Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Semakin Banyak Rival


__ADS_3

"Kau sudah makan sayang"Rangga berjalan ke arah Shanum yang masih duduk dengan gaun pengantin yang membuatnya tampak begitu cantik.


"Ehm, aku belum terasa lapar sayang"jawab Shanum.


Rangga menatap Shanum begitu lekat, riasan sederhana namun tampak elegan terlihat natural namun mempesona.


Merry mengaplikasikan make up di wajah Shanum dengan tampilan natural hingga berhasil menyempurnakan wajah cantik alaminya.


Nadya bocah kecil yang tak henti menatap Shanum dengan takjub bahkan ia tak pernah jauh lebih dari satu meter di belakang Shanum.


Tatanan meja prasmanan sudah tersaji indah, dengan berbagai hidangan istimewa memanjakan lidah para tamu undangan, aroma wangi masakan yang sungguh menggoda lidah.


Rangga yang memakai jas hitam tampak serasi dengan Shanum yang berdiri di sampingnya.


Juga Hardy dan Hana yang tak ketinggalan mendapat sentuhan tangan mengagumkan dari Merry.


Hana dengan gaun berwarna krem model sederhana namun tak meninggalkan kesan anggun dan elegan, begitu pun Hardy dengan setelan jas dan celana hitam.


Satu persatu tamu undangan berdatangan.


Tak ada kesan jarak di antara semua, jika di perusahaan status mereka adalah karyawan, maka lain hal nya saat ini mereka adalah tamu undangan, dan dengan ramah dan hangat di sambut oleh kedua mempelai dan seluruh penghuni mansion.


Setelah bersalaman dengan kedua mempelai para tamu di persilahkan mencicipi berbagai hidangan yang sudah di sediakan oleh tuan rumah.


"Selamat Bro e ehm, pak Rangga semoga langgeng dan menjadi pasangan sampai maut memisahkan kalian" Danu menyalami Rangga dan Shanum bergantian.


Rangga merangkul sahabatnya itu sejenak.


"Thank's bro, lu juga jangan lama-lama jomblo, biar nggak karatan nohh"bisik Rangga sambil melihat ke arah bagian bawah Danu.


Danu hanya mencebikan bibirnya, lalu berjalan ke arah meja prasmanan untuk menikmati hidangan.


Sementara Dika masih diam berdiri menguasai rasa gugup di dadanya.


Setelah beberapa kali tarikan nafas dan merasa tak enak karena beberapa tamu yang melewatinya tampak memandang dengan aneh.


"Selamat Ngga, semoga kalian langgeng" tak banyak kalimat dan pesan dari Dika karena debar jantungnya semakin tak menentu saat langkahnya kini membawanya berhadapan dengan wanita yang selalu membuatnya berdebar tak menentu.


"Selamat non..ehm nyonya, semoga kalian bahagia selalu" sungguh Dika tak sanggup menatap senyum manis Shanum yang mengangguk ke arahnya saat tangannya untuk pertama kali menyentuh kulitnya.


Begitu hallus permukaan kulit tangannya, seakan tak rela Dika untuk melepaskan.


"Terima kasih pak Dika" kalimat yang terdengar begitu lembut namun hatinya bagai teriris pisau berkarat.


Kalimat pertama dan mungkin terakhir yang Shanum tujukan untuknya.

__ADS_1


Dika tersenyum masam, sambil menyalami tangan halus CEO nya itu.


Sementara Danu sudah membaur dengan para tamu yang lain untuk menikmati hidangan.


Rangga memeluk hangat Sahabat karibnya yang baru datang bersama sang kekasih.


"Akhirnya bisa juga kau menggapai sang rembulan bro" bisik Kevin saat keduanya masih saling memeluk erat.


"Hmm, di dunia ini tak ada yang tak mungkin bro, jika sang pencipta menghendaki, maka halangan apapun bisa kau atasi" ujar Rangga bijak.


Kevin mengangguk hormat lalu menyalami CEO yang kini menjadi istri dari sahabat karibnya.


Shanum pun membalas senyuman Kevin dan Rara yang berada di belakangnya.


Beberapa jam berdiri sudah membuat kaki Rangga terasa kebas.


"Sayang kau tidak apa-apa?"tanya Rangga dengan sedikit berbisik karena melihat wajah Shanum yang sedikit memucat.


Shanum menggeleng pelan dengan senyum tak pernah lepas dari bibir manisnya yang ia tunjukan pada para tamu.


Merry mendekati pasangan yang tengah berbahagia itu karena di lihat para tamu sudah tampak sepi.


"Say ayo istirahat dulu, lihatlah wajahmu pucat say" Rangga sedikit terhibur karena ternyata Merry begitu perhatian pada sang istri.


Melihat wajah Shanum yang semakin pias membuat Rangga tak tenang.


Langkahnya cepat menuju dapur mansion.


"Bi, tolong buatkan minuman jahe hangat dan sedikit madu" pinta Rangga pada bibi di dapur mansion.


Bergegas bibi pelayan itu pun membuat pesanan yang Rangga minta.


Beberapa menit akhirnya Rangga kembali dengan segelas minuman jahe hangat lalu di berikan pada Shanum.


"Minumlah sayang" Rangga menyodorkan minuman tersebut.


Shanum meneguk minuman hangat itu dengan sekali teguk, badan yang terasa dingin kini sedikit menghangat dan perutnya pun sudah lebih nyaman.


Shanum sudah berdiri kembali karena beberapa menit lagi sesi kedua akan di mulai dan para tamu undangan pasti akan berdatangan.


Rangga menggenggam erat tangan Shanum dan mengusap pelan punggung tangannya.


"Semangatlah, sebentar lagi acara usai ,maka tinggal kita yang pesta berdua di kamar sayang"bisik Rangga dengan santainya di telinga Shanum.


Shanum membulatkan matanya,lalu mencubit perut Rangga.

__ADS_1


"Akkhhh" teriakan Rangga membuat Merry menoleh ke arah keduanya, lalu bergegas mendekati keduanya.


"Ada apa say?"tanya Merry panik.


Rangga mendecih geram.


Aissh, ngapain nih ondel-ondel kemari huss huss.


Batin Rangga begitu geram melihat Merry yang terlihat panik mendekatinya.


Sesi kedua kali ini kebanyakan para tamu dari para petinggi dari Wijaya Corp.dan rekan sekaligus para Investor yang mengenal Hardy dengan baik.


Shanum yang menampuk jabatan sebagai CEO baru dua tahun lebih, sehingga belum begitu banyak yang ia kenal, meski tak jarang Hardy mengajaknya untuk mengenalkannya pada para sahabat bisnisnya, namun Shanum tak dapat mengingatnya satu persatu.


Hanya anggukan hormat dan senyuman yang Shanum dan Rangga lakukan saat para tamu menjabat tangan mereka.


Berbeda dengan Hardy yang selalu menyunggingkan senyum dan terlihat bahagia melihat rekan-rekan bisnisnya datang.


Senyum Rangga kini surut saat melihat kedatangan yang pagi tadi sempat membuat moodnya memburuk.


Darmawan datang dengan sang putra di sampingnya.


Meski hati yang hancur, Daren berusaha tersenyum dan ikhlas.


Langkahnya tenang menghampiri Rangga lalu menyalami Shanum yang tersenyum manis ke arahnya, tanpa tahu cerita sesungguhnua yang terjadi antara Daren dan Rangga.


Hanya senyum masam yang Daren berikan saat menyalami Rangga dan Shanum.


Meski otaknya berkata jangan memandang namun matanya tak mampu menolak pesona Shanum.


Pandangannya tajam memandang ke arah mempelai wanita, seakan tak memperdulikan pandangan para pengunjung lain yang melihatnya secara aneh.


Istri orang memang terlihat mempesona.


Dika membatin lirih karena di saat yang sama ia pun melihat sosok Daren yang jelas menampakan rasa kekaguman pada Shanum.


Sementara di pelaminan, pengantin pria tampak merapatkan gerahamnya hingga rahangnya kian mengembung.


Hardy hanya dapat menghela nafas panjang melihat interaksi antara putra sahabatnya dengan menantunya sendiri, sambil berharap semoga Rangga masih dapat mengendalikan kemarahannya.


"Ehm hmm, wah meski kalian sekarang sudah resmi menjadi pasangan sah, bukannya membuat mereka mundur tetapi bahkan rivalmu semakin banyak Ngga"


Rangga dan Shanum serempak membulatkan matanya saat melihat asal suara.


Shanum mengerjapkan kedua matanya ke arah Rangga, berharap Rangga memberi jawaban atas kalimat yang Devon ucapkan tadi.

__ADS_1


__ADS_2