
Suasana mansion yang tenang tiba-tiba berubah penuh kepanikan.
Beberapa kali Shanum menghubungi Rangga namun tak di angkat, ayah Hardy pun tampaknya sibuk, hingga mengabaikan telfon darinya.
Dengan menahan rasa kencang di perutnya, Shanum berusaha tenang dengan duduk menyandarkan tubuhnya di sofa.
Sang bibi yang panik duduk bersimpuh dengan tangan tak henti mengusap perut sang nona.
Sementara bibi yang lain mengelap keringat dingin yang kini membasahi kening Shanum.
Matanya terpejam dan berusaha mengatur nafas, ia tak boleh panik, harus tetap tenang, batin Shanum terus berucap lirih.
Meski hati kecilnya saat ini di liputi ketakutan yang begitu besar.
Di hubunginya dokter Obgyn kepercayannya.
Namun saat ini ia sedang ada oprasi yang belum selesai hingga Shanum masih harus menunggunya sesaat lagi.
Drrtt drrt.
"Non den Rangga memanggil." Bibi menyerahkan ponsel yang Shanum taruh di atas meja.
"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Rangga yang begitu panik setelah melihat ada panggilan tak terjawab dari Shanum lebih dari tiga kali.
Shanum bukanlah orang yang dengan mudah menghubungi orang lain jika bukan dalam keadaan mendesak, Rangga terpaksa meninggalkan ponselnya di ruangan karena ia pergi ke kamar kecil.
"Ehm, tidak apa-apa, hanya tadi perutku terasa kram dan sekarang sudah sedikit berkurang." Shanum berucap lemah menahan rasa yang kini masih tak nyaman di rasa perutnya.
"Oke aku pulang, tunggu aku sebentar kita pergi ke dokter."
Rangga lantas berlari keluar dari ruangan.
Langkahnya terhenti di depan lift saat bersamaan dengan David yang hendak keluar dari ruang lift.
"Pak, kenapa?" David yang melihat wajah panik sang CEO yang tak biasanya pun terkejut.
"Sorry Vid, aku pulang dulu, istriku perutnya kram."
David diam membeku, bukankah istri bosnya itu sedang hamil muda, jika saat ini ia mengalami perut kram, maka ini bukan masalah sepele, batin David.
"Baik pak, hati-hati di jalan, semoga istri bapak dan calon bayi selalu di beri kesehatan."
Langkah Rangga tertahan saat do'a tulus terdengar dari asisten barunya itu, hatinya tiba-tiba menghangat.
"Aamiin terima kasih atas do'a nya Vid."
Rangga menepuk bahu sang ssisten lalu masuk ke dalam lift.
David masih termenung di depan pintu lift.
Meski baru beberapa minggu ia bekerja namun hatinya merasa dekat dengan bos nya itu.
Selisih umur yang tak terlalu jauh mungkin yang menyebabkan dirinya pun nyaman dan cocok dengan Rangga.
Meski kadang-kadang sifatnya keras dan dingin, namun David merasakan ada kelembutan dan perhatian dari sikapnya itu.
Berkas yang masih berserakan di atas meja Rangga pun David bereskan.
__ADS_1
Sementara itu, Shanum mulai merasa tenang karena rasa tegang otot perutnya berangsur berkurang.
Ceklek.
Terdengar langkah cepat yang memasuki mansion.
"Sayang bagaimana keadaanmu, apa yang sakit, kenapa?" pertanyaan beruntun dari sang suami membuat Shanum mengulas senyumnya.
"Ini den, tadi saat sedang berjalan tiba-tiba non merasa perutnya sakit?" jelas bibi mendahului Shanum karena rasa panik dan cemas jika suami nona muda mereka akan memarahinya.
Rangga terus menatap Shanum yang masih terihat tenang.
"Sayang, apa perutmu sakit heum? Kita ke dokter sekarang."
Rangga membungkukan tubuhnya di hadapan Shanum dan mengusap perutnya lembut.
"Cupp, sayang jangan nakal ya nak, kasihan ibu mu, jadilah anak baik oke." Rangga ber ucap sambil tangan tetap mengelus lembut.
"Tadi aku sudah menghubungi dokter langgananku tapi rupanya saat ini sedang melakukan operasi."
Shanum tak ingin Rangga menganggapnya ceroboh lagi.
Rangga mengangguk mengerti.
"Ayo kita berangkat sekarang, biar nanti di sana kau bisa di periksa dengan lebih lengkap."
Shanum pun mengangguk pasrah.
"Mau di gendong atau bisa jalan sendiri?"
"Hm jalan sendiri aja, aku masih bisa."
Sepanjang perjalanan tak lepas tangan Rangga mengusap perut Shanum.
Shanum menyandarkan keplaanya di bahu tegap Rangga, terasa hangat dan nyaman, tak terasa kram di perutnya sudah tak terasa lagi.
Apa mungkin sang baby merindukan kehadiran ayahnya, Shanum membatin.
Tiga puluh menit perjalanan akhirnya sampai lah mereka di rumah sakit besar.
Dengan sebuah kursi roda yang telah di siapkan Rangga melangkah menuju meja resepsionis.
"Maaf mba, apa dokter Mulya masih sedang melakukan operasi?" tanya Rangga ramah.
"Ehm, sudah selesai tuan, Apa tuan sudah janji bertemu dengan beliau?"tanya petugas resepsionis lembut dengan senyum ramah juga.
"Ehm tolong katakan saja pasien atas nama nyonya Shanum Samantha ingin bertemu."
Perawat yang mendengar nama yang Rangga sebut pun langsung berdiri dan membungkuk hormat, Shanum Samantha adalah salah satu pasien VVIP jadi mereka sudah mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu datang ke rumah sakit tersebut.
"Maaf tuan, silahkan masuk, dokter Mulya sudah menunggu anda." raut wajah cemas kini terlihat di wajah kedua resepsionit tersebut.
"Maaf kan atas keteledoran kami tuan."
Berkali-kali petugas tersebut membungkuk mohon maaf, karena tidak mengenali siapa pasien di hadapannya itu, padahal mereka sudah di beri foto dan identitas para pasien VVIP oleh pihak rumah sakit agar mereka segera mengenalinya.
"Heum tidak apa-apa"
__ADS_1
Rangga pun menuntun Shanum memasuki ruangan di mana bagian dokter Obgyn berada.
Senyum ramah menyambut pasangan suami istri itu.
Dengan penuh perhatian keduanya menyimak hasil pemeriksaan dengan cermat.
Banyak pertanyaan yang di ajukan sang dokter di jawab dengan tenang oleh Shanum, wajahnya terlhat tenang namun debaran jantungnya tak dapat berbohong.
Raut wajah Rangga pun terlihat datar namun ketegangan tak dapat di tutupinya.
Rupanya apa yang di rasakan Shanum sudah terjadi sejak beberapa hari yang lalu, dan tak sekalipun Shanum mengatakan padanya.
Wajah Shanum masih tertunduk penuh sesal, sementara Rangga masih diam menahan gemuruh dadanya.
Di sepanjang perjalanan keduanya terdiam dengan pikiran masing masing.
Shanum yang merasa bersalah karena kecerobohan dan ke egoisannya mengakibatkan janin yang di kandungnya dalam bahaya, untung saja dokter mengetahui dari awal dan sudah memberikan obat penguat kandungan juga meminta Shanum untuk menjaga gerakannya agar tidak melakukan gerakan terlalu cepat saat hendak bangun dari tidur maupun dari posisi duduk.
Sementara Rangga yang masih kalut dengan perasaan bersalah yang menggerogoti dadanya.
Begitu sibuk kah dia hingga tidak memperhatikan kesehatan dan kondisi sang istri yang sedang hamil.
Rangga begitu bersalah dan merasa tak berarti di sisi Shanum, yang seharusnya di masa-masa kehamilannya mendapat perhatian dari sang suami ternyata malah lebih memilih menyibukan diri di kantor, geram batin Rangga.
Maafkan suamimu yang bodoh ini Sha, suami bodoh yang tidak berperasaan dengan membiarkan sang istri yang selalu kesepian dan menyimpan duka lara tubuh dan hatinya seorang diri, seharusnya suamimu selalu berada di sisimu, mendengar keluh kesahmu, melihat senyum ceriamu atau menyiapkan bahu sebagai sandaran saat kau sedang sedih, bahkan kau tahan rasa sakit seorang diri, sungguh aku seorang suami yang tak berguna.
Rangga meraih tangan Shanum lalu menggenggamnya erat dan menuntunnya keluar dari mobil.
Gerakannya begitu lembut, bahkan Shanum sempat ragu, saat Rangga mengulurkan tangan untuk meraihnya dan mendujungnya hingga ke lantai dua di mana kamarnya berada.
Tatapan dingin saat di ruangan rumah sakit tadi membuat dada Shanum bergetar.
Shanum duduk perlahan di sofa tunggal di kamarnya, di raihnya gelas berisi air hangat yang Rangga sodorkan.
Masih dengan mulut tertutup rapat, Rangga duduk di hadapan Shanum dan meraih kedua kaki sang istri, dengan perlahan memulai pijitan lembut di telapak kaki wanita separuh nafasnya itu.
Shanum tergugu melihat apa yang Rangga lakukan.
Rangga menahan kaki Shanum yang hendak di tariknya kembali.
"Diamlah, biar aku memijit kakimu."
Kalimat pendek penuh penekanan membuat Shanum tak berkutik dan akhirnya membiarkan Rangga terus memijit lembut telapak kakinya.
Meski pijitan yang di lakukan tanpa mengeluarkan tenaga namun terasa begitu nyaman, bahkan rasa kantuk kini mulai membuat Shanum menyadarkan tubuhnya tak sadar.
Rangga menghentikan pijitannya, mata indah itu tertutup rapat, nafasnya pun mulai teratur.
Rangga bangkit dari duduknya, di tatapnya wajah lembut yang tengah terlelap itu.
Di sisihkannya anak rambut yang tersulur di kening sang istri dan.
Cupp
Tidurlah sayang, mulai saat ini, tak akan aku habiskan waktu selain denganmu, kita akan selalu bersama dan saling menjaga, kaulah separuh nafasku.
💦💦💦💦💦💦
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan vote nya yaaa
😘😘😘😘😘😘