
Jangan lupa like, koment dan vote ya sayang, happy reading 😘😘😘😘
💦💦💦💦💦💦💦💦
Pagi ini Shanum sarapan dengan tergesa-gesa, begitupun sang suami.
Setelah kegiatan panas pagi tadi membuat keduanya terlena dan tak terasa waktu berjalan dengan cepat.
"Sayang,habiskan dulu sarapanmu." pinta Rangga, tampak sedikit cemas karena sang istri mempunyai gangguan lambung yang mengharuskannya untuk selalu makan teratur, jika sarapan yang ia habiskan hanya sesuap maka tak cukup energi untuk tubuhnya bekerja sampai istirahat nanti.
"Udah kenyang sayang." Shanum menjawab santai lalu mengambil tasnya.
Rangga hanya menggelengkan kepalanya lalu ikut bergegas menyusul Shanum.
Tugas kantor yang menunggunya pasti sudah menumpuk, persiapan audit sungguh membuat Rangga stress.
"Sayang, bagaimana menurutmu kalau aku minta satu orang untuk membantu pekerjaanku?" tanya Rangga melirik Shanum di sebelahnya.
"Heum boleh, jika memang di perlukan dan pekerjaanmu keteter."
Rangga tersenyum senang, setiap hari pulang malam karena lembur, membuat tubuhnya begitu lelah.
Rangga melangkah setelah memarkirkan mobilnya di area parkir gedung Wijaya Corp.
Keduanya membalas sapaan hormat para karyawan dengan senyum tipis.
Beberapa karyawan terlihat memandang kearah CEO dan wakil CEO mereka dengan tatapan kagum.
Shanum yang sudah terbiasa tampak berjalan dengan tenang, lain halnya dengan Rangga yang masih terlihat canggung dan wajah sedikit tegang.
"Huff." Rangga menghembuskan nafas lega, saat mereka sampai dalam ruang lift.
"Kenapa?" tanya Shanum.
"Ehm, aku masih belum bisa menghilangkan kegugupanku," jelas Rangga.
"Nggak apa-apa nanti juga terbiasa."
Rangga meraih tangan Shanum dan mengecupnya lembut.
"Terima kasih, kau membuatku merasa tenang."
Rangga mengurai pegangannya setelah pintu lift terbuka, karena mereka memang terpisah ruangan.
Huuuf, semangat Ngga, lihatlah istrimu, tetap gigih dan penuh semangat jalani hari dengan tulus, niscaya akan datang keberkahan dalam hidup, batin Rangga berusaha menenangkan hatinya.
Drrt drrt
"Orang nya udah ada di front office." isi pesan dari Dika.
Memang Rangga sudah menginformasikan pada Danu dan Dika, bahwa ia membutuhkan seseorang yang kompeten untuk membantu pekerjaannya di kantor.
Dan Dika yang memiliki saudara yang lulusan sarjana dari universitas ternama di negri ini pun merekomendasikan bahwa ia memiliki kriteria yang cukup untuk menduduki posisi tersebut.
Tak ingin membuang waktu lama karena menurut Rangga, Dika sangat dapat di percaya.
__ADS_1
Rangga tampak fokus pada map yang berisi CV yang Dika serahkan.
Tok tok .
"Ya masuk."
Seorang pemuda berwajah tegas dengan tatapan tajam memasuki ruangan.
Anggukan kepala hormat ia tunjukan pada Rangga.
Netra Rangga menelisik sosok yang berdiri tegap di hadapannya.
Ada sedikit rasa iri di hatinya, kenapa pria itu terlihat begitu sempurna.
Andai ia seorang wanita, sudah tentu saat ini hatinya berdegub kencang menatap wajah tampan bak dewa yunani.
Badan tinggi dengan bahu tegap, menandakan pria itu rajin menjaga kebugaran tubuhnya.
Kemeja panjang yang pas di badannya memperlihatkan perut rata, bagai tak ada lemak yang menempel di kulit coklat itu.
"Davin, itu namamu?" tanya Rangga memulai pembicaraan, meski dalam CV tertera jelas identitas pria tersebut.
"Benar tuan."
"Ehm, tolong jangan panggil saya 'Tuan'."
Rangga merasa panggilan itu terasa kaku untuknya.
"Ehm panggil 'pak'saja, " titah Rangga.
Karena waktu jadwal audit hanya tersisa dua hari lagi, Rangga menyerahkan tugas yang ringan pada David untuk di kerjakannya, agar tugas yang lebih beresiko besar ia yang lakukan.
"Baiklah karena waktu kita sangat terbatas maka ku harap kau bisa menyelesaikan tugas yang ku berikan dengan segera."
Davin mengangguk pasti, lalu berjalan ke arah meja yang berada tak jauh dari meja Rangga.
Tak berapa lama Davin pun menyerahkan berkas yang Rangga berikan.
Rangga menatap bingung ke arah asisten barunya itu.
"Kenapa?" tanya Rangga heran.
"Sudah selesai pak."
"Hah..." Rangga menatap berkas di tangannya.
Helaan nafas lega dengan tatapan puas ke arah David setelah memeriksa ternyata pemuda itu menyelesaikan dengan cepat dan rapih dan tentu saja sesuai dengan apa yang Rangga perintahkan.
Lalu Rangga mengambil lagi beberapa map lain, lalu di serahkan pada David.
"Kerjakan ini, lalu serahkan setelah jam istrirahat selesai."
"Hah.." Kali ini David yang di buat bingung dengan kelakuan atasannya tersebut.
Davin melangkah menuju mejanya dengan menggaruk lepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Ada rasa sesal di hatinya, kenapa ia menyelesaikan tugas tersebut dengan cepat.
Kalau tahu akhirnya begini, mending gue kerjain sambil nyantai, batin David.
"Kau selesaikan sendiri Vid, kalau ada yang belum jelas kamu bisa hubungi saya, saya ada meeting di ruang sebelah."
David menatap kepergian bos nya dengan tatapan bingung.
Bagaimana mungkin ia bisa menghubunginya, nomornya pun tak punya, batin David.
Rangga memasuki ruangan sebelum di angkat menjadi wakil CEO.
Ceklek.
"Whoaahh, mimpi apa gue semalam, kedatangan tamu agung."
Danu menyambut Rangga dengan gerakan kepalan tangan saling beradu dengan Rangga.
Begitupun Dika yang menyambut sahabatnya itu dengan pelukan hangat.
"Gimana bro, orang yang gue rekomendasikan?" tanya Dika.
Meski posisi mereka sekarang berbeda namun keakraban tetap tak merubah, bahkan mereka tak mengubah panggilan masing-masing.
"Ehm, gue acungi jempol sama dia,paket komplit bro, isi kepala sesuai dengan casing."
Terang Rangga dengan mengacungkan kedua jempol ke arah Dika.
"Sialan emang hp." ujar Dika.
"Lagi sibuk lu pada, tumben bentar lagi istirahat masih aja betah di ruangan, biasanya juga tiga puluh menit sebelum bel udah pada nyantai." ujar Rangga.
"Heum, biasa kalau mau audit, sibuk semua meriksa data lapangan." jawab Danu yang masih fokus dengan laptopnya.
"Lo Dik?"
"Heum gue udah nyantai, hayok lah kalau mau ke kantin mah."
"Heum tunggu lima menit lagi." meski sebagai wakil CEO Rangga tak mau menyalahgunakan kekuasaan hanya untuk kepentingan pribadinya.
Dika pun mengangguk paham.
"Eh lu ada hubungan apa sama David?" tanya Rangga.
"Ibunya adik dari ayah kita" terang Dika.
"Oohhm pantes, IQ di atas rata-rata." Sanjung Rangga.
Dika tersenyum datar, meski sahabatnya itu mengakui tingkat kecerdasan yang di miliki nya adalah keturunan namun Dika tak merasa demikian karena sebenarnya Rangga lah yang paling encer otaknya jika di bandingkan dengan mereka.
"Eh lu nggak makan siang bareng nona Shanum?" tanya Dika ragu.
"Heum, masih saja kau panggil dia nona, gue suaminya, jadi lu harusnya panggil dia Nyonya lah." terang Rangga dengan muka kesal.
Dika hanya tersenyum masam, hatinya terasa perih saat menyadari kenyataan bahwa wanita yang di kaguminya kini sudah berstatus seorang istri.
__ADS_1
"Nyonya, ingat lu, Nyonya muda Shanum."
Terang Rangga dengan suara lebih tinggi saat pengucapan 'Nyonya Muda'.