Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Rasa Nyaman


__ADS_3

Betapa girang bukan main hati Linda, saat pimpinan Wijaya Corp menghubunginya, bukan karena ia senang orang yang menghubunginya adalah Rangga, namun isi dari pesan yang sontak membuat dirinya bersorak girang.


Rangga mengatakan bahwa Shanum sedang bersama istri bang Asep di mansion untuk membuat rujak buah, dan ia di minta Shanum untuk menghubunginya barangkali mau ikut bergabung, tentu saja jika tidak sedang sibuk di kantor, begitu isi pesan Rangga.


Sesibuk apapun, rela ku tinggalkan, aku pasti akan ikut bergabung dengan mereka, gumam Linda, lalu segera membereskan pekerjannya.


Lefrant tentu saja kesal bukan main, sikap adiknya sangat merepotkannya, rapat meeting terpaksa ia yang mewakili, bahkan beberapa tamu penting yang datang ke Testafood ia juga yang menjamu nya.


Sementara di taman mansion yang sudah di sulap menjadi arean para ibu-ibu yang sedang melakukan me time.


Di bawah pohon rindang, Shanum dan Linda tengah asik menikmati rujak buah yang di buat oleh Anah di bantu para bibi di mansion.


Linda yang berusaha menghabiskan seporsi rujak di piringnya tampak kesulitan.


Rasa pedas menyengat membuat bibir terasa kebas, keringat dari pori-pori keningnya mulai bercucuran.


Bukannya merasa tersiksa, Linda justru semakin bersemangat.


Rasa pusing yang mendera kepalanya kini seakan hilang tak berbekas.


Linda tersenyum sambil tertawa melihat Shanum yang terlihat begitu menggemaskan.


Bibir mungilnya kemerahan karena rasa pedas, keringat bercucuran dari kening putihnya, bahkan hidungnya pun berubah menjadi warna merah.


"Non, sudah makan rujak nya Non, jangan banyak-banyak, nanti perutnya mules" ucap Bibi agak panik.


Linda dan Anah pun memandang Shanum serempak.


"Iya bu jangan terlalu banyak makan pedas, nggak baik bu" ucap Linda.


Shanum pun menyudahi makannya, meski ada sedikit perasaan tak rela saat di piringnya masih tersisa beberapa suap lagi.


Sambil menggelengkan kepalanya Shanum mengacungkan dua jari jempol ke arah Anah.


"Anah kamu memang sangat pintar membuat rujak, sungguh pas sekali rasa pedas dan manisnya, rasanya jika kau membuka sebuah warung pasti akan laris" ucap Shanum di tengah ia mengatur nafas karena masih panas rasa bibirnya.


"Ah ibu bisa aja, saya hanya terbiasa karena saat ngidam saya sangat menyukai rujak, dari pada harus beli kan mahal harganya, maka saya bikin sendiri bu, he hee" jawab Anah polos.


Hari beranjak sore, terdengar deru suara mobil memasuki parkiran mansion.


Senyum Shanum seketika sirna, dengan cepat ia menyingkirkan piring rujak di hadapannya.


Dan dengan tisu ia lap semua keringat di wajah dan lehernya.

__ADS_1


Linda tersenyum masam, di saat sedang panik pun pemimpin Wijaya Corp itu masih terlihat imut dan manis.


Setelah selesai ia menutupi jejaknya, Shanum menyongsong Rangga dengan langkah kecil, tak biasanya suaminya pulang secepat ini, batinnya.


"Aku sengaja mengajak Asep agar nanti ia pulang sekalian bareng Anah" terang Rangga saat wajah Shanum tampak memandang dengan tanda tanya.


"Apa acara kalian sudah usai" lanjutnya.


Shanum mengangguk, lalu melangkah menemui Anah yang belum mengetahui keberadaan suaminya yang baru turun dari mobil.


"Anah lihat" bisik Shanum lalu menunjuk ke arah kereta besi yang taiki oleh suaminya.


Senyum lebar Anah terbit, tak menyangka jika suaminya berada satu mobil dengan tuan penolongnya.


Di ciumnya punggung tangan Asep dengan lembut.


David yang baru turun dari pintu kemudi melihat adengan romantis tersebut dengan intens.


Ah membayangkan pulang kerja di sambut pelukan hangat dan senyuman sang istri, sungguh bahagia rasanya, batinnya.


Deg.


Mata David tiba-tiba terpaku ada sosok yang tengah terduduk di kursi taman.


"Apa acaramu sudah selesai sayang" tanya Rangga dengan tangan merengkuh pinggang sang istri.


Shanum mengangguk.


"Ayo kita makan bersama, bibi sudah ku suruh masak banyak, kasihan bu Linda juga dari siang belum makan mungkin."


Shanum sengaja mengalihkan pembicaraan sang suami, karena ia tahu apa yang akan terjadi jika Rangga lihat ia makan yang membahayakan perutnya.


Setelah makan malam Anah pun pulang bersama Asep, sedangkan David yang kini bagai mendapat durian runtuh karena di percaya Shanum untuk mengantarkan Linda pulang ke apartemen, bukan tanpa alasan karena saat ini Linda merasa tak nyaman dengan perutnya.


Dengan merapatkan gigi Linda mencoba menahan rasa di perutnya.


"Bu Linda apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja?" tanya David yang mulai panik, keringat mulai terlihat keluar dari pori-pori kening Linda, menandakan saat ini ia sedang menahan rasa sakit.


Linda menggeleng pelan, sungguh ia sangat membenci aroma rumah sakit.


"Minum obat mungkin akan sedikit mengurangi sakitnya nanti" ujarnya.


"Apa bu Linda sering mengalami hal seperti ini?" tanya David tak tenang.

__ADS_1


Linda mengangguk meng iyakan.


David mempercepat laju mobilnya tak ingin membuat wanita di sebelahnya menderita menahan sakit lebih lama lagi.


Dengan cepat David membuka pintu samping di mana Linda terlihat lemas.


"Bu Linda kita ke rumah sakit saja oke?"


"Tidak, tolong bawa saya ke apartemen" ucap Linda lirih.


Bukan permintaan yang berat bagi David, lengan kekarnya pun mengangkat tubuh Linda ala bride style menuju pintu Lift.


Berkali-kali David menatap wajah Linda intens, matanya terpejam rapat dengan desisan lirih sempat di dengarnya.


"Sabar dulu bu, sebentar lagi kita sampai" bisiknya lembut.


Linda tak bisa lebih lama lagi berfikir, tangannya merangkul erat leher David agar memudahkan langkah pria tersebut karena menahan tubuhnya.


Tercium aroma maskulin dari dada bidang David, hati Linda mencelos,tak ingin ia mempercayai hal itu namun nyatanya, itu membuatnya sungguh nyaman.


Rasa perut yang tadi menyiksanya kini seakan hilang sirna, aroma tubuh David sungguh berpengaruh besar padanya, bagai wangi dari minyak aroma therapy yang membuat dada dan tubuhnya terasa nyaman.


Meski langkah David membuat tubuhnya sedikit terguncang namun Linda tak terganggu sama sekali, ia masih menikmati wangi tubuh David, diam-diam ia menghirup panjang dari hidung mancungnya agar aroma David memenuhi seluruh rongga paru-parunya.


"Bu Linda berapa nomor kode masuk pintu anda" tanya David, tak mungkin ia memperlihatkan bahwa dirinya hapal pin tersebut.


Linda menjulurkan tangan lalu menekan angka di panel pintunya.


Ceklek.


Linda masih terpejam rapat, ia tak ingin menyudahi kegiatan yang membuatnya nyaman itu.


Ia tak rela melepas pelukannya dari tubuh David.


Masih ia rasakan pria itu dengan sangat lembut merebahkan tubuhnya di atas pembaringan.


Sepasang sepatu pun ia lepaskan dengan gerakan lembut seakan tak ingin kulit kaki Linda lecet karena ulahnya.


"Bu Linda, di mana anda taruh obatnya biar saya ambilkan."


Linda mengerjapkan kedua matanya cepat.


Apakah saat ini ia masih memerlukan obat pereda nyeri perutnya, sedangkan rasa tak nyaman itu telah menghilang sejak pertama tubuhnya menempel pada dada bidang David.

__ADS_1


"Bu, bu Linda."


__ADS_2