
Linda masih mengamuk di apartemennya, semua peralatan make up di meja rias berhamburan tak tentu, vas bunga yang tertata di meja tamu hancur tak berbentuk,
Bahkan televisi lebar di ruang tengah kini sudah tanggal dari tempatnya dengan kaca yang pecah berhamburan.
Nafasnya memburu, nyala matanya merah seakan kekuatan hitam sedang merasuki wanita sexy itu.
Tangan putihnya tampak berwarna merah karena beberapa luka goresan dari pecahan kaca mengenainya dan mengeluarkan darah.
"Kenapa ada dia, kenapa...hiks, pak Rangga adalah miliku, dia tercipta untukku, tak ada yang boleh memilikinya selain aku hah." Linda berteriak kencang.
Brakkkk.
Kali ini meja sudut beralaskan kaca, hancur berkeping-keping pecahan kaca berhamburan hingga mengenai betisnya yang putih.
Nafas Linda tersengal, tubuhnya luruh ke lantai seakan rasa sakit hilang dari tubuhnya.
Linda sama sekali tak menghiraukan luka di tubuhnya.
Tangisnya begitu menyayat, tak pernah Linda merasa hancur seperti ini, rasa sakit di hatinya melebihi sakit akibat luka oleh pecahan kaca yang melukai kulitnya.
Sampai dini hari baru Linda menyudahi pelampiasan kekesalannya, tubuhnya terkulai lemah bersandar di tembok, kaki dan tangan yang penuh sobekan dan mengeluarkan darah membuatnya kini terlihat begitu mengerikan.
Lefrant bergegas memacu mobilnya secepat yang ia bisa, untunglah jalanan masih lancar, saat pagi tadi pembantu yang biasa mengurus apartemen Linda menghubunginya bahwa Apartemrn Linda hancur dan tubuh Linda pingsan dalam keadaan mengerikan.
Tiing.
Jantung Lefrant seakan berhenti berdetak, bibi yang tengah menangis terisak di depan tubuh Linda yang bersimbah darah.
"Bi, apa yang terjadi?"
"Tidak tahu Den, saya datang semua sudah seperti ini hiks" isak tangis sang bibi yang begitu trenyuh melihat kondisi sang Nona muda nya.
"Bi aku akan ke rumah sakit, tolong bibi bereskan semua kekacauan ini."
Bibi mengangguk dengan air mata yang masih bercucuran dari sudut mata keriputnya.
Lefrant pun bergegas membopong sang adik lalu memasuki lift dan berlari menuju mobilnya.
Di sebuah rumah sakit besar kini tubuh Linda terbaring lemah, perban membalut tangan dan kakinya.
Pemuda itu menatap iba sang adik satu-satunya, hidup tanpa kedua orang tua membuat Linda tak mendapat kasih sayang yang ia butuhkan, hanya Lefrant kakak satu-satunya yang selalu memperhatikannya.
__ADS_1
Di balik sikap dingin dan tegasnya, Lefrant adalah seorang kakak yang begitu penyayang dan perhatian pada sang adik.
"Bagaimana kondisi adik saya dok?"
"Kondisi pasien saat ini harus lebih banyak istirahat, dan usahakan agar fikiran dan hatinya selalu stabil juga emosi harus tetap di jaga agar kejadian ini tak sampai terulang lagi, kalau untuk luka di tubuh sudah mendapat mengobatan tinggal pemulihan saja" jelas Dokter.
"Terima kasih dok."
Lefrant kembali menghubungi pihak perusahaan untuk menginformasikan bahwa hari ini ia tak bisa masuk karena keadaan darurat yang terjadi dengan adiknya.
Wajah putih mulus yang biasanya selalu berhiaskan senyum manis, kini terpejam rapat dengan kulit pucat.
Balutan perban di beberapa bagian tubuhnya membuat penampilan Linda semakin mengenaskan.
Kau hancurkan dirimu hanya karena seorang lelaki yang sudah beristri, huh masih banyak lelaki tampan dan gagah di luar sana Linda, geram Lefrant.
Jika ia biasanya melihat sang adik gonta-ganti lelaki yang hanya bertahan beberapa minggu saja namun tak pernah pria itu melihat adiknya begitu hancur seperti saat ini.
Apalagi mereka tak ada ikatan apapun, dan Lefrant sadar jika rasa cinta Linda adalah cinta sepihak.
Bagaimana mungkin Rangga yang memiliki seorang istri bak bidadari bahkan ia adalah seorang CEO di Wijaya Corp akan berpaling hanya untuk wanita seperti Linda.
Lefrant sadar kecantikan Nona Shanum jika di banding dengan sang adik maka tentu lah Linda berada jauh di bawahnya.
*******
Ceklek.
David mamasuki ruangan dengan wajah lesu, lingkaran hitam terlihat jelas di sekitar matanya, bahkan kepalanya pun berdenyut dengan rasa pusing yang bagitu menyiksa.
"Lu sakit Vid?"
David menggeleng lesu.
"Berkaca lah, penampikanmu sangat mengerikan hari ini" ujar Rangga.
"Kepalaku sangat berat, mungkin kurang tidur bos" ucap David sambil membereskan beberapa map di mejanya.
"Kau pergilah ke dokter, jangan di biarkan rasa pusing itu berlanjut" Rangga berucap dengan terus nemandang asistennya itu dengan intens.
"Vid, lu dengarkan yang gue bilang!" nada bicara Rangga meninggi membuat David menyudahi kegiatannya.
__ADS_1
"Baik bos, saya akan ke klinik saja."
Tok tok tok.
"Masuk" ucap dokter yang sedang bertugas di klinik Wijaya Corp.
David pun menceritakan penderitaannya, tentang pusing di kepala dan insomnia yang di deritanya.
Setelah mendapat obat dari dokter, Davidpun berniat untuk ijin pulang pada Rangga, karena rasa pusing di kepalanya semakin menyiksa.
Ia sungguh tak mengerti jalan fikiran Linda yang kini tampak menghindar darinya, bahkan berkas Testafood di ambil oleh kakaknya sendiri hanya agar bisa menghindar dan tak bertemu dengannya.
Kenapa kau menghindar dari ku bu Linda, kau tahu itu semua terjadi karena kau yang memintanya, dan jika kau menginginkan pertanggung jawaban dariku maka akupun akan bersedia menikahimu, David membatin lirih.
Ia di didik oleh kedua orang tuanya untuk menjadi seorang lelaki yang jujur dan bertanggung jawab.
Di hempaskannya tubuhnya di ranjang besar, rasa kantuk kini datang setelah meminum obat dari dokter tadi.
Tak butuh waktu lama, akhirnya iapun terlelap.
Sementara Di sebuah ruang rumah sakit, Linda perlahan membuka matanya, lenguhan lirih keluar dari bibir pucatnya.
"Linda, kau sudah sadar?" tanya Lefrant cemas.
"Ini di mana kak?" tatapan Linda menyapu ruangan berwarna putih itu.
"Sshhhh ."
"Tenanglah Linda, kita sekarang ada di rumah sakit."
"K kenapa kita di sini kak."
Lefrant memandang adiknya tajam, hanya karena seorang lelaki ia menghancurkan seluruh isi apartemennya bahkan tubuhnya terluka namun ia tak sadar akan semua itu, sungguh Lefrant di buat bingung dengan adiknya itu.
Entah kekuatan apa yang merasukinya kala itu.
"Benarkah kau tak ingat semuanya Lin?"
Wanita itu menggeleng pelan, di pandanginya tubuh yang penuh dengan perban, tangan dan kaki nya, bahkan tepalak kaki pun tak terlihat kulitnya karena semua tertutup kain perban.
"Kau menghancurkan apartemenmu sendiri Linda, apa yang membuatmu berbuat sebodoh itu hah, apa hanya karena seorang lelaki bisa membuat kau seperti kerasukan iblis Linda..." Lefrant memuntahkan emosinya tak sadar, ia sungguh kesal, melihat kebodohan adik satu-satunya itu.
__ADS_1
Linda tertunduk penuh sesal, kini ia ingat akan apa yang terjadi tengah malam tadi, gemuruh dada yang terasa panas, dan emosi yang menguasai kepalanya membuatnya bertindak di luar nalarnya, akal sehatnya seakan hilang karena luapan kemarahan.
"Maafkan aku kak."