
David di hadiahi muka cemberut bosnya pagi ini.
Tak biasanya mukanya di tekuk tujuh kali lipat dari biasanya, niat menyapa pun urung di lakukan David.
"Vid tolong buatin kopi pahit" perintah singkat yang mengagetkan David.
Tak pernah Rangga meminta request kopi tanpa gula, biasanya orange juise atau kopi dengan sedikit pemanis alami jika di pagi hari.
Sungguh malam yang sangat mengesalkan, dengan sepenuh hati ia mempraktekkan pijatan pada kaki Shanum dengan harapan akan mendapat hadiah nantinya.
Ternyata pil pahit yang terpaksa Rangga telan.
Shanum sudah lebih dulu tertidur karena efek pijitannya yang memang terasa nyaman di kaki.
"Pak, nanti siang klien dari Testafood akan datang setelah istirahat."
Rangga mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
"Dan ini berkas yang bapak minta."
"Heum, oke."
David pun ke luar ruangan untuk mempersiapkan berkas pelengkap untuk meeting nanti.
Beberapa jam berkutat dengan laptop membuat tubuh Rangga terasa pegal, bahkan segelas kopi yang di buat oleh David belum di sentuhnya.
Srupuuuttt.
"Aakkhh puihh."
Rangga menatap gelas di tangannya.
"Kenapa rasanya pahit sekali, apa David lupa memberi gulanya" Rangga bermonolog sendiri.
Ceklek.
"Pak meeting sebentar lagi, dan klien sudah berada di front office" jelas David yang tak menyadari sikap bosnya saat ini sedang menahan rasa pahit di lidah akibat perbuatannya.
David terdiam membeku di tempatnya berdiri, Rangga tengah menatap tajam ke arahnya.
"Apa ada yang hendak kau jelaskan padaku Vid?"
Sorot mata tajam mengarah ke David.
Glekk.
"M maaf pak" ucap David dengan kepala menunduk.
Bukan menunduk karena menyesal, tapi karena David sedang merutuki tingkah sang bosnya yang tak sadar akan kesalahan yang di buatnya sendiri, mana mungkin ia menyajikan kopi pahit jika tidak dia sendiri yang menyuruhnya.
__ADS_1
Bukan salahnya yang menyajikan kopi tanpa gula, itu karena memang permintaan Rangga.
Tak ingin memperpanjang masalah Rangga pun segera ke ruang meeting untuk menemui klien barunya.
Ceklek.
Rangga memasuki ruangan dengan langkah tenang, di susul David yang berada di belakangnya.
Dengan hormat Rangga menyalami kedua kliennya.
Lelaki berumuran empat puluhan dengan wanita cantik sekitar tiga puluhan tersenyum ramah menyambut kedatangan Rangga.
Wanita cantik dengan tubuh bak gitar spanyol, dengan bibir merah menyala terlihat indah di pandang.
Suasana meeting tampak santai karena Bu Linda, CEO dari Testafood tampak terampil membawa diri, dengan penjelasan yang di lakukan oleh asistennya dengan singkat membuat Revan dan David saling pandang.
Melihat prestasi dan prosentase kenaikan laba yang di peroleh, Rangga sudah berfikir bahwa tentulah Testafoof di pimpin oleh seorang yang cerdas.
Namun presentasi yang di lakukan oleh wakil dari Testafood, sungguh sangat berbanding terbalik.
Beberapa kali kesalahan saat membaca data, juga nilai prosentase yang tampak tak sesuai dengan lapangan menambah kecurigaan Rangga dan David.
Keduanya saling pandang, saat bu Linda dengan lihai berusaha mengalihkan perhatian Rangga dan David pada kesalahan yang di terangkan dari pihaknya.
Bu Linda bahkan dengan gaya bicaranya yang kelewat ramah berusaha meyakinkan Rangga, bahwa Testafood memang pantas untuk dapat bergabung dengan Wijaya Corp.
"Baik bu Linda, kami akan memberikan keputusan tiga hari mendatang, kami harus mempertimbangkan pendapat dari pihak managemen kami."
Rangga berucap tegas.
Begitupun David yang mengangguk menyetujuinya.
"Baiklah pak Rangga, Testafood tentu akan menunggu jawaban dari pihak anda, kami yakin pihak Wijaya Corp adalah perusahaan besar yang mendukung kami perusahaan kecil yang ingin maju dan berkembang, dan dengan harapan besar kami tunggu uluran tangan dari Wijaya Corp."
Ucap wanita cantik dengan bibir menyala yang selalu menyunggingkan senyum manis ke arah Rangga.
David yang menyadari hal itu tampak risih, begitupun Rangga yang mengangguk terpaksa.
"Ehm maaf bu Linda jika tak ada hal lain yang perlu di sampaikan, kami ada keperluan lain yang mendesak." Rangga berkilah, sungguh gerah rasanya berada satu ruang dengan wanita yang penuh gaya tersebut.
"David, jam berapa rapat bulanan rutin di lakukan?"
David tergagap dengan pertanyaan Rangga yang mengedipkan mata ke arahnya dengan isyarat anggukan kecil.
"Ehm jam tiga pak, dan berkas pun sudah siap."
Rangga tersenyum, mempunyai asisten berotak encer adalah satu keuntungan besar karena bisa di andalkan jika dalam situasi mendesak, batin Rangga.
"Baiklah pak Rangga, kami juga harus pamit."
__ADS_1
Wanita itu mengangguk ringan, namun tak juga beranjak dari kursinya.
Sedangkan pria rekannya telah berjalan mendahuluinya keluar dari ruang meeting beriringan dengan David.
"Pak Rangga, bolehkah kita bertemu lagi di luar jam kerja?" Linda bertanya dengan nada lembut.
"Maaf bu, hari ini saya sibuk, bahkan mungkin akan pulang sampai malam."
"Ehm tidak harus malam ini pak, mungkin besok atau weekend pak, sekalian membicarakan rencana kerja sama kita ke depannya" Linda masih berusaha membujuk Rangga.
"Baiklah bu Linda, nanti pihak kami akan menghubungi anda."
"Oh jangan pak, biarkan saya yang akan menghubungi bapak Rangga secara pribadi, saya ingin kita membicarakan dengan suasana santai, bagaimana pak."
Rangga mengatupkan giginya rapat, bahkan rahangnya mengembung, sungguh tak habis pikir, wanita di depannya begitu gigih dengan usaha untuk mendekatinya dengan alasan pembicaraan kerja.
"Baik bu, nanti akan saya hubungi, saya harus segera berangkat, maaf bu."
Rangga melangkah dengan langkah yang lebar dengan harapan segera menjauh dari wanita ramah itu.
"Baiklah pak Rangga, sampai jumpa...hati-hati di jalan pak, saya tunggu jawaban dari bapak" dengan tak tahu malunya Linda berucap dengan nada cempreng dan tinggi hingga beberapa karyawan yang mendengar, mengalihkan pandangan ke arahnya.
Ceklek.
"Ehh pak, apa-apa an ini," David terkejut saat Rangga datang tiba-tiba dan bersembunyi di balik tubuhnya.
"Ssttt diam, ada bu kunti lewat, jangan bilang saya di sini."
David pun berusaha menutupi tubuh bosnya dengan tubuh bidangnya.
Dari sudut matanya tampak bu Linda yang celingukan kehilangan jejak Rangga.
"Isshh" wanita menor itu menghentakan kakinya kesal.
Rencana pulang satu mobil dengan wakil CEO perusahaan besar lenyap sudah, Rangga dengan cepat menghilang dari pandangan matanya.
Wanita itu berhenti sejenak, matanya menyapu ruangan, bibir merahnya mencebik kesal, buruan ikan kakap telah lolos dari jerat jaringnya.
Rangga masih menahan nafas saat Linda melewatinya, parfum berbau menyengat menggelitik hidungnya dan hampir saja ia bersin.
"Sialan, mimpi apa gue semalam, bisa ketemu mahluk mirip wewe gombel" rutuk Rangga.
David tersenyum, baru kali ini ia melihat bosnya lari terbirit-birit di kejar wanita binal.
"Kenapa malah lari pak, kasihan dia pulang sendiri, bu Linda sepertinya naksir pak Rangga."
Rangga sontak membulat dengan tatapan ke arah asistennya.
"Ish amit-amit Vid, ogah gue punya urusan sama wanita itu, kalau pihak Testafood datang lagi, bilang gue nggak ada." Rangga bergidig ngeri, baru kali ini ia menghadapi wanita yang sungguh aneh.
__ADS_1