Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Semua Menyayangimu


__ADS_3

Rangga membereskan baju-baju milik shanum dan miliknya.


Luka di bahu sudah mulai mengering, hanya butuh perban yang harus di ganti secara berkala.


Pening di kepala pun sudah hilang.


"Sayang, aku bosan di kamar"ucap Shanum.


"Tapi kita sedang tunggu dokter sayang, kalau kita pulang tanpa persetujuan dokter itu akan menyalahi aturan"jawab Rangga lembut membelai rambut hitam Shanum.


"Apa kita nunggu sambil jalan-jalan aja keliling rumah sakit"Shanum mengangguk cepat dan tersenyum girang mendengar usul Rangga.


"Tunggu sebentar, aku ambil kursi roda dulu".


"Tapi aku nggak perlu pake kursi sayang?"Shanum gusar, kesehatannya sudah pulih dan ia hanya ingin melemaskan tubuhnya,namun Rangga acuh dan tetap mengambil kursi roda untuknya.


Lorong yang tampak sepi karena mungkin sebagian pasien sedang istirahat, dan jam besuk belum mulai.


Ada beberapa kerabat pasien yang sedang menunggu tampak memandang sepasang muda mudi yang cukup serasi.


Shanum dengan rambut tergelung di atas memperlihatkan leher putih jenjangnya, sementara wajah yang tertutup masker hanya menampakkan mata indah dengan bulu mata lentiknya.


Rangga menatap mereka sekilas dan menganggukkan kepala saat melewati beberapa orang yang tengah duduk berkumpul lesehan pintu batas pengunjung.


Perawat yang berpapasan pun menunduk hormat karena mengetahui bahwa Shanum adalah salah satu pasien VIP di rumah sakit itu.


Rangga melihat heran, setiap perawat atau dokter yang bertemu mereka pasti mengangguk hormat.


"Ada apa sayang"Shanum yang melihat Rangga tampak kebingungan pun bertanya heran.


"Tidak apa-apa, aku hanya heran, kenapa setiap perawat atau dokter yang berpapasan dengan kita mereka selalu menunduk hormat"jawab Rangga, Shanum pun mengerutkan keningnya,karena dia sama sekali tak menyadari hal itu.


Rangga mempercepat langkahnya mendorong kursi roda.


"Sayang pelankan langkahmu, jangan terlalu cepat, aku takut"bisik Shanum dengan tangan memegang erat kursinya.


"Hmm maaf"ucap Rangga memperlambat langkahnya.


Ceklek.


"Huff"Shanum bernafas lega.


"Ini terakhir aku mengajakmu berkeliling sayang"ujar Rangga dengan nada tegang.


"Kenapa sayang"tanya Shanum bingung.


"Huh"Rangga menghempaskan tubuhnya di sofa.


Melihat perlakuan istimewa yang mereka dapatkan, sudah di pastikan itu adalah perbuatan Joy, bocah ingusan yang menolong Shanum yang membawanya ke rumah sakit elit ini.


Rangga beranjak dari duduknya.


Tok tok tok.


Belum sempat Rangga melanjutkan langkahnya, pintu ruangan terbuka, rupanya ini adalah kunjungan final beberapa dokter untuk memastikan kondisi Shanum apakah hari ini bisa meninggalkan rumah sakit ini atau tidak.

__ADS_1


Beberapa saat akhirnya Shanum dan Rangga pun tersenyum lega, setelah pihak rumah sakit mengijinkannya pulang.


Bahkan Rangga dan Shanum saling memandang saat mengetahui biaya rumah sakit ini ternyata sudah lunas.


Tok tok tok.


Shanum tersenyum melihat asisten Harun menjemput, karena ia yang memintanya setelah dokter memperbolehkan ia pulang hari ini.


"Apa sudah siap semua Non?"tanya Harun hormat.


"Iya tolong bawain ini pak"Shanum menunjuk beberapa tas lalu di berikan Harun pada para pengawal.


"Non Shanum biar sama saya saja pak, kalian bawa mobil dua kan?"tanya Rangga.


"Benar tuan kami membawa dua mobil"jawab Harun lalu menyerahkan kunci mobil ke arah Rangga.


"Hati-hati tuan"ujar Harun, Rangga mengangguk lalu mendorong kursi Shanum.


"Ish kenapa di lepas?kan gerah" Shanum melihat ke arah Rangga dengan pandangan kesal karena melepas ikat rambutnya.


"Biar nggak ada mata buaya yang pada melotot lihat leher kamu sayang"ucapan Rangga pelan namun terdengar dingin.


Rupanya Rangga sempat melihat beberapa pria yang ia lewati saat mengajak Shanum keliling rumah sakit tengah memandang leher jenjang sang istri, pandangan pria yang penuh rasa kekaguman membuat darahnya mendidih.


Shanum terpaksa diam menahan rasa gerah dan panas di tubuhnya.


Kenapa kau berubah begitu posesif Ngga, kemana Rangga yang dulu ku kenal yang selalu dingin dan cuek, batin Shanum lirih.


Rangga melangkah tegap dengan pandangan lurus ke depan, dadanya membusung seakan memperlihatkan pada para pria di luar sana, betapa bidang dan kokoh tubuhnya dan siap melindungi sang istri tercinta.


"Apa kita langsung ke mansion sayang?"tanya Rangga.


"Lha memangnya kalau tidak ke mansion kita mau ke mana sayang"tanya Shanum.


"Ke rumah baru kita"senyum smirk Rangga mengembang.


"Aku rindu ayah sayang, lagian ayah belum tahu kalau kau sudah membeli rumah untuk kita"lanjut Shanum.


"Aku hanya ingin menikmati malam pertama kita tanpa ada yang mengganggu"ucap Rangga dengan nada memelas.


Shanum mengatupkan mulutnya rapat, pulang dari rumah sakit dan sembuh dari luka-lukanya namun kini mungkin giliran jantungnya yang tak sehat.


Beberapa menit perjalanan akhirnya sampai di mansion, para pelayan menyambut dengan haru, pelukan erat dan kecupan hangat dari sang bibi yang merawatnya sejak kecil membuat hati Shanum menghangat.


"Syukurlah Non sudah pulang, kami semua cemas non, bahkan bibi tidak bisa tidur mikirin Non Shanum" ucap bibi dengan mata berkaca-kaca.


"Non Shanum mau makan apa, bibi akan buatkan ya"tanya salah satu bibi yang lain.


"Non mau bibi pijitin yah,".


Shanum tersenyum haru, rupanya mereka begitu perhatian padanya, mereka merindukannya.


"Ehmm hmm"suara bariton sontak membungkam mulut para pelayan mansion.


Hardy tersenyum menyongsong putri kesayangannya, di peluknya erat tubuh mungil itu hingga tenggelam dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Selamat datang putriku"ucapan Hardy terdengar bergetar, air mata mengalir dari sudut mata keriputnya.


Shanum tak dapat menahan haru di dadanya, air mengalir saat matanya terpejam dan menikmati dekapan hangat pria cinta pertamanya.


Hardy melerai pelukannya.


"Istirahatlah, nanti kita makan bersama"ujarnya.


Para pelayan pun bergegas menuju ke dapur dan menyiapkan hidangan istimewa untuk menyambut kepulangan sang Nona muda mereka.


"Ngga, bawa Shanum ke kamar, kalian istirahatlah"Rangga mengangguk hormat lalu menuntun Shanum ke lantai kamarnya.


Ini yang di tunggu dari kemarin, batin Rangga tersenyum bahagia.


Rangga memapah Shanum duduk di tepi ranjangnya.


Kamar berukuran besar dan luas, baru pertama kali Rangga melihat kamar seluas itu, matanya memindai ruangan yang terlihat rapih, dua lemari besar berada di sebelah pintu masuk, sofa panjang di sudut ruangan dan televisi berukuran besar tergantung kokoh di dinding.


Tok tok


Rangga membuka pintu.


"Maaf tuan, baju tuan Rangga sudah kami masukan ke lemari di sebelah kanan, asisten Harun yang memerintahkan kami untuk menatanya di lemari di kamar ini"ucap pelayan yang bertugas membersihkan ruangan.


"Baik bi, terima kasih"pelayan melangkah setelah membungkukkan badannya, beberapa hari yang lalu,Rangga meminta asisten Harun untuk mengambil bajunya yang ada di kontrakan dengan bantuan Kevin.


Shanum masih asik memperhatikan tingkah Rangga yang masih berkeliling di kamarnya seakan memeriksa setiap inci apa isi dalam kamarnya.


"Sayang, selama ini kau tinggal di kamar besar ini?"tanya Rangga kini ikut duduk di samping Shanum.


"Hu um"Shanum mengangguk.


"Apa kau tidak kesepian sendiri di kamar luas ini"Kembali pertanyaan konyol keluar dari mulut Rangga.


Shanum menggeleng.


"Bagaimana mungkin aku merasa kesepian , di mansion ini banyak bibi yang selalu menemaniku"jawab Shanum.


Rangga mendekatkan wajahnya ke arah Shanum.


"Mulai sekarang akupun akan menemanimu tidur di ranjang luas ini"bisik Rangga.


"Ehhmm"Shanum memundurkan tubuhnya.


Rangga terus mengikis jarak hingga Shanum kini sudah berada di atas ranjang dan dalam kungkungan tubuhnya.


Rangga menatap intens manik bening Shanum.


Di k****nya pelan benda kenyal itu, Shanum memejamkan matanya, sementara degub jantungnya berpacu kencang.


Kecupan lembut kini menjalar ke leher putih jenjang yang sempat membuat dadanya panas karena membuat mata para pria tak berhenti memandang.


💗💗💗


Maafken author ya ..kalo yang hot-hot suka susah lodingnya...nyari wangsit nggak nemu-nemu.🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2