Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Dunia Lain yang Tersisih


__ADS_3

David memasuki ruangan dengan senyum ceria, dengan adanya Asep yang kini sebagai OB tentu ia tak lagi merasa sendiri, sering David di ruangan merasa kesepian, Rangga yang sering meeting ataupun melakukan kunjungan ke perusahaan lain, sedangkan ia harus tetap berada di perusahaan untuk mewakilkan tugas Rangga.


Seperti siang ini, ada pertemuan para pengusaha muda di perusahaan Texindo Tbk.


Dan Rangga pun mewakili Wijaya Corp.


David membawa bungkusan yang di pesannya lewat online mendengus kesal, Rangga ternyata sudah lebih dulu berangkat menuju Texindo tanpa makan siang.


"Bang Asep ini buat Abang." David memanggil Asep yang baru datang dari kantin.


"Apa ini pak David?" Asep menerima dengan ragu.


"Tadi saya beli makan siang dua porsi bang, satu buat saya satu buat pak Rangga, eh ternyata pak Rangganya sudah berangkat meeting dulu, sayang dari pada mubazir bang" jelas David.


"T tapi saya sudah makan di kantin tadi pak."


"Ya udah bang Asep simpan saja buat makan nanti kalau lapar" sambungnya lagi.


Asep tersenyum senang, bungkusan makan siang berisi daging bulat pipih dengan aroma yang sangat wangi, tentu Anah akan senang bila ia membawanya pulang nanti, batin Asep.


"Terima kasih pak David, ini mau saya bawa pulang saja buat istri saya, pasti dia akan senang sekali, sudah lama dia ingin makanan ini."


"Hm dari mana bang Asep tahu kalau istri bang Asep akan senang dengan makanan ini?" tanya David.


"He he..dia suka lihat di tivi pak, sebenarnya saya sudah ada niat mau membelikan nanti kalau saya gajihan, tapi ternyata hari ini pun saya sudah dapat dari pemberian pak David, sekali lagi terima kasih banyak pak."


David mencelos, niatnya hanya untuk memberi makanan tersebut pada Asep daripada terbuang sia-sia, karena sering ia membuang makanan hanya karena sudah kenyang ataupun sudah dingin, namun hatinya berdenyut nyeri saat Asep dengan polos menceritakan keinginan sang istri yang belum tercapai, yaitu makan steak yang di lihatnya di iklan di televisi.


Makanan yang menurut David berharga ramah di kantongnya, namun berharga mahal bagi Asep.


"Bang Asep sayang banget ya sama istri abang?" tanya David menatap Asep intens.


Dengan tertunduk malu Asep mengangguk pasti.


"Saya beruntung mendapatkan dia pak, dia seorang wanita yang selalu sabar menerima keadaan saya, meski hidup serba kekurangan tapi dia tak pernah mengeluh pak, dia selalu menyambut saya pulang dengan wajah tersenyum, sering saya pulang hanya membawa uang sepuluh ribu rupiah, namun ia tetap menerima dengan ikhlas tanpa mengeluh, saya merasa berdosa padanya, dulu saya melamar dan berjanji akan membahagiakannya namun ternyata hanya derita yang saya berikan, saya ingin sekali membahagiakan istri saya Pak."


David mengalihkan wajahnya, kedua matanya tiba-tiba terasa panas dan berkabut, dadanya terasa sesak, ia merutuki kebodohannya selama ini, hidup dengan bergelimang harta dengan banyak menghamburkan uang, namun ternyata masih banyak orang-orang yang hidup dalam kemiskinan.


"Ya udah saya mau buat kopi dulu bang" David bergegas meninggalkan Asep dengan masih memalingkan wajahnya agar pemuda sederhana tersebut tak melihat air yang hampir menetes dari sudut matanya.


"Pak David tunggu, biar saya saja yang bikin kopi buat pak David, itu tugas saya pak" Asep berlari menyusul David ke pantry.


"Nggak apa-apa bang, saya lagi pengin buat kopi sendiri, lagi nggak ada kerjaan" jawabnya cepat.


Asep terdiam, kenapa asisten bosnya itu tiba-tiba bersikap aneh, batinnya.

__ADS_1


Setelah membasuh muka dan menenangkan hatinya, David memandang kaca jendela balkon pantry.


Nafas panjang beserta asap keluar dari rokok yang di hisapnya.


Kerasnya dunia yang tak pernah di bayangkan kini terpampang jelas di hadapannya.


Kenapa orang sejujur dan se baik dia, masih hidup dalam kesengsaraan dunia.


Ceklek.


Asep melangkah perlahan memasuki ruangan, di taruhnya bungkusan makanan dari David ke dalam kitchen set.


"Bang Asep itu nanti sampai di rumah sudah dingin bang, kan nggak enak lagi" ujar David.


"Ah tidak apa-apa pak, makanan dingin mah sudah biasa buat kami, jangankan dingin makanan hampir basi pun sering kami makan pak, he he daripada kelaparan."


Asep terkekeh polos, kalimat sederhana namun membuat hati David bagai hancur terkoyak.


"Ah bang Asep saya mau minta tolong, serahkan berkas ke bagian personalia ya bang."


David cepat mengalihkan pembicaraan, tak ingin air matanya mengalir lagi, semua kisah Asep sungguh membuat hatinya remuk redam, tak sanggup rasanya ia terus mendengar kisahnya yang menyayat hati.


"Oh baik pak" langkah Asep bergegas menuju lift, sekarang ia tak lagi gamang saat memencet tombol lift.


David tersenyum bangga.


Drrt drrt.


"Vid tolong bawa berkas di atas meja gue dan antar ke sini secepatnya."


David mengedarkan pandangan ke atas meja Rangga, dan bergegas membawa berkas ke Texindo di mana meeting siang ini di adakan.


Memiliki waktu yang tipis David melajukan kereta besinya dengan kecepatan tinggi.


Untunglah bukan saat jam macet hingga perjalanan yang di tempuhnya tanpa kendala.


Satpam penjaga membungkuk hormat saat David keluar dari mobil silvernya.


"Maaf pak ruang meeting di lantai berapa ya, saya mau menyerahkan berkas pak Rangga yang tertinggal."


"Oh di lantai tujuh pak, silahkan masuk" jawab satpam penjaga lift dengan sopan.


Beberapa detik panel lift hampir tertutup, sebuat tangan berjari lentik menahan hingga panel kembali terbuka.


Nafasnya tersengal dengan dada naik turun.

__ADS_1


"Bu Linda" David berucap tak sadar, entah kenapa hatinya begitu berbunga melihat wajah yang selama ini mengacaukan hati nya.


"Ah pak David, selamat siang pak" sapa Linda dengan senyum yang tampak sedikit masam.


Ia begitu bersemangat mewakili Testafood untuk meeting para pengusaha karena berharap Rangga lah yang mewakili Wijaya Corp.


Namun hatinya mencelos saat ternyata asisten David yang datang.


David beberapa kali melirik ke arah Linda, keduanya tak lagi saling sapa membuat suasana di ruang lift hening.


Ting.


Linda melangkah mendahului David, keduanya menuju ruang meeting.


Ceklek.


Ruang meeting yang memang sudah banyak terisi para perwakilan dari perusahaan yang mengikuti meeting tampak riuh dan masih tampak santai.


David mengedarkan pandangan mencari di mana tempat duduk atasanya itu.


Sedangkan Linda melangkah menuju kursinya, tanpa mengacuhkan pandangan para peserta meeting yang banyak teralih karena kedatangannya.


Tak tok tak.


Seorang pria paruh baya yang merupakan tuan rumah sekaligus pimpinan Texindo muncul dari pintu masuk.


Langkahnya tegap dengan wajah tenang penuh wibawa.


"Tunggu di sini." Rangga berbisik lirih.


David mengurungkan niatnya saat hendak meninggalkan ruangan setelah Rangga menyuruhnya duduk di kursi di belakangnya.


David duduk tenang di belakang Rangga, pihak tuan rumah memang menyediakan kursi tambahan untuk para asisten.


Sementara Linda tampak masih fokus dengan berkas yang di bawanya.


Suasana kini berubah hening, suara pemimpin Texindo membahana di ruang meeting, Linda terlihat tak fokus, suasana hatinya tiba-tiba muram.


Ia mengarahkan pandangan ke seluruh ruang meeting.


Deg.


Hati Linda berdebar kencang sosok yang selama ini menjadi penyemangat hari-hari nya ternyata sedang duduk manis di kursi di ujung ruangan.


Matanya yang tajam tampak fokus memandang pada pemimpin Texindo yang sedang memberikan kata sambutan.

__ADS_1


Tampannya calon suamiku.


__ADS_2