Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Bibir Asam Manis


__ADS_3

Shanum menelan salivanya, niat hanya untuk mengembalikan kado namun kini ia merasa tak tega meninggalkan Joy yang dengan penuh telaten mengupas udang dan menaruhnya di piring tepat di depannya.


Hidangan seafood adalah salah satu menu andalan di restoran ini, dan Joy menyuruh karyawan menyajikan hidangan istimewa untuk wanita yang juga istimewa


"Jangan terlalu fokus kau melihatku, nanti kau tak bisa tidur nyenyak"ujar Joy penuh percaya diri membuat Shanum sontak sadar dari lamunannya.


"Ish, aku hanya kagum kau begitu terampil mengupas udang itu"jawab Shanum mencoba tenang.


"Aku tak hanya terampil mengupas udang ini, memasaknya pun aku pintar"jawab Joy.


"Hmm" Shanum hanya mengangguk pelan.


"Kalau kau tak percaya, kau bisa menikmati masakanku suatu saat nanti"Joy mulai melancarkan siasatnya.


"Boleh juga".


Joy tersenyum senang.


"Makanlah"ujarnya.


Shanum memandang dengan binar bahagia, ia penggemar seafood, tapi mengupas udang adalah salah satu hal yang di bencinya, maka ia pun jarang memesan udang jika ada menu seafood.


Dengan lahap Shanum menikmati sepiring udang berbumbu asam manis kesukaannya, Joy memandang dengan senyum puas.


"Jangan terlalu cepat kau mengunyah Sha, nikmati dan rasakan dengan perlahan"ucap Joy sambil mengarahkan tisu ke arah bibir Shanum hendak membersihkan sisa saos yang mengotori sekitab bibir mungil itu.


Shanum sontak memundurkan wajahnya.


"Ehm, biar aku yang bersihkan"ujarnya lalu mengusap bibirnya dengan cepat.


Rona wajah Joy berubah murung, Shanum menyadari hal itu pun segera menetralkan suasana.


"Kurang sopan sekali rasanya, sudah kau kupaskan udangku, masih juga kau mau mengelap kotoran di bibirku", ucap Shanum dengan mimik wajah penuh sesal.


Joy memandang tajam netra Shanum.


"Aku bisa melakukan apapun untukmu"ujarna lirih.


"Uhukk uhukk"tenggorokan Shanum bagai tersedak sendok garpu mendengar penuturan Joy.


Ia tak ingin suasana yang sudah mulai hangat kini berubah menjadi kaku kembali.


"Bukan begitu Joy, kau pemilik restoran ini, apa pandangan para karyawanmu jika bos mereka di perlakukan seperti ini oleh konsumennya"tutur Shanum panjang.


"Mereka tidak akan berani berpikiran macam-macam padamu".


Shanum hanya dapat menghela nafas panjang,sempat ia melihat para karyawan yang tengah berbisik dengan tatapan mengarah padanya.

__ADS_1


Pandangan iri dari para karyawan namun banyak juga di antara mereka yang memandang dengan rasa kekaguman pada Shanum, wanita yang berhasil menaklukan hati sang Tuan Muda yang biasanya dingin pada para gadis lain


Meski ia adalah pemilik restoran besar ini, namun Joy juga masih tercatat sebagai salah satu mahasiswa di kampus swasta terkenal dan tak pernah sekalipun Joy mengajak teman wanitanya.


Joy berharap Shanum sedikit demi sedikit mau menerimanya, meski hanya sebagai teman, Joy hanya tidak ingin Shanum membencinya, biarlah saat ini hubungan mereka hanya sebagai teman biasa dan sementara Joy akan menyusun rencana selanjutnya.


"Sayang, aku sedang bersama ayah Hardy, di mana kau sekarang?"Shanum tersenyum melihat pesan yang Rangga kirim.


Cekrek.


Joy membulatkan matanya, saat Shanum dengan cepat memotretnya tanpa ijin dahulu.


"Maaf aku memotretmu he hee"Ucap Shanum tanpa dosa.


"Ehhm hmm"bukannya marah tapi Joy merasa hatinya begitu senang, Shanum memotretnya dengan sengaja.


"Kalau kau meminta ijin tentu aku akan berpose dahulu agar hasilnya terlihat lebih bagus"ujar Joy percaya diri.


"Ah siap nggak siap,dari sudut mana pun gambarmu akan tetap tampan"jawab Shanum santai, membuat Joy semakin berbunga dan kupu-kupu kini beterbangan di dadanya.


"Aku sedang ada perlu dengan dia,sebentar lagi akan selesai"tanpa Joy ketahui bahwa kenyataannya adalah Shanum memotretnya untuk ia kirim pada Rangga.


Meski dada terasa sesak, tapi rangga juga terharu pada Shanum yang mengatakan dengan jujur.


"Baiklah,aku percaya padamu, lekaslah pulang aku menunggumu"kalimat balasan dari Rangga membuat Shanum tersenyum tenang.


"Maaf Joy, aku harus pulang, tak enak jika ayah lama menungguku di rumah"ucap Shanum.


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, kau telah banyak memberi hadiah padaku setelah aku menyakitimu"ucap Shanum penuh sesal.


"Sudah ku katakan, lupakanlah, aku yang sudah bersalah padamu, karena ulahku namamu jadi tercemar"jawab Joy tulus.


Shanum tersenyum.


"Sudahlah, kita sama- sama saling memaafkan"ujar Shanum.


Joy pun melepas kepergian Shanum dengan puas, langkah pertama buat ia terpesona selanjutnya... terserah anda, batin Joy tersenyum smirk.


Shanum menjalankan mobilnya, hatinya kini sedikit lega setelah bertemu Joy dan nyonya Maharani ibunya.


Setengah jam perjalanan akhirnya mansion Hardy telah terlihat, Shanum menghentikan mobil, di ambilnya ponsel lalu jarinya mengetik nama Maharani di laman pencarian.


Mulut Shanum pun membulat saat melihat hasil pencarian tentang Maharani yang terpampang jelas di layar ponselnya.


Seorang wanita single parent sukses, Desainer terkenal dengan beberapa aset kekayaan yaitu beberapa restoran, butik mewah dan salon kecantikan.


Shanum menutup layar ponselnya, dan menghela nafas dalam.

__ADS_1


Senyumnya mengembang saat Rangga menyongsongnya.


"Hmm yang habis kencan bahagia banget, sampai lupa waktu, sama lupa calon suami yang sudah menunggu sampai berakar pantatku rasanya"sindir Rangga halus namun terasa menusuk hati.


"Eh siapa yang kencan, aku cuma mau mengembalikan hadiah yang ia berikan kemarin"jawab Shanum sewot.


"Iya tahu"ujar Rangga singkat, ia hanya ingin menggoda wanitanya yang akan berubah begitu menggemaskan jika sedang cemberut kesal.


Shanum mengerucutkan bibirmya.


Rangga meraih kedua pipi Shanum dan menekannya hingga membuat bibir mungil yang mengerucut itu terlihat semakin menggemaskan.


"Ewwhh whhh"


Cupp.


Rangga mendaratkan bibirnya ke arah bibir mungil itu dengan ringan.


Lidah Rangga menyapu bibirnya sendiri saat ada sedikit berasa asam dan manis.


Matanya memandang Shanum yang kini semakin kesal, semakin hari Rangga semakin berani bertindak tak terduga dan tak tahu tempat maupun situasi.


"Rasa apa ini?"Rangga mengkerutkan kedua alisnya.


"Pikir aja sendiri"jawab Shanum.


"Kalau hanya sekilas, mana bisa aku paham rasa itu"ujar Rangga lalu kembali memajukan bibirnya hendak mengulangi kecupannya.


"Ngga,apaan sih"Shanum memundurkan wajahnya hingga lolos dari sambaran b**** Rangga.


"Aku mau mencoba lagi rasa apa b****mu sayang, kenapa kini menjadi rasa asam manis"modus Rangga dengan wajah polos.


"Tidak usah, aku baru makan seafod asam manis"Shanum menjawab cepat tak ingin Rangga kembali memodusinya.


"Jadi kau tega padaku, kamu enak-enakan dinner sedangkan aku disini berputar otak menghadapi ayahmu yang super perfectionis itu sayang" Rangga mulai merajuk.


"Kau tega membuatku menunggu hanya karena bocah ingusan itu"lanjut Rangga kini berubah semakin merajuk.


Shanum hanya terdiam, melihat ke dalam mansion yang terlihat sepi.


"Mana ayah Ngga?"tanya Shanum.


"Sayang...kau lupa harus memanggilku apa?"


Shanum menutup mulutnya reflek.


"Maaf sayang... aku lupa kalau sekarang aku sudah mempunyai calon suami"senyum Shanum polos.

__ADS_1


"S a y a n g....."tatapan tajam Rangga seakan menghujam hatinya.


"Maaf"Shanum menjawab singkat lalu melangkah menuju ke dalam mansion dengan cepat, tak mau meladeni sifat Rangga yang kini berubah posesif dan kekanak-kanakan.


__ADS_2