
Shanum berdiri saat tatapan matanya beradu dengan Rangga, rupanya Rangga sengaja mendatanginya setelah melihat Shanum berjalan keluar dari mansion.
"Ada apa Ngga?"tanya Shanum dengan nada berbisik.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menemuimu"
Shanum mengerutkan kedua alisnya, dari raut wajahnya,terlihat Rangga sedang dalam mode serius.
"Sha, tatap mataku dan katakan jika kau mencintaiku dengan sepenuh hatimu"kalimat Rangga tampak sungguh-sungguh.
Shanum menganggukkan kepalanya, meski tampak bingung karena Rangga masih menanyakan kesungguhan hatinya.
"Katakan dengan bibirmu, aku ingin mendengar langsung dari mulutmu sendiri"sambung Rangga.
Tidak biasanya Rangga menuntut pembuktian kata-kata yang menurut Shanum tidak terlalu penting.
"Aku..mencintaimu dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hatiku Ngga"jawab Shanum tegas.
Rangga pun merengkuh tubuh mungil berbalut gaun indah itu ke dalam pelukannya.
Rangga melerai pelukannya perlahan lalu memandang netra bening di depannya.
"Berjanjilah padaku, apapun yang akan terjadi esok hari nanti, jangan pernah kau tinggalkan aku"suara Rangga kini tampak bergetar.
"Sha, berjanjilah kau akan selalu mencintaiku dan tak akan meninggalkanku, tegurlah jika aku salah, marahlah jika aku membuatmu kecewa tapi jangan langkahkan kakimu menjauh dariku, karna itu akan membunuhku".
Shanum menatap mata Rangga yang kini tampak berkaca-kaca, ada ketulusan murni yang membuat hatinya bergetar haru.
"Aku akan selalu bersamamu, berada di sampingmu dan menua di sisimu, dan terima kasih telah menjadi tumpuan hidupku"Shanum memeluk Rangga dengan erat.
"Ehmm hmm".
Shanum segera mengurai pelukannya saat suara khas Mery tiba-tiba mengagetkannya.
"Pak penghulu udah datang say, cepet gih kita kesana"ujar Mery dengan gerakan bibir tebal bergelombangnya.
Dari balik kegelapan Joy hanya dapat menelan salivanya, hatinya begitu teriris melihat adegan kedua insan yang sebentar ladi akan sah menjadi sepasang suami istri.
Cinta mereka begitu tulus dan dalam, tak tega rasanya Joy masih mengharap keretakan hubungan Shanum dan Rangga.
Joy hanya dapat menatap punggung Shanum yang masih berada dalam rangkulan Rangga dari balik persembunyiannya saat para pelayan di dapur bisik-bisik.
__ADS_1
Rupanya para petugas dari KUA telah datang.
Joy masih belum bergerak dari tempatnya, sementara kedua kakinya sudah mulai kebas.
*
*
Sah ..sahh.
Terdengar teriakan bersahutan dari dalam mansion menandakan Shanum kini telah sah menjadi milik orang lain.
Jika tadi kedua kakinya terasa kebas, kini berubah lemas tak berdaya, seakan seluruh tenaganya lenyap seketika.
Hatinya perih bagai teriris sembilu, apalagi yang di harapkannya, kini Shanum telah menjadi milik orang lain.
Beberapa orang di dapur tampak bersuka cita mengucap syukur atas lancarnya acara janji nikah sang Nona Muda mereka.
Berbondong-bondong mereka menuju ke ruang utama untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
Senyum bahagia terpancar dari rona semua penghuni mansion.
Merasa tak ada lagi harapan, Joy pun melihat ke sekeliling mansion, matanya tertuju pada sudut di belakang mansion yang terdapat bangunan gudang yang setengah jadi.
Dengan berjingkat Joy melangkah menuju tembok yang baru di bangun setinggi kurang dari dua meter, lalu dengan cepat Joy melompat naik ke atas tembok tersebut.
Sementara di mansion, Hardy memeluk erat pria yang kini telah sah menjadi menantunya.
Air mata keluar dari sudut matanya yang telah keriput.
"Jaga Shanum dengan baik, jangan sampai kau lukai hatinya"Hardy tak dapat meneruskan kata-kata yang begitu banyak memenuhi kepalanya.
Begitupun Hana, mata yang selalu basah karena air mata yang deras mengalir dari matanya, melihat putra sulung yang kini telah memiliki tambatan hati dan bahtera rumah tangga yang menjadi tanggung jawabnya, bayangan Satria bermain di pelupuk matanya, di hari bahagia ini Hana merasa bersyukur karena dapat melaksanakan wasiat dari almarhumah Paramitha agar tetap mengikat tali silaturahmi dengan menikahkan anak mereka.
Semua tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh para pelayan mansion, meski tak banyak orang yang hadir dalam acara ini, namun pelayan telah memasak dan menyiapkan begitu banyak makanan lezat.
Karena sesuai permintaan Hardy, setelah acara selesai, sang supir di minta mengirimkan bingkisan makanan ke beberapa panti asuhan agar mereka dapat ikut menikmati kebahagiaan mereka.
"Ngga,aku mau ke kamar dulu, gerah mau ganti baju"bisik shanum pada Rangga, namun Rangga hanya mengangguk kesal.
Shanum selalu lupa memanggilnya dengan panggilan yang sudah di sepakati.
__ADS_1
"Rupanya, kau harus ku hukum agar menyadari kesalahanmu sayang"Geram Rangah, lalu melangkah menuju sahabatnya yang tengah asik menikmati hidangan yang di hadapannya.
"Ehmm hmm, dari tadi lu sibuk ama perut lu aja Vin"ujar Rangga menyikut bahu Kevin.
"Lha trus gue harus apa, yang kawin kan elu, apa iya gue yang di suruh salaman sama pak penghulu dan ngucapin janji ijabnya"jawab Kevin santai.
"Songong lu, ya setidaknya lu ikut lah do'ain gue biar gue sama istri gue sakinah, mawadah, warrahmah"Sambung Rangga.
"Eh Samsul gini-gini gue juga pasti lah do'a in elu, biar sehat selalu banyak rizkinya lancar urusannya dan jadi keluarga yang langgeng sampai maut memisahkan kalian".ujar Kevin tulus, Rangga menepuk bahu Kevin pelan, meski do'a yang Kevin panjatkan lebih mirip do'a ulang tahun namun Rangga tahu itu adalah do'a terlutus yang pernah Kevin panjatkan untuknya.
" Thank's bro, lu emang- emang..."Ucap Rangga sambil menggelengkan kepalanya dengan senyum bangga, membuat Kevin menautkan alisnya.
Sudah beberapa menit berlalu, Rangga mengarahkan pandangannya ke seluruh ruang namun tak menemukan apa yang di catinya.
Lalu melangkah ke arah Ardi yang tengah asik dengan ponselnya.
"Di, lihat mbak Shanum nggak?"tanya Rangga pada adiknya.
"Enggak kak, dari tadi aku di sini tidak lihat mbak kesini"jawab Ardi lalu ikut menyisir ruangan.
Rangga segera menuju lantai dua di mana kamar Shanum berada, namun nihil karena kamar tampak sepi setelah Rangga membukannya karena ternyata kamar dalam keadaan tak terkunci.
Dapur yang menjadi dugaan tempat Shanum berada pun ternyata nihil.
Hana yang menyadari tingkah aneh putranya itupun mendekat.
"Ada apa Ngga, kenapa kamu sepertinya mencari sesuatu"tanya Hana.
"Bu, apa ibu lihat Shanum bu?"tanya Rangga cemas.
Pandangan Hana pun memutar ke seluruh ruangan.
"Kamu cari di kamar Shanum Ngga, mungkin dia lelah dan istirahat di kamarnya"ujar Hana mencoba menenangkan putranya.
"Sudah bu, tapi Shanum tak ada di kamarnya"Rangga bertambah gusar, rona penuh kecemasan tergambar jelas di wajahnya.
Seluruh ruangan Mansion sudah Rangga cari, namun keberadaan Shanum tetap belum di temukan.
"Gimana Di, ada nggak?"tanya Rangga penuh harap pada adiknya, namun gelengan kepala membuatnya kembali menelan kekecewaan.
"Dimana kamu Sha?"
__ADS_1