga mengurai pelukan Shanum lalu bangkit perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dengan lilitan handuk di pinggangnya, Rangga keluar dari kamar mandi.
Melihat Shanum duduk bersandar di headboard membuat Rangga tertegun.
Apakah Shanum merasa tak nyaman setelah permaiann panas mereka, batin Rangga mulai panik.
"Sayang ada apa denganmu, apa kau merasa sesuatu terjadi di tubuhmu?"
"Aku hanya sedikit lelah" ucapnya lalu perlahan bangkit dari ranjang.
"Tunggu.."
Rangga mengencangkan ikatan handuk di pinggangnya lalu meraih tubuh Shanum dan mengangkatnya perlahan lalu menuju kamar mandi.
"Sayang aku bisa sendiri."
"Ssttt, diam lah biarkan aku yang membersihkan tubuhmu."
Untuk kesekian kali hati Shanum menghangat.
Perhatian dari sang suami begitu lembut.
Tak ingin membuat tubuh sang istri kedinginan, Rangga membersihkan tubuh Shanum dengan cepat.
Senyum bahagia terpancar dari wajah Shanum saat Rangga kembali membopongnya dan membawa ke kamar.
"Sudah sayang, aku bisa memakai sendiri bajuku"ucap Shanum mengurai pelukan Rangga.
"Benar kau bisa melakukannya sendiri?"
"Heum"
__ADS_1
"Baiklah, pakailah bajumu lalu kita turun ke bawah, temani aku makan" titah Rangga lalu iapun memakai bajunya.
Rangga menghabiskan makan malam dengan lahap, sup ayam hangat sungguh pas untuk memulihkan kembali tenaganya yang terkuras karena aktifitas panas bersama sang istri.
Sementara Shanum pun telah menghabiskan sepiring potongan buah apel.
Rangga hanya dapat menyaksikan Sang istri yang lahap dengan menu ibu hamil menurut seleranya.
Selagi ada makanan yang masukke dalam perut sang istri setidaknya anaknya yang berada dalam perut Shanum masih mendapat nutrisi meski sedikit.
Seiring bertambahnya usia kandungan Shanum maka selera makannya pun akan bertambah jadi untuk saat ini Rangga tak bisa melarang apa yang Shanum inginkan.
Tak tok tak.
Terdengar langkah sepatu dari pintu masuk.
Hardy melangkah melewati ruang makan tanpa sepatah kata pun menyapa putri dan menantunya.
Rangga dan Shanum terdiam.
"Baru datang Yah?"Shanum segera berdiri dan menyusul sang ayah yang menuju kamarnya.
Namun gerakan tangan Hardy menahan langkahnya, dan terus melangkah memasuki kamarnya.
Shanum terdiam mendapat perlakuan aneh dari sang ayah, tak biasanya ayah menolak sapaannya.
Apalagi kemarin ayah Hardy tampak begitu gembira saat mendengar berita kehamilannya.
Ceklek.
Keduanya menoleh ke arah pintu kamar sang ayah saat suara tuas pintu terdengar.
Hardy keluar dengan tubuh yang segar dengan baju yang sudah ganti.
Tangan pria paruh baya itu merengkuh kepala Shanum dan mengecup lembut puncak kepala sang putri.
Cupp.
"Kata orang tua dulu, pamali jika pulang dari luar rumah langsung bersentuhan dengan ibu yang sedang hamil, bersihkan dulu tubuh kita jika hendak menyentuhnya agar hawa negatif tidak ikut terbawa" terang Hardy panjang lebar.
Rangga dan Shanum saling pandang lalu tersenyum hangat, dugaan mereka rupanya salah.
Ayah Hardy tidak sedang marah atau badmood, tapi sebaliknya, ayah Hary sedang menjaga calon cucu yang masih berada dalam perut Shanum.
"Bagaimana keadaan calon cucu ayah, apa masih merepotkanmu?" tanya Hardy memandang Shanum.
"Ehm tidak Yah, jagoan ku anak baik, dia sangat mengerti mommy nya dia sama sekali tidak merepotkanku." Shanum berucap dengan tangan mengusap perutnya.
Hardy tersenyum senang, semoga dengan kehadiran sang cucu akan membuat putrinya semakin dewasa, dan mengerti bagaimana menyikapi sang buah hati meskipun masih berada dalam kandungannya.
"Dan kau Ngga, bagaimana kondisi perutmu?" Hardy mengalihkan pandangan ke Rangga.
"Sudah semakin lebih baik Yah, bahkan selera makanku sudah kembali normal" jawab Rangga percaya diri.
__ADS_1
"Ehm syukurlah"