Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Banyak Lelaki Tampan


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah wajah Linda yang hari ini akan berangkat kerja.


Berat kepalanya sudah hilang, iapun bersemangat karen hari ini ada pertemuan rutin para pengusaha di Testafood, harapan besar Linda adalah Rangga yang akan berangkat mewakili Wijaya Corp.


Dengan baju khas yang sexy dan make up wajah se cantik mungkin, bahkan pagi ini Linda menyempatkan diri untuk memakai masker yang di belinya di negara yang terkenal dengan para wanitanya yang berkulit halus dan cerah hanya untuk terlihat cantik paripurna saat bertemu Rangga nanti.


Sementara itu di mansion, Shanum melepas sang suami dengan kecupan ringan sebagai hadiah karena sudah mau mengabulkan permintaannya.


Di jaman serba sulit seperti sekarang sungguh sangat sulit mendapat orang jujur dan pekerja keras seperti Asep, maka Rangga tak menolak saat Shanum memintanya untuk memberikan sebuah pekerjaan di Wijaya Corp.


Dan ucapan beribu terima kasih dari Asep saat dirinya di minta Rangga untuk menjadi Office Boy di perusahaan.


Isak tangis haru Anah seraya memeluk sang suami kala seorang satpam dari mansion mendatangi mereka dan mengabarkan berita baik tersebut.


Asep berkali-kali mematutkan diri di hadapan cermin, celana bahan berwarna hitam dan kemeja lengan pendek sudah rapi di tubuhnya.


Rangga sengaja tak meminta Asep untuk di haruskan memakai kemeja putih di hari pertama masuknya.


"Sudah rapi belum abang neng?" tanya Asep pada sang istri.


"Heum, sudah bang, abang sudah rapi, berangkatlah segera, jangan sampai di hari pertamamu kerja, malah telat."


"Iya Neng, abang berangkat ya."


Anah mencium takzim punggung tangan suaminya, ada rasa haru bercampur bahagia, baru kali ini melepas sang suami berangkat kerja tanpa mengayuh sepeda ontelnya, hari pertama bekerja Asep sengaja mau naik angkot, uang dari bu Shanum cukup banyak dan Anah memberikan pada suaminya uang untuk pegangan di hari pertamanya bekerja.


Asep menatap takjub bangunan tinggi di hadapannya gedung megah perusahaan Wijaya Corp, tempatnya kini akan bekerja, setelah bertahun-tahun menjadi seorang penjual kie jadul, dengan ijazah sekolah menengah yang ia punya, seakan mimpi, kini Asep akan memasuki gedung tersebut untuk menjadi salah satu karyawan di sana.


Langkahnya pasti menuju Front Office.


Dengan ragu ia serahkan map berisi data diri miliknya.


"Bapak silahkan di minta untuk langsung ke ruang personalia untuk mengurus data diri di sana pak."


"Ah d dimana ruang personalia itu ya mbak?" tanya Asep terbata, dadanya sungguh berdebar kencang, baru kali ini ia memasuki kantor luas untuk mengisi data diri.


Asep pun menganggukan kepalanya mengucapakan terima kasih saat wanita bagian Front Office tersebut mengantarnya ke ruang personalia.


Dan setelah tiga puluh menit pemuda itu mengisi formulir data diri lengkap ia pun menuju gudang tempat peralatan kebersihan.


"Pak, pak Asep" panggil Monik bagian personalia memanggil Asep untuk ke ruang wakil CEO.


Asep berdiri dengan mata menatap panel lift yang tertutup, berfikir bagaimana caranya memencet tombol agar ia bisa memasuki ruang CEO di lantai atas.


Monik tersenyum melihat kepolosan pemuda bernama Asep tersebut.

__ADS_1


Dengan sabar ia menuntun pria tersebut memasuki lift, sudut bibirnya terangkat membentuk garis lengkung.


Panel lift terbuka saat di depan ruang wakil CEO Asep berdiri termanggu di tempatnya.


"Bang Asep udah sana masuk" ucap Linda saat terdengar perintah dari atasannya untuk segera masuk.


Dengan ragu Asep menarik tuas pintu.


Ceklek.


"Ah silahkan masuk bang Asep?" titah Rangga ramah.


Asep melangkah ragu, melihat pria yang beberapa hari ini memberinya berbagai hadiah duduk dengan setelan jas hitam membuat wajah Rangga terlihat berkali-kali lipat lebih gagah dari biasanya.


"Duduklah bang."


Asep duduk di kursi di hadapan Rangga dengan wajah tertunduk.


"Bang, kenapa jadi kalem gitu bang Asep?" tanya Rangga gemas.


"Ah s saya bingung pak."


"Bingung, kenapa pak?"


"Saya sama sekali tidak mempunyai ke ahlian tapi pak Rangga mau menerima saya untuk bekerja di perusahaan bapak, a apa yang harus saya lakukan pak?" suara Asep terbata.


Asep menatap Rangga ragu.


"A apa hanya itu pak?" Asep tentu saja heran, ia hanya di tugaskan membersihkan ruangan pak Rangga dan membuat kopi, di bandingkan setiap hari kerjaannya membuat kue tentu itu adalah tugas yang sangat ringan, pikirnya.


Asep biasa bangun jam empat pagi untuk menyiapkan adonan kue lalu berangkat berdagang jam enam, dan baru pulang setelah adonan kue terjual semua, jam delapan malam ia baru bisa berkumpul dengan sang istri.


Rangga terkekeh, pemuda polos tersebut terbiasa bekerja keras, hanya untuk membersihkan satu ruangan tentu saja baginya tugas yang terlalu ringan.


"Ehm untuk hari ini hanya itu dulu ya bang Asep, nanti saya konfirmasi dulu sama asisten saya, tempat mana yang membutuhkan bantuan bang Asep."


Asep mengangguk patuh.


"Baiklah bang Asep sekarang abang mulai tugas abang, tolong buatin saya kopi bang, tanpa gula ya, dan semua bahannya ada di pantry."


Asep menatap Rangga bingung.


"P pantry itu apa pak?"


Untuk kesekian kalinya Rangga terkekeh, sungguh kepolosan Asep menjadi satu hiburan ringan di pagi hari.

__ADS_1


"Pantry yaa...ehm, dapur bang, iya pantry adalah dapur kantor, tempat nantinya abang membuat kopi dan minuman" jelas Rangga sederhana.


"Ooh, baik Pak, saya akan buatkan kopi untuk bapak."


Asep pun melangkah ke ruangan yang berada di sebelah ruang CEO.


Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, perusahaan besar ternyata mempunyai dapur juga, pikirnya sambil menarik tuas pintu pantry.


Langakahnya tertahan, mata nya takjub memandang ruangan luas berisi perabotan makan dan minum yang terlihat begitu rapi dan bersih, Asep melangkah ke kithen set dan membukanya.


Mulutnya menganga lebar, berbagai merk kopi lengkap tersedia di dalamnya, juga gula dan susu tertata rapi.


Glek.


Asep menelan ludah kasar, untuk menikmati segelas kopi sachet, Asep harus berfikir ulang untuk membeli kopi instant tersebut karena terlalu mahal baginya, dan lebih memilih meminum kopi curah yang biasa di beli Anah di warung dekat rumahnya.


"Ehm hmm."


Asep terjingkat saat suara deheman mengagetkan ketakjubannya pada isi kithen set tersebut.


"Ah m maaf pak," ucapnya terkejut sambil menundukan kepalanya.


"Kenapa bang, mau buat kopi buat pak Rangga ya, kalau buat beliau pakai kopi yang di kaleng itu bang, tanpa gula."


David mengambil kaleng berbahan kaca tebal lalu menyerahkan pada Asep.


Asep mengangguk pelan.


"Oiya bang kenalin, nama saya David, asisten pak Rangga, abang namanya Asep ya?"


Asep mengangguk menyambut uluran tangan David setelah terlebih dahulu ia mengusapkan tangan ke bajunya.


"Kenapa di lap dulu bang?" tanya David bingung.


"Ah takut tangan bapak nanti kotor kalau salaman dengan tangan saya."


David menatap Asep, dadanya berdenyut nyeri, dari cerita atasannya, Asep hidup dalam kesederhanaan namun ia adalah seorang pekerja keras dan jujur.


Ia melihat wajah polos, juga rendah hati di diri seorang Asep.


David menyambar tangan Asep dan menjabatnya erat.


"Jangan merasa rendah diri, kita semua sama di hadapan Tuhan, saya tidak lebih baik dari bang Asep."


Asep hanya melongo, tangan kekar David menyalaminya dengan erat.

__ADS_1


Begitu banyak lelaki tampan dan baik di tempat ini.


__ADS_2