
Vina tertegun mendengar penuturan Devon .
Setelah meninggalkannya tanpa pesan bahkan kini telah menjalin tali pertunangan tapi dengan mudahnya mengatakan bahwa mantan kekasihnya itu tak ingin melepaskannya .
Hanya helaan nafas panjang yang dapat Vina lakukan ,setelah mengetahui bahwa Devon kini telah menjadi milik gadis lain ,Vina tak lagi berani berharap untuk kembali padanya apalagi melanjutkan hubungan kisah yang telah terjalin cukup lama .
Vina menatap lurus ke depan ,ia sama sekali tak perduli sudah beberapa kali Devon melirik ke arahnya sementara kedua tangannya tetap tenang memegang stir kemudi .
Vina tak dapat menolak, saat Devon bersikeras untuk mengemudikan mobilnya dan mengantarkannya ke apartemen dan beralasan mobilnya sedang di service .
"Apa kau tak pulang ke apartemen mu Dev ?"tanya Vina karena gerbang menuju ke apartemen miliknya terlewat namun pria itu tetap tenang dan cuek .
"Aku akan mengantarmu ,tak sopan jika seorang lelaki tidak mengantar sang wanitanya sampai tujuan ,apalagi kau telah menolongku "sanggah Devon dengan alasan yang terdengar klise.
"Apa kau tak mau aku mengantarmu sampai ke apartemen ?"tanya lagi ,kali ini dengan senyum smirk .
"Terserah apa maumu ,aku lelah ,tolong bangunkan jika kita sudah sampai "Vina menjawab singkat ,karena ia tak ingin membuang tenaganya untuk beradu argumen yang hasilnya akan sia-sia, lalu menyandarkan tubuh dan memejamkan matanya .
Devon hanya melirik dan tersenyum senang,beberapa menit kemudian perjalanan akhirnya sampai di tujuan .
Harum semerbak wangi masakan tercium dari arah dapur ,Devon menelan salivanya saat bunyi perutnya yang tiba-tiba berdendang keroncong .
"Tunggu dan tetaplah di situ ,sebentar lagi masakanku selesai "nada ucapan Vina memerintah dengan tegas saat mendengar langkah Devon perlahan menuju ke arahnya dengan gerakan bak kucing sedang mengintai tikus hingga langkahnya tak terdengar .
"Ehmmm oke "jawab Devon nurut ,bagai anak kucing yang terciduk hendak mencuri pindang .
__ADS_1
Vina yang melihat lewat ujung matanya hanya tersenyum kecil melihat tingkah lucu mantan kekasihnya itu .
Bukannya tak ingin berada dekat dengan pria itu ,Vina hanya tak ingin terlihat kaku dan salah tingkah saat Devon yang selalu mencuri pandang dan memperhatikannya diam-diam .
Beberapa masakah simpel telah selesai dan tersaji di meja makan .
"Waahh har...."
"Stop ,cucilah tanganmu dulu Dev "teriak Vina tegas, membuat gerakan tangan Devon tertahan di atas piring gorengan tempe yang merupakan salah satu makanan favoritnya .
Dengan kikuk Devon pun membasuh tangannya di wastafel dengan cepat .
"Cucilah dengan perlahan Dev,yang penting bersih ".
Devon hanya memandang ke arah Vina ,rupanya perhatian yang Vina berikan masih sama seperti saat mereka masih bersama .
"Rupanya kau masih ingat semua tentangku Vin "gumam hati Devon senang .
Satu suapan pun meluncur ke dalam mulut Devon dan kembali memori ingatannya seakan berputar dalam kepalanya .
Rasa kelezatan masakan yang masih tetap sama seperti dulu.
Devon beranjak dari duduknya dan menghampiri Vina yang masih membereskan peralatan masaknya .
"Kau masih mengingat tentangku Vin ?"bisik Devon dengan suara penuh haru di belakang telinganya ,semua kenangan indah yang pernah mereka lalui kini terbayang jelas dalam benaknya .
__ADS_1
Saat-saat mereka sering lewatkan berdua bahkan tak jarang Vina yang penganut pola makan sehat selalu menyediakan makanan yang ia masak sendiri jika Devon datang ke apartemennya .
Mendengar suara yang begitu dekat dengan wajahnya membuat tengkuk Vina tiba-tiba meremang .
"Apa maksudmu Dev"gerakan spontan Vina mencoba menjauh dari Devon dengan melangkahkan kakinya mundur ,namun gerakannya tertahan karena oleh meja makan yang berada beberapa langkah di belakangnya .
Vina terdiam saat Devon mengungkungnya hingga mengikis jarak yang kini hanya tinggal beberapa centi.
"Kau masih memperhatikanku dan kau juga masih menyayangiku sama seperti dulu saat kita masih bersama karena aku lihat dari sinar matamu ,benarkah apa yang aku rasakan vin ".tanya Devon seakan mengintimidasi .
"A aku ..."ucapan Vina tergagap karena kini wajah Devon semakin dekat hingga hembusan nafas nya pun jelas tercium ,membuat rona wajah Vina memerah .
cupp
Devon mengecup bibir tipis itu dengan lembut ,Vina yang tak dapat menghindari gerakan cepat dari Devon pun terhenyak .
"Akupun masih sangat menyayangimu ,dan aku rindu pada bibir manismu yang selalu menjadi canduku ".
Kembali Devon mendaratkan ciuman hangat di bibir tipis Vina yang masih belum sempat menjawab pertanyaan Devon .
"Apa kau juga sama sepertiku ,apa kau juga merindukanku Vin " tanya Devon saat melepaskan ciuman hangat itu dan menatap manik mata Vina dengan tatapan sayu .
"Dev a..."kalimat Vian pun kembali tak terselesaikan ,karena Devon kembali menghujaninya dengan ciuman yang kini berubah menjadi sebuah ciuman yang sangat menuntut,bibir Vina yang kini mulai terbuka membuat Devon dengan leluasa mengeksplor kedalam dan mengabsen setia inci rongga mulutnya .
"Emppph "
__ADS_1
"Bernafaslah Vin "Devon tersenyum dan berbisik membuat Vina kini semakin merona merah .