Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Tarian Cacing


__ADS_3

Shanum tak sabar menunggu Asep menyelesaikan memasak kue nya, hadiah kecil dari istri Asep membuatnya begitu terharu, sepasang kaus kaki rajutan yang sengaja di buat untuk calon bayinya ia berikan pada Shanum, sebagai tanda terima kasih.


Hati Shanum seketika menghangat saat menerima bungkusan pemberian istri Asep.


Ia bersikeras ingin bertemu dengan istri penjual kue itu, ia ingin berkenalan dan berteman dengannya.


Namun bang Asep tak bisa langsung pulang, ia harus menghabiskan adonan kue nya dahulu.


Untuk itu Shanum meminta Asep untuk menghabiskan semua adonan kue di mansion, ia akan menyuruh supir untuk mengantarkan ke kantor Rangga agar bisa di bagikan pada karyawan lain.


Tentu saja Asep dengan senang hati menyetujui permintaan Shanum, dengan penuh semangat ia membuat adonan kue dan memasak kue jadul tersebut agar supir mansion bisa segera mengirimkan ke kantor Wijaya Corp.


"Bang sudah selesai belum bang?" tak sabar Shanum ingin segera ke rumah Asep dan bertemu istrinya.


"Sebentar lagi bu."


Entah sudah berapa kali Shanum mondar-mandir di samping Asep, bibi di mansion pun tampak menggelengkan kepala melihat tingkah sang Nona muda mereka.


Meski pemberian istri Asep barang sederhana bahkan Shanum bisa membelinya dengan harga berpuluh kali lipat namun perhatian tulusnya sungguh membuatnya terharu.


Asep hanya tersenyum masam, kegiatan istrinya sehari-hari adalah merajut, saat ia berdagang sang istri akan setia menunggunya pulang dengan mengerjakan hobbynya.


Bahkan hasil rajutan sang istri sudah banyak menumpuk, dari baju, kaus kaki dan juga jaket yang ke semuanya hasil kreasi tangan terampilnya.


*********


Tok tok tok.


"Masuk."


Pak Jery supir mansion datang membawa bungkusan besar lalu menaruhnya di atas meja tamu di ruangan Rangga.


"Saya di suruh Nyonya Shanum untuk mengantarkan ini ke kantor Pak Rangga."


"Apa ini Pak Jery?" Rangga meneliti bungkusan yang berada di atas meja, dari aroma wangi yang tercium, rasanya Rangga sudah bisa menebak isi bungkusan tersebut.


Pagi tadi ia berangkat lebih awal, jadi ia tak sempat untuk menunggu Asep membuat kue kesukaannya.


"Terima kasih pak."


Jery sang supir pun mengangguk lalu pergi.


Tak tok tak.


"Vid , lu mau ke mana?"


"Ke kantor depan pak, mau ambil file datang."

__ADS_1


"Ehm, sekalian kau bawa ini, dan bagikan di depan."


David hanya mengangguk pelan dan membawa bungkusan hangat berisi kue jadul, sungkan hatinya untuk menanyakan perihal siapa pembuat kue jadul dan apa hubungannya dengan atasan karena selalu membagikannya di kantor.


"Nen, mana berkas yang baru datang?" tanya David pada petugas front office.


"Oh ini pak, sudah saya bereskan semua."


"Oke Nen, gue ambil ya, dan ini kue dari Pak Rangga tolong lu bagi-bagi ke siapa aja yang mau"


"Hah kue dari Pak Rangga pak?ada acara apa emangnya, kan sekarang bukan hari ulang tahun pak Rangga."


"Bukan ulang tahun, pak Rangga mau buka usaha baru di bidang kuliner? Dan ini adalah satu samplenya" jawab David ngasal.


Neni pun termangu dengan tatapan bingung, apa benar bosnya itu mau buka restoran? batinnya.


"Pak ini berkas sudah saya periksa" David menyodorkan setumpuk berkas pada Rangga.


"Pak apa bapak benar mau buka usaha lain di bidang kuliner?" tanya David ragu mengutarakan apa yang ada di pikirannya.


"Hah, tidak, dari mana lu punya pikiran bahwa gue mau buka usaha lain?"


"Ah tidak, hanya aneh saja bos setiap hari membagi-bagi kan kue, saya pikir itu sample kue yang akan bapak jual."


"Tidak Vid hanya kebetulan ada saudara dari kampung yang bisa membuat kue kesukaanku waktu masih kecil, senang saja bisa melihat orang lain ikut menikmati lezatnya kue tradisional jaman dulu itu" jelas Rangga.


Apa kabarmu bu Linda, batin David lirih.


Dadanya berdenyut nyeri saat mengingat wanita itu seakan menghilang tanpa kabar.


Ada rasa rindu yang menggelitik hatinya, meski malam itu terjadi tanpa rencana namun hati David kini seakan terpatri, senyumnya, tatapan dan sikap manja nya juga belaian jari lentiknya saat bermain dada bidangnya.


Malam panas yang di laluinya bersama Linda masih membekas jelas di ingatannya.


Ahhh, David membatin geram saat di rasa celananya kini menjadi sesak, hanya mengingatnya saja sudah membuat David junior menggila.


Untung saja Rangga tak menyadari rona muka asistennya berubah bak kepiting rebus.


Arah mata David tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup, jika menuntaskan di dalam sana ia takut jika suaranya akan terdengar oleh sang bos, jika di diamkan saja maka kepalanya serasa akan meledak.


Menahan gejolak laknat yang tiba-tiba hadir membuat David panik.


"Vid gue ke luar dulu, berkas ini baru sebagian yang gue tanda tangani, ada satu yang harus mereka revisi, kembalikan berkas ini biar mereka merevisinya secepat mungkin."


"Baik bos."


"Lu mau makan di mana ?"

__ADS_1


"Ehm nanti saja bos, saya sudah pesan online"ujar David panik, jangan sampai atasannya mengetahui perubahan wajahnya yang aneh.


Rangga pun keluar dari ruangan menuju kantin.


"Iyezz" David melangkah ke kamar mandi untuk menuntaskan gelenyar yang kini hampir mencapai puncak kepalanya.


Darahnya bagai terbakar, langkahnya cepat menuju kamar mandi dan segera menguncinya rapat.


Untunglah sang bos belum pulang, setelah lebih dari tiga puluh menit David bermain solo, pusing kepalanya kini jauh berkurang.


Sialan, sampai kapan aku akan membuangnya, batin David setelah membersihkan tubuhnya.


Setelah jam kerja usai dan mengantar sang bos pulang ke mansion David melajukan mobil menuju ke sebuah bar di pusat kota, masih terbilang bar besar namun pengunjung masih tampak sepi karena waktu baru pukul delapan.


Sebenarnya David sangat jarang menghabiskan malam di sebuah bar, hanya ingin menghibur hatinya yang masih terasa kesal, ingatannya akan wanita yang sudah merebut keperjakaannya selalu saja datang dan membuatnya ingin lagi merasakan nikmatnya surga dunia.


Andai saja Linda memiliki sedikit saja rasa untuknya, David akan rela menghabiskan sisa hidupnya dengan Linda.


Mojito, campuran dari jus jeruk nipis dengan white rum, soda dan daun mint yang di pilih David kali ini untuk menyegarkan tenggorokannya yang bagai terbakar.


Alunan musik masih ramah di telinga dan suasana bar pun masih tak terlalu bising.


Pandangan mata David menyisir ruangan bar, pasangan muda mudi mulai berdatangan.


Gandengan mesra dengan pasangan sungguh kian memanas hati David.


Dan pertunjukan malam pun di mulai, para gadis berbusana minim memperlihatkan lekukan tubuh dan kulit mulus mereka.


Glek.


Sialan, niat hati ingin menghibur diri kini malah berubah bagai bumerang bagi David.


Para penari bar mulai menampilkan gerakan erotisnya.


Beberapa penari sexy bergoyang liar bagai cacing di siram air garam, geliatan tubuh putih nan sexy dengan goyangan nakal menyapa para pengunjung.


Tangan jahil para lelaki buaya membuat mereka semakin lincah memamerkan tarian panas yang membuat panas mata yang melihatnya.


Berkali-kali David mengalihkan matanya saat beberapa penari bergoyang liar menempel dan menggesekan tubuh padanya, gesekan kulit terasa jelas saat benda lunak bergoyang lembut membakar gelora David, jika siang tadi ia menuntaskan secara solo kini David pun harus berusaha keras agar dapat menjinakan kembali juniornya yang sudah menegang sempurna.


Sialan, siaalaaann, umpatnya dalam hati.


Langkahnya ke luar menuju pintu bar, tak ingin ia terlalu larut dalam ruangan yang penuh dengan lambaian iblis yang begitu menggoda iman, matanya tiba-tiba menatap nanar pada satu sosok yang terlihat begitu asik berjoged solo di tempatnya duduk.


David menggosok kedua matanya, seakan tak percaya pada indra penglihatannya.


"Bu Linda" desisnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2