
Shanum mematutkan diri di depan cermin, melepas rambut panjangnya seakan sungguh berat, namun seiring berjalannya waktu, kondisi kehamilannya terkadang membuat tubuh nya merasa gerah.
Berkali-kali ia amati wajahnya di depan cermin.
Apa pantas jika rambutnya di potong pendek, gumamnya dalam hati.
Deru suara mesin mobil terdengar memasuki garasi mansion.
Shanum bergegas menyambut Rangga.
Rangga memeluk hangat sang istri setelah terlebih dahulu membasuh tangan dan wajahnya di kran samping mansion.
"Heum bagaimana, apa kita jadi ke salon" tanya Rangga menatap wajah Shanum intens.
Sudah berapa kali Shanum terlihat ragu tentang keputusannya untuk memotong rambut hitam panjangnya.
Meski Rangga begitu menyukai rambut panjang sang istri tapi ia pun tak ingin memaksakan kehendaknya, apalagi saat ini kehamilan mungkin membuatnya merasa tak nyaman untuk memiliki rambut panjang.
"Apa boleh aku memotongnya?"tanya Shanum ragu.
"Sayang, aku menyukai rambut panjangmu, tapi aku lebih menyukai saat kau merasa nyaman dengan dirimu apapun itu."
Shanum tersenyum haru.
"Ayo kita berangkat."
"Aku mandi dulu, kau tunggulah sebentar."
Tak lebih dari lima belas menit, Rangga muncul dengan baju casual, celana jeans panjang dan kaos polos biru langit, membuatnya terlihat lebih muda.
Shanum memajukan bibir mungilnya.
"Kenapa kau cemberut sayang?" tanya Rangga gemas sambil menoel puncak hidung Shanum.
"Kau memakai jelana jeans semakin bertambah tampan, bagaimana jika nanti banyak gadis di luar sana jatuh hati padamu."
Rangga terkekeh gemas.
"Kau masih tak percaya cinta tulusku padamu heum, masih saja kau khawatir tentang gadis di luar sana, tahu kah kau sayang, kaulah separuh nafasku ."
Shanum mencebik kesal, kondisi perutnya yang membuncit membuatnya tak dapat lagi memakai celana jeans kesukaannya.
"Ayo kita berangkat sebelum malam."
Di salah satu mall besar Shanum menghentikan langkah dan memasuki sebuah salon ternama.
Dengan hempasan nafas panjang Shanum dan Rangga memasuki ruangan yang terdapat berbagai alat kecantikan, banyak pengunjung yang sedang melakukan berbagai treatmen rambut.
Rangga menggenggam tangan sang istri hangat, ia tahu keraguan hati Shanum saat ini.
"Aku tunggu di sini" bisik Rangga lalu duduk di sofa panjang di ruang tunggu.
Karyawan salon menyambut Shanum dengan ramah.
"Sayang aku potong pendek, boleh?" bisiknya pada Rangga.
Rangga tersenyum dan mengangguk lembut.
"Se gini" Shanum menunjukan tangannya di tengkuk sebagai penanda batas rambut yang hendak di potong.
Kembali Rangga pun tersenyum.
"Beneran nggak apa-apa" bisik Shanum masih tampak ragu.
Rangga menghampiri sang istri yang masih di landa keraguan.
"Sayang lakukan apapun yang membuatmu nyaman, aku mencintaimu apa adanya muuaacchh" Rangga berbisik untuk membuat hati Shanum pasti.
__ADS_1
Karyawan salon memandang keromantisan pasangan tersebut dengan haru.
Seorang istri yang patuh pada suaminya dan suami yang begitu tulus menyayangi sang istri, mereka pasangan yang di restui alam semesta, batinnya.
Dengan ramah dan hangat mereka memberikan pelayanan maksimal untuk Shanum.
Senyum karyawan salon mengembang puas, setelah melihat hasil yang begitu sempurna.
"Nona apakah boleh saya berfoto dengan anda" tanya karyawan segan, Shanum memang terlihat ramah dan lembut, namun ia sangat jarang mengeluarkan kata-kata.
Shanum mengangguk ringan.
Dengan berjingkat girang, karyawan tersebut duduk mendekat ke arah Shanum lalu dengan kamera ponselnya ia membidik beberapa angle.
Dengan potongan rambut blow sebahu, wajah imut Shanum terlihat lebih segar dan mempesona.
Kulit putih dengan hidung mancung dan bibir mungil, bak boneka barbie yang baru keluar dari salon.
Beberapa pengunjung menatap penuh pesona.
Dengan langkah kikuk Shanum mendekati Rangga yang tengah fokus pada ponsel di tangan.
"Sayang ayo kita pulang?" bisik Shanum lirih.
Dirinya sungguh merasa tak percaya diri, lirikan dari banyak pengunjung ke arahnya membuat nyalinya menciut, mungkinkah wajahku berubah aneh, batinnya.
"Sudah selesai?" tanya Rangga lembut.
Beberapa detik Rangga tertegun menatap wajah sang istri dengan model rambut barunya.
Shanum terlihat jauh lebih muda dan segar, bagai seorang gadis yang masih sekolah.
"Cantik" ucapnya singkat, dadanya tiba-tiba berdebar.
Betapa cantik dan imutnya sang istri, tak rela rasanya berbagi dengan orang lain.
Cuma begitu saja tanggapannya?, batin Shanum lirih, ada rasa sesal di hatinya kala melihat reaksi suami yang tampak datar dan dingin.
"Sayang kau marah?" tanya Shanum lembut saat beberapa lama keheningan menyelimuti perjalanan mereka.
Rangga menggelengkan kepalanya, meski dadanya bergemuruh menahan geram, tanganya meremat kemudi dengan kencang.
Tukang parkir tak henti mencuri pandang ke arah Shanum, ingin rasanya ia mencongkel mata buayanya.
"Sayang apa kita tidak makan dulu atau nonton, atau..."
"Tidak kita langsung pulang."
Glek.
Shanum menelan saliva, tak biasanya suaminya bersikap ketus begitu.
Tak mau mengusik suasana hati suami yang sedang buruk, Shanum pun tak lagi bertanya lain.
Empat puluh menit perjalanan akhirnya sampai lah mereka di mansion.
Kedua satpam mengangguk hormat sambil salah satu membuka gerbang.
Kembali emosi Rangga naik ke ubun-ubun saat pemuda berseragam biru navy tertegun menatap sosok di sampingnya.
"Hey cepat buka" hardik Rangga keras menyadarkan kesadaran satpam tersebut.
"A a m maaf pak" ucapnya penuh sesal.
"Makanya kerja jangan melamun terus" hardik Rangga lagi.
Satpam hanya mengangguk dan tersenyum masam.
__ADS_1
Gara-gara pesona Nona Muda membuat hidupnya dalam bahaya, bisa saja Rangga memecatnya karena telah lancang memandang istrinya begitu manis.
Mobil melaju cepat memasuki garasi.
Shanum keluar dengan dada bergemuruh, sikap ketus Rangga saat berbicara juga hardikan yang ia tujukan pada satpam, fix pastilah suaminya sedang marah.
Shanum hanya bisa diam mengikuti langkah Rangga.
"Nonaa....kau cantik sekali" pekikan bibi dari dapur mansion berlari ke arahnya.
"Ah bibi, biasa saja bi" jawab Shanum datar, menurut bibi cantik, tapi menurut suamiku jelek, batinnya lirih.
"Sungguh Non, anda sangat cantik dan imut juga terlihat lebih segar, bibi sangat menyukai potingan rambut Non Shanum.
Sementara Rangga memandang adegan tersebut dari lantai atas dengan kesal.
Cih, bahkan bibi pun terpesoan padamu, geram Rangga dalam hati lalu memasuki kamar dengan langkah panjang.
"Bi aku mau ke kamar dulu" ucap Shanum mengurai pelukan bibi lalu bergegas menyusul suaminya.
Ceklek.
Langkahnya perlahan memasuki kamar, Rangga tampak sudah berganti dengan baju tidur.
"Sayang kau marah?" tanya Shanum pelan.
Hening tak ada jawaban, Rangga masih diam berdiri membelakanginya.
"Sayang apa kau..." kalimat Shanum tak terselesaikan saat tiba-tiba Rangga berbalik dan merengkuh tubuh dan memeluknya erat.
Shanum membeku di tempatnya, Dadanya terasa sedikit sesak karena begitu erat Rangga memeluk tubuhnya.
"Aku tidak ingin orang lain memandang wajah cantikmu, kau hanya miliku" Rangga berucap sambil menatap intens sang istri.
Degh.
Rupanya siksp diam dan dingin Rangga karena ke posesifannya.
"J jadi kau tidak marah?" tanya Shanum lega.
Rangga menggeleng.
"Aku hanya tak ingin berbagi, cantukmu seutuhnya hanya miliku " ucapnya sambil mengecup lembut bibir mungil Shanum.
Kecupan ringan yang kini mulai menjalar ke ceruk leher putih Shanum, Rangga menyapu kan bibirnya hingga tengkuk Shanum meremang.
Dan entah sejak kapan tangan Rangga kini sudah asik memainkan benda kenyal kesukaannya.
Rangga menatap sang istri dengan tataoan sayu.
"Kau adalah miliki, tak akan bu bagi pesonamu dengan orang lain."
Racauan mulut Rangga yang di selingi sesapan di bibir Shanum.
Dan Shanum hanya bisa pasrah saat Rangga membopongnya ke atas ranjang, hanya ******* lirih keluar dari bibirnya.
Malam yang belum terlalu larut pun berubah menjadi malam panas saat keduanya muai menyatu.
Erangan dan ******* panjang lolos saat Rangga yang begitu lihai memainkan perannya dengan lembut.
Tok tok tok.
Kedua insan yang sedang bergelut asmara itu terdiam.
"Nona, Den Rangga, mau makan malam sekarang atau nanti?" tanya bibi.
"Ehm nanti saja bi" jawab Rangga singkat.
__ADS_1
Keduanya pun kembali meneruskan kegiatan panas yang tertahan karena ulah sang bibi.