Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Lebih Muda Dariku


__ADS_3

David ke luar dari apartemen Linda setelah memakaikan bajunya lengkap dan memastikan dirinya aman.


Ada untungnya juga Linda dalam keadaan mabuk, jadi ia tak akan menyadari jika David berada di kamar apartemennya.


Mungkin besok pagi Linda akan terbangun dengan kepala pusing karena banyaknya minuman yang ia habiskan namun ia lega karena Linda sudah memuntahkan semua isi perutnya.


David meninggalkan apartement.


Waktu menunjukan pukul dua belas malam, ia bergegas membersihkan tubuhnya, ia ingin segera tidur melepaskan segala ke penatan di kepalanya.


Pagi menjelang, Rangga sengaja pagi ini tidak meminta David menjemputnya, ia membawa mobil sedan lain dari garasi mansion, siang nanti Shanum ingin berbelanja untuk keperluan bayi di sebuah mall, meski beberapa kali ia mendapat penolakan namun Rangga bersikeras untuk tetap menemani istrinya berbelanja, ia tak ingin sang istri akan lupa waktu dan mengabaikan kondisi tubuhnya sendiri.


Rangga belum menanyakan pada Shanum kenapa ia sudah membeli perlengkapan bayi sedangkan janin yang di kandungnya baru berusia tiga bulan lebih.


Sepatu hitam mengkilap beradu cepat dengan lantai, langkah Rangga keluar menuju area parkir.


Setelah menyelesaika semua rapat dan meeting, kini Rangga menyerahkan sisa tugasnya pada David, asisten gagah dan cekatan yang selalu bisa di andalkannya.


Sementara itu, di sebuah kamar besar di mansion Hardy, Shanum tersenyum senang setelah beberapa list berhasil ia catat.


Semua daftar perlengkapan bayi juga sang ibu bayi di catat Shanum agar mempersingkat nanti jika ia belanja.


Kemarin ia gagal bertemu dengan istri Asep karena hari itu ternyata ada jadwal kontrol dengan bidan di posyandu di dekat rumah mereka.


Setelah beberapa kali mengeluh pusing akhirnya Asep meminta tetangganya untuk ikut menemani istrinya ke posyandu karena memang jarak rumahnya dengan posyandu hanya beberapa meter, sedangkan Asep tetap berjualan keliling ke mansion.


Tak enak katanya, keluarga pak Rangga sudah sangat baik pada mereka, dan tugasnya membuat kue untuk penghuni mansion tinggal satu hari lagi.


Kini bukan hanya penghuni mansion yang menikmati kue jualannya, karena Rangga selalu membawanya ke kantor dan membagikan pada karyawan.


Jam menunjukan pukul satu siang, Shanum segera berganti baju dan bermake up tipis agar wajahnya tidak kelihatan pucat.

__ADS_1


Deru suara mobil terdengar memasuki parkiran mansion.


Langkah Shanum dengan flatshoes hitam berjalan cepat menyambut kedatangan Rangga.


"Hati-hati sayang jangan terlalu cepat jalanmu!" pekik Rangga saat melihat langkah sang istri berjingkat cepat menuju ke arahnya.


"Ah maaf" ucap Shanum yang tersadar bahwa kini perutnya sudah berisi janin kecil dan harus di jaganya dengan extra.


Rangga hanya menggelengkan kepalanya.


Di waktu yang sama di tempat berbeda, Anah istri Asep tersenyum senang, timbangan berat badannya naik satu kg, Bidan petugas posyandu pun tersenyum senang, ibu muda tersebut memiliki kehidupan yang memprihatinkan, meski sedang hamil ia sering tak mendapat asupan nutrisi yang lengkap untuk ibu hamil, dan grafik kenaikan berat badannya pun berjalan lambat, namun perkembangan pesat beberapa hari ini membuatnya tersenyum, dari penuturan para tetangga, Asep selalu pulang dengan banyak oleh-oleh berupa makanan mentah maupun yang sudah siap makan.


Juga baju daster selimut dan perlengkapan bayi, rupanya ada pelanggan yang merasa prihatin pada Asep hingga memberikan banyak hadiah untuk istri dan calon bayinya.


"Teh Anah, makan yang teratur ya, dan ini vitaminnya di minum, juga susu hamilnya di habisin, timbangan teh Anah sudah naik satu kg, banyakin makan yang mengandung protein dan vitamin ya Teh, juga sayuran jangan lupa, dan usahain olah raga setiap pagi jalan santai di sekitar rumah baik lho Teh untuk ibu hamil, apalagi sekarang kehamilan Teh Anah sudah akan memasuki trimester ke tiga banyakin gerak tubuhnya biar persaliannya lancar ya Teh."


Anah istri Asep mengangguk dengan senyum senang, tak henti tangannya mengusap jabang bayi yang masih berada dalam perutnya.


Sekarang jika ia akan memasak tak harus menunggu lagi suaminya pulang, karena semua bahan makanan sudah banyak tersedia di dapurnya.


Anah sangat bahagia dan terharu bahkan sang istri dari pak Rangga pelanggannya pun menitipkan beberapa daster dan selimut untuknya.


Hari ini pun Anah ingin memasak istimewa karena istri pak Rangga akan berkunjung ke rumahnya, setelah rencana kemarin gagal akhirnya hari ini ia akan bertemu dengan malaikat penyelamatnya.


Setelah pemeriksaan di posyandu selesai Anah bergegas pulang ke rumah dan akan memasak untuk pak Rangga dan istrinya.


Sayur asem, lalapan, dan ayam semur juga ikan asin, masakan sederhana yang ia buat, juga karedok, makanan berbahan mentah akan segar jika di makan saat cuaca terik.


Setelah selesai masak, Anah pun membersihkan halaman dan segera mengamparkan tilam untuk alas mereka duduk nanti, karena kursi yang ia punya hanya ada satu buah itupun kursi plastik dan sudah tidak layak untuk di duduki karena tak kuat jika menahan berat.


Tok tok tok.

__ADS_1


Anah bergegas membuka pintu, Ia menyalami Asep suaminya, Asep tersenyum lalu mempersilahkan Rangga dan Shanum untuk masuk.


Anah terdiam membeku di tempatnya, tak mengira jika malaikat penolongnya selama ini begitu cantik bak bidadari, tak henti Anah menatap Shanum dengan penuh kagum wajahnya yang putih bersih tanpa noda, baru kali ini Anah melihat kulit wajah sehalus itu.


"Neng, ish malah ngelamun ...itu ibu mau salaman" bisik Asep saat uluran tangan Shanum tak di sambut istrinya.


"Ah m maaf bu" Anah terlebih dahulu mengelap tangannya ke bajunya sebelum menyambut uluran tangan Shanum.


Shanum tersenyum lembut, dari wajah Anah terlihat sikap polos nan lugu yang sangat menggemaskan umurnya yang mungkin beberapa tahun lebih muda darinya membuat Shanum memandang haru pada istri Asep tersebut.


Rangga dan Shanum duduk lesehan di atas tikar permadani yang sudah tampak lusuh.


Anah masih dengan wajah kikuk dan beberapa kali membungkuk mengucapkan kata maaf.


Gemas Shanum di buatnya.


"Bang Asep istri bang Asep umur berapa? Sepertinya masih muda ya?" tanya Shanum penuh selidik.


Asep tersenyum malu, ia yang merasa jatuh cinta pada Anah sejak pandangan pertama langsung melamar Anah yang di temuinya sedang menjemur pakaian di sebuah perumahan tanpa bertanya dulu berapa umur gadis pujaannya itu.


"Umus istri saya sembilan belas tahun Bu he hee" jawaban polos Asep membuat Shanum dan Rangga saling pandang.


Calon ibu yang masih sangat belia, pikir Shanum.


"Silahkan di minum pak, bu..maaf hanya ini yang bisa kami suguhkan." Anah berucap sambil wajah tertunduk.


"Iya terima kasih Anah, ehm bolehkan saja panggil kamu nama saja, umurmu enam tahun di bawahku" ujar Shanum.


"Hah masa Bu, saya pikir ibu sepantaran dengan saya, wajah ibu bahkan kelihatan jauh lebih muda dari saya" Anah membulatkan mulutnya, matanya mengerjap beberapa kali.


Bahkan ku pikir ia lebih muda dariku.

__ADS_1


__ADS_2