Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Persahabatan Kita


__ADS_3

Rangga mengerjapkan matanya perlahan cahaya mentari yang mulai mengintip di kaca jendela membuat kamarnya mulai terang, wajah cantik Shanum dengan pipi yang semakin membulat yang masih terlelap dalam dunia mimpinya.


Senyum Rangga terbit saat melihat posisi tidur sang istri yang jauh dari kata 'tidur cantik'.


Ibarat pulau, kaki kanan di sabang dan kaki kiri di merauke, begitupun kedua tangannya yang membentang tinggi, bagai sugar glider yang terbang melayang di udara.


Dan posisi itu pun sukses membuat Rangga harus menelan salivanya.


Baju tidur yang tersingkap di beberapa bagian membuat perut putihnya terekspose sempurna.


Tak ingin kembali merasakan tersiksanya hasrat yang harus di padamkan secara paksa, Rangga segera menutup tubuh Shanum dengan selimut agar tak mengganggu pemandangan paginya.


Langkahnya berjalan gontai menuju kamar mandi dan segera menyiapkan air hangat.


Hari ini Rangga harus mulai memeriksa evaluasi kinerja karyawan, yang kini menjadi tugasnya.


Evaluasi yang selalu di periksa rutin setiap tahun.


Tentu saja ia pun harus memberi apresiasi pada karyawan yang memenuhi standar untuk di angkat menjadi karyawan tetap, di perusahaan Wijaya Corp.


Setelah selesai membersihkan tubuh Rangga pun berganti dengan kemeja putih dan jas hitam.


Dasi yang sudah terpasang rapi dengan rambut yang di juga sudah di sisir dengan sedikit pomade agar tetap tertata.


Di lihatnya tubuh Shanum menggeliat perlahan dari balik selimut, Rangga mendekat dan mendaratkan kecupan selamat pagi di dahi sang istri.


Cupp.


"Selamat pagi sayang" sapa Rangga dengan senyum manis.


Shanum mengerjap sambil mengumpulkan separuh nyawanya.


"Heumm, aaaahhhk" Rangga cepat menoleh ke arah Shanum karena mendengar teriakan nyaringnya.


"Apa, kenapa sayang, ada apa?" tanya Rangga panik.


Shanum memandang Rangga dengan wajah bingung, begitu lelapkah tidurnya hingga dadanya kembali menjadi korban hasil karya bibir suaminya.


Rangga hanya mengulas senyum puas.


"Salah siapa kau tidak menutupinya dengan kain yang benar" ujar Rangga santai.


"Ahh, ini anjuran ibu" jawab Shanum singkat.


"Ibu, ibuku menyuruhmu tidur tanpa kain penutup dadamu?" Rangga tak percaya jika sang ibu lah yang membuatnya bisa menikmati squishi sang istri dengan lebih leluasa.


"Iya, ibu mengatakan bahwa sebaiknya tidur tanpa memakai BH agar sirkulasi darahku lebih baik dan nafas pun lancar" terang Shanum polos.

__ADS_1


Rangga menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Tapi, kenapa malah jadi seperti ini" kini Shanum berucap pasrah setelah melihat apa yang di perbuat Rangga pada dadanya.


Semalam dadanya masih putih mulus tanpa noda, tapi pagi ini stempel berwarna merah seakan membuat dadanya kini bagai kain batik bercorak pulau-pulau kecil berwarna merah.


Rangga merengkuh Shanum ke dalam pelukannya.


"Maafkan suamimu yang tak bisa menahan diri untuk menikmati keindahan tubuhmu, aku tak akan mengulanginya lagi."


Jika tidak dalam keadaan mendesak, batin Rangga.


Mandi lah dulu, kita sarapan bersama ibu dan ayah di bawah.


Shanum mengangguk patuh, lalu masuk ke kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama, keduanya melangkah menuruni tangga dan menuju ruang makan di mana sudah tersedia menu yang tercium harum ke seluruh ruangan.


Masakan Hana memang mempunyai ciri khas tersendiri.


Dengan dedaunan rempah ia pakai membuat aroma masakannya semakin menggugah selera.


Dan Shanum di buat ketagihan dengan aroma wangi tersebut.


Acara sarapan pagi tak berlangsung lama karena Rangga harus segera berangkat, begitupun Hardy.


Hari ini Shanum ingin mengajak Hana pergi jalan-jalan, namun Hana menolak pergi pagi karena ia ingin belanja ke pasar terlebih dahulu untuk membeli bahan masakan request Shanum yaitu sambal ati.


"Bu aku berangkat dulu, kalau ada perlu hubungi aku segera." ucap Rangga.


Hana mengangguk.


Shanum hari ini tak sedetik pun membiarkan mertuanya menjauh darinya, ia bagai anak itik yang selalu berada di belakang sang induk.


Mendengar Hana akan pergi ke pasar tradisional membuat Shanum sungguh merasa senang, namun kini wajahnya berubah muram saat Hana melarangnya untuk ikut bersamanya ke pasar.


"Tapi ibu kan belum pernah ke pasar bu, biar aku temani agar tak tersesat" Shanum mencoba dengan bujukan yang logis, namun membuat bibi di dapur mansion yang mendengar tersenyum gemas.


Bagaimana mungkin ia menawarkan diri menjadi penunjuk jalan sedangkan dirinya pun belum pernah pergi ke pasar tradisional.


Hana menggeleng lembut, akan membahayakan bagi ibu yang sedang hamil pergi kepasar, selain penuh sesak, tempatnya pun rata-rata tidak terlalu nyaman apalagi untuk Shanum yang tak boleh terlalu banyak bergerak.


"Ibu akan pergi bersama bibi nak."


Shanum mengerucutkan bibirnya, pupuslah sudah harapan untuknya ikut pergi ke pasar bersama ibu mertuanya itu.


"Kau duduklah yang tenang di sini, nanti ibu akan buatkan banyak makanan yang enak" bujuk Hana.

__ADS_1


Mata Shanum berbinar bahagia seketika, lalu mengangguk senang.


Hana pun pergi dengan salah satu bibi untuk menemaninya.


Sementara di kantor, Rangga kini sudah mulai memeriksa data evaluasi di ruangannya.


Tok tok.


David muncul dengan raut wajah yang tak bisa Rangga jabarkan.


"Ada apa Vid?"


David menyodorkan kunci mobil pada Rangga, dan Rangga menerimanya namun tatapan tak lepas dari sang asisten.


"Maaf atas kelancangan saya."


Rangga semakin gusar dengan ucapan David.


"Apa kesalahanmu hingga harus meminta maaf padaku?"


Rangga menghirup udara panjang dari hidungnya paru-parunya terasa sesak.


David tertunduk dengan rasa sesal.


Perlahan Rangga menepuk pundak bidang sang asiste.


"Jangan cemas, itu bukan masalah besar, biar aku yang akan menjelaskan padanya."


Ucap Rangga lalu melangkah keluar dari ruangan.


Ceklek.


Pintu ruangan IT. Terbuka setelah Rangga menekan tuas berwarna silver.


Danu dan Dika sontak berdiri dan mengangguk hormat melihat kedatangan Rangga yang tiba-tiba tersebut.


Rangga menatap kedua kembar bersaudara itu silih berganti.


Keduanya menunduk, seakan ada beban berat yang sedang di pikul leher mereka.


"Apa maksud yang kau katakan pada saudara lu Dik, ada apa sebenarnya di antara kalian, apa di antara kita sudah tak ada lagi rasa kesetiakawanan yang telah terjalin selama ini, apa kalian sudah tak menganggapku sebagai sahabat kalian lagi, begitu jauhkah jarak di antara kita sekarang hingga kau minta saudaramu sendiri untuk menjaga jarak dariku, apa se menakutkan itu kah aku di mata kalian?" Danu dan Dika tetap menunduk tanpa kata, ucapan bernada sinis seakan menusuk jantung mereka.


Rangga meremas rambutnya, dadanya begitu sesak saat David memelas memohon maaf padanya, mobil Rangga yang di bawanya membuat Dika murka dan menganggap David telah lancang dan menggunakan akal licik untuk mendekati Rangga, bahkan Danu menganggap David ingin merongrong kekuasaan Rangga dengan cara yang licik, Dika dan Danu mengira David telah mencekoki Rangga dengan kata-kata manis dan tipu muslihat hingga Rangga begitu mempercayai David, bahkan membiarkan mobil yang biasa di kendarai CEO Shanum untuk di pakainya.


Rangga sungguh tidak mengira mereka bisa berfikir se picik itu pada saudara sendiri.


💦💦💦💦💦

__ADS_1


Ingatlah untuk tinggalkan jejak, jangan lupa like, koment dan vote 😘😘😘


__ADS_2