Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Jauhi Dia


__ADS_3

Rangga menangkap ke anehan pada asistennya hari ini, terlihat gusar dan tidak tenang dalam aktifitas kerjanya.


Entah sudah berapa kali ia melihat ke arah jam di pergelangan tangannya, lalu menatap ke arah pintu ruangan dan itu di lakukan berulang kali.


"Vid apakah meeting siang ini sudah di persiapkan semua berkasnya?"


"Sudah pak" jawabnya singkat, lalu kembali fokus pada layar laptop.


Rangga tak tahu jika di balik sikap datar asistennya kini hatinya sedang gundah gulana.


Entah kenapa sejak cinta satu malamnya dengan Linda, hati dan pikiran David seakan hanya terfokus pada wanita itu.


Sebagian besar berkas sudah di serahkan pada para klien.


Tak ada hal penting pun Linda selalu menyempatkan mendatangi Wijaya Corp apalagi ada berkas yang belum di ambilnya, namun hingga sore hari tak juga datang wanita itu, batin David.


Bahkan David yang tak dapat fokus pada saat meeting membuat Rangga gusar, tak biasanya sang asisten bertingkah aneh seperti ini.


"Vid, lu ada masalah?" tanya Rangga saat berjalan keluar dari ruang meeting.


"Ehm tidak pak, kenapa?"


"Ya sudah, kalau ada masalah katakan padaku" ujar Rangga sambil berlalu menuju ruang kerjanya.


Tok tok.


"Masuk"


Seorang pria berusia empat puluhan muncul dari pintu masuk.


Tubuh tegap dengan setelan jas hitam, dengan senyum tipis yang selalu terbit dari bibir tipisnya membuat wajahnya sedap di pandang.


"Selamat sore pak, saya Lefrant dari Testafood datang untuk mengambil berkas kami" ucapnya dengan kepala menunduk sopan.


"Ah silahkan duduk pak Lefrant, maaf kalau kami belum sempat mengantarkan ke perusahaan Testafood."Rangga menjawab hangat.


"Ah itu adalah tugas kami pak."Lefrant mrmbalas dengan sopan.


"Ehm biasanya bu Linda yang selalu menjadi perwakilan Testafood akan datang untuk mengambilnya."sambung Rangga.


Lefrant tersenyum masam.


"Bu Linda adalah adik saya pak, sekarang dia sedang tidak enak badan" terangnya.


Rangga tertegun dan memandang ke arah meja David yang kosong.


"Oh sayang sekali, kami do'a kan semoga bu Linda cepat sembuh."


Rangga menyerahkan berkas pada pria gagah tersebut.


"Terima kasih pak, saya langsung pamit undur diri, masih ada urusan penting yang harus kami kerjakan."


Rangga mengangguk dengan senyum hangat.


Drrtt drrtt.


"Ya halo sayang, apa sudah selesai, nanti aku jemput, oke" Rangga menutup ponselnya setelah Shanum menghubungi untuk menjemputna.

__ADS_1


Lefrant tertegun sikap Rangga terlihat begitu lembut saat menyapa wanita di ujung telfon.


Rangga menatap Lefrant lekat.


"Kenapa pak, ada yang aneh dengan saya?"


"Ah t tidak pak, saya hanya terkejut, anda begitu lembut berbicara dengan orang yang berada di telfon."


"Oh, dia istri saya pak, dan sedang di kelas senam hamilnya dan meminta saya untuk menjemputnya."


Lefrant menatap Rangga intens, jadi pria yang di sukai adiku ternyata sudah memiliki seorang istri, batinnya.


"Oh maaf, saya baru tahu kalau pak Rangga ternyata sudah menikah, dan selamat atas kehamilan istri bapak."


"Oiya terima kasih pak."


Rangga menerima uluran jabat tangan Lefrant.


Dengan dada sesak Lefrant melajukan mobil keluar dari parkiran gedung Wijaya Corp.


Namun beberapa meter jarak pandangnya menangkap mobil Linda yang melaju pelan dari arah berlawanan.


Tiiiid tiidd.


Dan rupanya Linda menyadari bahwa ada yang meng klakson mobilnya, sesaat matanya bersitatap dengan sang kakak di balik kaca mobil yang terbuka sebagian.


"Kita harus bicara sekarang juga" nada bicara Lefrant terdengar tegas saat berdiri di samping mobil Linda.


"Tapi aku ada keperluan penting di Perusahaan Wijaya kak."


Linda menolak tegas karena memang berkas milik Testafood masih berada di Wijaya.


Glek.


"A apa itu kak?"


"Menyangkut dirimu."


Apa kak Lefrant mengetahui apa yang terjadi tadi malam, apa pak David mengatakannya pada kak Lefrant? Linda membatin cemas.


Lalu ia pun memutar balik arah mobilnya mengikuti Lefrant sang kakak.


Keduanya berhenti di sisi jalan.


"Jauhi pak Rangga, dia bukan jodoh untukmu."


Perintah tegas dari mulut Lefrant membuat Linda tercekat.


"Apa maksud kakak?"


"Kau pikir aku sebodoh itu hah, aku tahu selama ini kau selalu pergi ke wijaya karena ada sesuatu yang kau inginkan, setelah semua yang kau lakukan, dengan dalih bekerja sama dengan Wijaya Corp, aku tahu bahwa kau menyukai pimpinan dari Wijaya itu sendiri, kau menyukai pak Rangga, benar dugaanku kan ?"


Deg, Linda terdiam membeku, ternyata di balik sikap acuh kakaknya itu, diam-diam ia memperhatikan semua tingkah lakunya.


"Hentikan sekarang juga Lin."


"Apa maksud kakak, apa kakak tak menyetujui jika aku menyukai pak Rangga, kau tahu kak, di antara sekian pria yang mendekatiku, hanya pak Rangga yang selalu bersikap sopan dan menghormatiku kak."

__ADS_1


"Tentu saja dia menghormatimu karena kau salah satu klien nya, tak lebih Lin, jadi jangan mengharap balasan dari hatinya."


"Dari mana kakak mengetahui bahwa pak Rangga tak menyukaiku, aku yakin dalam hati pak Rangga ada sedikit rasa untuku, hanya saja kami belum lama kenal, tenang lah kak, sekarang aku sungguh-sungguh dengan perasaanmu, aku tak akan lagi bermain cinta dengan lelaki lain."


Lefrant menggeleng lemas.


"Aku minta dengan sungguh-sungguh Lin, jauhi dia, dia sudah menikah."


Jegerrr.


Linda menatap sang kakak dengan tajam.


"Dari mana kakak mengetahui jika pak Rangga telah menikah, kau bohong kak, itu hanya alasanmu saja karena kau tak setuju aku bersamanya" Linda masih tak dapat mempercayai apa yang di dengarnya.


"Kalau kau tak percaya perkataanku, tunggulah, sepulang kerja pak Rangga akan menjemput istrinya."


Lefrant dengan wajah dingin meninggalkan Linda yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Dengan tubuh lemas Linda duduk di kursi kemudi mobilnya, dadanya berdebar kencang, keringat dingin membasahi keningnya.


Tak berapa lama mobil sedan hitam meluncur keluar dari gerbang Wijaya, dan dengan cepat Linda pun mengikuti mobil yang ia tahu di kemudikan oleh pria yang sudah mencuri hatinya.


Linda menghentikan laju mobilnya di sisi jalan tak jauh di mana mobil Rangga memasuki sebuah gerbang besar.


Dengan penjagaan ketat tak mungkin Linda bisa memasukinya.


Tak lebih dari lima belas menit, Sedan hitam kembali keluar dan meluncur cepat ke arah mansion.


"Brengsekk, sialan" Linda memukul kemudinya dengan keras, keinginannya untuk mengetahui seperti apa wanita yang telah merebut pak Rangga darinya pupus sudah.


Ia pun meluncurkan mobil menuju apartemen miliknya.


Tap tap tap.


Langkah Linda cepat menuju lobi apartemen, namun langkahnya tertahan saat Lefrant berdiri di depan pintu lift.


Sudah tentu kakaknya itu akan ke apartemennya, karena tak ada saudara atau kerabatnya yang tinggal di gedung ini.


"Mau apa kakak ke sini" tanya Linda sinis.


"Ck kau memang seorang adik yang tak punya sopan sama sekali pada kakak lelakimu" jawab Lefrant sinis.


Linda mencebik kesal sambil memencet tombol lift.


Ting.


Keduanya memasuki ruang apartemen yang luas.


Brak.


Lefrant melempar map tebal ke atas meja.


"Bukalah"


Linda meraih map dan membukanya.


Dadanya sesak dan jantungnya berdetak semakin kencang.

__ADS_1


"Dia lah bidadari pemilik hati pak Rangga."


__ADS_2