Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Sahabat Lama


__ADS_3

Rangga diam tak berkutik, di sampingnya Linda yang masih terbaring di sofa di ruangannya, sementara David memanggil dokter di klinik perusahaan, entah kenapa ponsel dokter tersebut tidak aktif.


Rangga mengipasi tubuh Linda dengan map kosong.


Masa iya tubuh semok gini pingsan karena belum makan, dugaan batin Rangga.


"Ehhhmm" lenguhan lirih keluar dari bibir sensual Linda, matanya mengerjap sambil menyapu ruangan.


"Sshhh" desisah halus membuat Rangga mendekati Linda.


"Bu Linda kenapa, apa yang sakit bu?"


Linda menatap Rangga tajam.


Wajahnya sangat tampan, rahangnya tegas, dan hidung mancung dengan alis lebat, pastilah dia sangat kuat, Linda membatin dengan senyum smirk dari bibirnya.


"Bu , apa bu Linda masih pusing?"


Hah pusing, batin Linda penuh tanya, lalu otaknya mencoba berfikir apa penyebab ia pingsan.


Hari ini ia baru minum segelas jus buah tadi pagi, target berat badannya masih harus turun dua kg lagi.


"Ehm mungkin saya kurang tidur pak." jawabnya menutupi kenyataan sesungguhnya.


Kruuuyuk.


Namun ternyata Tuhan berkata lain, bunyi dalam perutnya menunjukan bahwa sekarang ia sedang lapar.


"Bu Linda belum makan? Biar saya suruh satpam untuk membelikan makanan untuk ibu."


"Ehm t terima kasih pak" wajah Linda bersemu merah.


Perlahan Linda bangkit dari tidurnya namun pusing kepalanya membuatnya limbung dan akhirnya kembali terjerembab ke sofa andai saja tak di tahan oleh tangan kekar Rangga.


"Hati-hati bu, pelan saja bangunnya" Rangga memapah tubuh Linda agar bisa kembali duduk bersandar.


Debaran jantung Linda kini tak beraturan, sentuhan tangan Rangga membuat tubuhnya kini panas dingin, tangan kekar penuh otot karena saat ini Rangga melipat kemejanya hingga sebatas siku.


Andai saja berada dalam pelukan dadanya yang bidang ahh... sungguh bahagia aku, Linda kini berfantasi liar efek sentuhan Rangga.


Linda meraih satu tangan Rangga dan menggenggamnya erat untuk berpegangan.


Rangga yang tak menyadari bahwa Linda sengaja berpegangan tangan padanya pun santai saja bahkan satu tangan yang lain memegang bahu Linda agar duduknya stabil.


"Duduklah bu saya akan mengambil minum untuk bu Linda sebentar."


"Ehhm terima kasih pak, maaf sudah merepotkan."


Linda begitu girang, Rangga begitu perhatian padanya, hatinya kini berbunga-bunga.


Segelas air hangat yang Rangga ambil dari pantry ia sodorkan ke Linda, lalu mengambilmya lagi setelah Linda meminumnya habis.


Tok tok.


"Masuk".

__ADS_1


Seorang satpam menunduk hormat dan menyerahkan bungkusan pesanan Rangga.


"Maaf pak ini pesanannya."


"Baiklah terima kasih"


Satpam itupun ke luar dari ruangan, sudut matanya ****** melirik ke arah tubuh bawah Linda yang putih mulus tersingkap karena rok span yang di pakai berbelahan tinggi.


Sebungkus nasi kotak berlauk daging rendang dan sayuran berbumbu kental membuat Linda menelan salivanya.


Jika ia memakannya tentu dietnya akan gagal, namun untuk menolak rasanya tak tega karena itu adalah pemberian lelaki yang di sukainya.


"Makanlah bu, selagi hangat."


Linda mengangguk pelan, lalu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Tatapannya berkali-kali melirik ke arah Rangga yang asik memeriksa berkas di meja kerjanya.


Drrt drrt.


"Halo, iya ..oh oke, sore ini ..baik saya akan datang."


Rangga mematikan ponselnya lalu menatap Linda, wanita itu masih asik dengan makannya.


"Bu Linda, maaf saya harus ke hotel Xx ada meeting klien di sana jadi terpaksa bu Linda saya tinggalkan di sini, nanti biar David yang mengantar ibu."


Linda terperanjat, hotel Xx adalah hotel milik sahabatnya, mungkin ini lah jalan yang Tuhan berikan padaku untuk memilikimu, Linda membatin.


"Oh hotel Xx pak, kalau begitu saya juga mau sekalian ke sana, kebetulan hotel tersebut milik sahabat saya dan saya ingin bertemu dengannya."


"Baiklah bu, bersiaplah sepuluh menit lagi kita berangkat."


Linda tersenyum puas, lalu segera membereskan sisa makanannya.


David yang muncul dari ruang kesehatan tampak bingung, Linda terlihat sudah segar kembali, bahkan sudah bersiap untuk pergi.


"Vid kau urus rapat sore ini, setelah itu susul aku di hotel Xx, ada klien yang ingin meeting di sana."


"Lalu bu Linda..?"


"Oh saya ikut dengan pak Rangga pak David, lebetulan saya mau ketemuan dengan pemilik hotel itu karena dia teman saya."


"A apa bu Linda sudah merasa sehat?" David bertanya ragu karena Linda tadi pingsan.


"Ehm saya sudah sehat pak, dan saya juga sudah menghabiskan satu bungkus nasi padang"


Terpaksa gagal dietku.


David hanya menatap kepergian keduanya dengan tatapan penuh tanda tanya.


Sungguh aneh tingkah bu Linda, semoga saja tidak terjadi hal yang akan merugikan pak Rangga, do'a David dalam hati.


Dua jam perjalanan Linda tak henti nya tersenyum bahagia, berdua dalam satu mobil dengan sang pujaan sungguh tak terasa.


Meski Rangga tak banyak bicara namun hati Linda tetap berbunga.

__ADS_1


Hotel megah Xx sudah terlihat, Rangga menghentikan mobil di depan pintu lobi dan menyerahkan kunci pada petugas valet.


Keduanya berjalan beriringan memasuki ruangan VVIP dengan arahan karyawan hotel.


Ruangan yang tak terlalu luas karena klien kali ini hanya terdiri dari lima orang.


Mereka tersenyum dan berdiri serempak menyambut kedatangan Rangga.


Linda yang ijin memisahkan diri untuk menemui sahabatnya di ruangan lain.


"Lexa.." teriakan Linda mengagetkan seorang wanita cantik yang sedang fokus di laptop miliknya, rupanya pemilik hotel tersebut yang juga sahabat Linda.


"Linda...gimana kabarmu muuaacchh." keduanya berpelukan erat bagai teletubies.


Bersahabat sejak di bangku kuliah membuat keduanya masih dekat hingga sekarang, Lexa yang terlahir dari keluarga berada kini semakin terlihat cantik dengan tubuh tinggi semampai.


"Lu ke sini bareng siapa Lin?"


Linda tersenyum dengan mengedipkan satu matanya.


"Calon suami gue?" bisiknya.


"Hah, mana, di mana dia?" Lexa menatap ke sekeliling ruangan namun tak tampak lelaki yang ia curigai sebagai calon suami sahabatnya itu.


"Dia lagi meeting, di ruangan sebelah" jawab Linda penuh percaya diri.


"Wahh laki mana lagi korban lu Lin, paling juga tahan dua minggu."


Linda mencubit pinggang ramping Lexa, memang Linda terkenal dengan doyan gonta ganti pasangan, semua itu Linda lakukan untuk menjelajahi kepribadian calon suaminya kelak, itu alasan Linda selama ini jika di tanya kenapa putus.


"Kalau sama yang ini gue mau serius."


"Halahh gombal lu."


"Bener suerr, gue rela nyerahin jiwa raga gue buat dia Lex."


Mata Lexa membulat penuh, memang selama gonta ganti pasangan,sahabatnya itu tak pernah melakukan adegan ranjang hanya sebatas sekwilda itupun jika pria tersebut adalah kandidat yang berat.


"Mana coba tunjukin."


"Ya dia lagi meeting di ruangan Lex..tar aja kalau mereka pulang."


"Ish lu, kan bisa lihat dari CCTV ruangan oneng."


Linda mengusap jidatnya yang di toyor Lexa.


"Tuh yang barisan nomer lima."


Tunjuk Linda saat mereka berada di ruang CCTV.


"Hmmm pantas, lu mau nyerahin semuanya ke dia, kalau itu sih gue juga mau."


"Ish langkahi dulu mayat gue."


Linda berucap dingin, ia sungguh tergila-gila dengan Rangga, dan dia tak akan mungkin melepasnya, hanya tinggal selangkah lagi, maka lelaki gagah itu akan berhasil masuk dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2