
Pagi hari Rangga bangun lebih awal, atas ijin Hardy ia hari ini tidak berangkat ke kantor.
Ia ingin menemani istrinya di mansion,meski Shanum bersikeras menolak, karena saat ini tubuhnya sudah semakin membaik.
Namun Rangga tetap pada pendiriannya, tak akan membiarkan Shanum merasa sendiri apalagi terabaikan, di masa trimester pertama selain harus menjaga kondisi kandungan dengan ekstra hati-hati kondisi emosi pun harus selalu terjaga dengan baik.
Hasil audit yang memuaskan membuat semua karyawan dapat bernafas dengan lega.
Dan dapat kembali bekerja seperti biasa tanpa ketegangan yang menyelimuti mereka sejak beberapa hari sebelum audit.
"Sayang, pagi ini aku akan menge lap tubuhmu." ujar Rangga setelah selesai membersihkan tubuhnya.
"T tidak, aku biar mandi sendiri." Shanum menjawab tegas.
"Sstt, ingat kata dokter sebaiknya kau kurangi aktifitas yang akan membuat goncangan perutmu, ingat sayang kau harus hati-hati."
Shanum hanya membulatkan matanya, perhatian Rangga terlalu berlebihan baginya.
Dasar suami mesum, memakai alasan tubuhku yang sedang tidak berdaya ini huh.
Dengan wajah cemberut Shanum hanya menurut saat Rangga membopong tubuhnya menuju kamar mandi.
"Sayang aku mau mandi, tubuhku gerah" Shanum protes karena Rangga hanya akan mengelap tubuhnya.
"Tidak sayang, kau akan kedinginan, pagi ini kau di lap dulu, mungkin sore baru mandi." Rangga menolak protes Shanum mentah-mentah.
Perlahan di lucutinya baju sang istri satu persatu.
"Sayang, aku lepas sendiri." Shanum melingkarkan tangannya di depan dada nya untuk menutupi aset berharga miliknya.
"Sayaang....aku sudah melihatnya semua yang ada di tubuhmu, bahkan yang tak dapat kau lihat sendiri pun, aku sudah lihat, jadi kenapa kau menutupinya dariku, apa kau masih malu pada suamimu ini heum?"
Dengan gerakan kikuk, Shanum melepaskan kedua tangannya, dengan penuh telaten Rangga menggosok tubuh Shanum dengan handuk kecil.
__ADS_1
Rangga tak melewatkan satu incipun tubuh Shanum untuk di gosoknya.
Meski dengan susah payah Rangga harus menelan saliva dan berdo'a agar Arjunanya mau kerja sama dan tetap tertidur di sarang hangatnya.
Bahkan bagian inti tubuh Shanum pun dengan lembut dan telaten Rangga bersihkan.
Tak terbayangkan bagaimana warna wajah Shanum saat ini.
Meski sudah sering ia menghabiskan waktu bersatu dengan sang suami, namun sungguh malu rasanya jika tangan Rangga membersihkan setiap inci tubuhnya.
"S sudah?" tanya Shanum.
"Bentar lagi sayang."
Sebenarnya ingin rasanya Rangga berlama-lama bermain dengan tubuh sang istri, ia ingin membelai, mengusap bahkan jika keadaan memungkinkan Rangga ingin memilin dan menyesap seluruh bagian tubuh Shanum.
Namun kondisi kesehatannya membuat Rangga harus mampu menahan hasratnya.
Setelah di rasa kering Rangga lalu membopong Shanum menuju kamar dan memakaikan baju secara lengkap
Begitupun saat makan, dengan sabar Rangga memilih buah yang sedang di inginkan oleh Shanum.
Hari ini rupanya sang istri ingin merasakan buah mangga, untunglah ada pak satpam yang dengan sigap, mau pergi ke pasar tradisional yang terletak tak jauh dari mansion.
Jika kebanyakan ibu hamil akan meminta buah mangga yang mangkal namun Shanum justru meminta buah yang sudah matang sempurna.
Matanya berbinar saat Ramgga membawa sekeranjang besar buah mangga dengan berbagai jenis dari pak satpam.
Sengaja Rangga memesan semua jenis mangga yang ada di pasar masing-masing satu kilo.
Di ciumnya satu persatu buah yang beraroma harum itu.
Pagi hari Shanum sama sekali tak berselera untuk mengisinya dengan bubur atau pun nasi dengan berbagai lauk.
__ADS_1
Hanya buah mangga yang dapat membangkitkan nafsu makannya.
Air liurnya seakan hendak menetes dari mulutnya.
"Sayang aku ingin makan mangga ini tolong kupaskan" pinta Shanum dengan wajah memelas.
"Sayang setidaknya isi sedikit perutmu dengan sesuap bubur atau pun nasi, ini masih pagi sayang."
Shanum sontak diam, air mukanya tiba-tiba berubah murung.
"Bi bibi" panggilnya pada salah satu bibi di dapur.
Tergopoh-gopoh bibi tambun itu berjalan ke arah Shanum.
"Ada apa non, apa yang perlu bibi masak buat non?" bibi mengira jika Shanum memanggilnya karena ingin makan sesuatu.
"Ehm tolong ambilkan pisau bi, aku mau makan ini." terang Shanum.
Bibi melirik ke arah Rangga yang mengisyaratkan anggukan kepalanya.
Dengan pisau kecil dan sebuah piring kosong beserta sendok garpu bibi menyerahkan pada Shanum.
Wajah ceria Shanum terbit saat mengambil pisau di tangan bibi, dan mengambil satu buah mangga dengan ukuran paling besar dan berwarna kuning ke merah-merahan.
Namun belum sempat Shanum menggerakan tangannya, Rangga sudah lebih dulu mengambil pisau di tangan Shanum.
"Biar aku yang mengupasnya, kau tinggal duduk manis, dan tunggu lima menit, buah impianmu akan siap kau makan sayang."
Shanum mencebikan bibirnya dan memutar matanya ke arah lain dengan jengah.
Rangga hanya tersenyum gemas.
Menghadapi seorang ibu hamil memang butuh kesabaran tingkat dewa, hormon yang menyebabkan efek emosi naik turun bagai rollercoaster sungguh membuat Rangga harus menyiapkan kesabarannya untuk menghadapi sang istri.
__ADS_1