
Shanum duduk menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tengah mansion besarnya.
Hampir sehari ia berjalan mengelilingi mall.
Kedua pengawal yang tadi membawa jinjingan sudah berlalu setelah menaruh hasil belanjaan Nyonya muda mereka.
"Ini mau di taruh di mana non?"tanya bibi.
"Yang asinan buah di kulkas aja bi, kalau snack taruh di sini aja, aku mau memakannya" Shanum menunjuk ke atas meja di hadapannya.
Sang bibi hanya mengangkat kedua alisnya.
Snack sebanyak itu apa akan di habiskan semua hari ini, batin bibi.
"Kalau baju-baju nya taruh di kamarku aja bi."
"Baik non."
Shanum memandang hasil buruannya di mall dengan puas.
Berbagai macam snack seakan menari-nari di pelupuk matanya.
Bibi hanya menggeleng dari jauh saat nyonya muda nya yang terlihat begitu bahagia dengan dunia camilannya.
Merasa gerah dan badan terasa lengket akhirnya Shanum melangkah ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Ceklek.
Terdengar suara pintu mansion terbuka.
Rangga yang memang memutuskan untuk pulang tak terlalu malam kini datang.
Matanya sekilas menangkap objek di atas meja ruang tengah.
Bermacam-macam snack berserakan di atas meja.
Rangga hanya menggelengkan kepalanya, tak salah lagi, itu pasti belanjaan sang istri.
Pamit berangkat ke mall pagi tadi, apa sekarang dia baru pulang, batin Rangga.
Ceklek.
Rangga membuka pintu kamar yang memang tak di kunci sang istri.
__ADS_1
Kamar terlihat hening, hanya ada sepatu dan baju yang ada di sofa kamar.
Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Tok tok tok.
"Sayang apa kau di dalam?" tanya Rangga lembut.
Rangga melangkah memasuki kamar mandi karena tak ada jawaban dari Shanum.
Tak ingin terjadi sesuatu yang tak di inginkan, Rangga bergegas membuka tirai transparan yang memisahkan ruang shower dan ruang berendam.
"Eh kau sudah pulang sayang?" sapa Shanum yang sudah memakai bathrobe, ternyata sudah menyelesaikan ritual berendamnya.
"Heum, apa kau juga baru pulang dari pergi pagi tadi?" pertanyaan yang terdengar sinis membuat Shanum tercekat.
Jika tadi Rangga bersemangat untuk menghadiahi wejangan dan tausiah untuk sang istri yang masih bertingkah layaknya seorang anak kecil, kini Rangga di buat tertegun.
Tubuh dengan masih berbalut bathrobe berwarna putih, dengan handuk kecil tergulung di kepalanya membuat suluran rambut yang basah terlihat begitu sexy di mata Rangga.
Leher putih jenjang terekspose nyata.
Glek.
"Sayang apa kau tidak merasa lelah berjalan mengelilingi mall sehari penuh?" ucap Rangga tetap dengan nada lembut meski hatinya bergemuruh kencang.
Shanum menggeleng pasti.
"Aku tidak merasa lelah, justru dia malah senang." Shanum menjawab dengan tangan mengusap perutnya pelan.
Tak ingin rasa kesal membuatnya semakin menguasai dadanya, Rangga pun keluar dari kamar mandi.
"Kembali ia di kejutkan dengan pemandangan yang menguji kesabarannya.
Beberapa tote bag berjejer di sudut kamar.
Tatapan Rangga kini beralih ke arah Shanum yang berdiri di belakangnya.
"Sayang, kau belanja sebanyak ini sendirian?" sungguh Rangga tak bisa membayangkan tubuh kecil sang istri yang kini tengah mengandung, berjalan mengelilingi mall dengan jinjingan tas di kedua tangannya.
Shanum mengangguk antusias belum mengerti ke arah mana kalimat Rangga.
"Sayang apa kau tidak ingat apa kata dokter?" Rangga kini semakin tak dapat menguasai kekesalannya.
__ADS_1
Shanum mengangguk pasti.
"Aku ingat kok."
"Apa larangan dokter yang kau ingat?" tanya Rangga dengan tatapan tajam.
"Aku tidak boleh terlalu lelah dan juga tidak boleh terlalu banyak beraktifitas."
"Lalu apa berjalan mengelilingi mall dengan perut buncit bukan aktifitas berat?" tanya Rangga dingin.
Shanum seakan tersadar pada kecerobohan nya sendiri yang akhirnya membuat sang suami tampak meradang.
"Maaf" sesal Shanum dengan wajah tertunduk.
Rangga menghela nafas berat, nasi sudah menjadi bubur, ia kini hanya bisa berharap semoga Shanum baik-baik saja dan kandungannya tetap sehat.
"Pakailah baju mu, nanti kedinginan."
Shanum berjalan dengan wajah tertunduk menuju lemari pakaian.
Ternyata ia seorang ibu yang sungguh egois, hanya memikirkan kesenangan untuknya sendiri tanpa memperhatikan kondisi jabang bayi yang di kandungnya.
Shanum mengusap perutnya pelan, sesak dadanya kini semakin terasa.
Maafkan ibumu yang tega mempertaruhkan nyawamu hanya untuk kebahagiaan ibu sendiri.
Dengan tangan gemetar Shanum memakai bajunya satu persatu.
Kembali di usapnya perut buncitnya.
Sayang maafkan ibu nak, ibu tak akan melakukan hal bodoh lagi.
Air bening kini menggenang di sudut matanya, kembali ia mengingat kalimat dokter kandungan yang mengatakan bahwa kandungannya dalam kondisi lemah, dan sangat tidak di anjurkan untuk Shanum bergerak terlalu aktif.
Dada nya berdebar kencang, entah berapa jam tadi Shanum menghabiskan waktu untuk berjalan mengelilingi mall besar.
*sehat-sehat kau di sana ya sayang, ibu menunggu kehadiranmu, kau anak ibu paling kuat.
💦💦💦💦💦*
Othor mengucapkan Selamat Hari Ibu, buat para ibu-ibu luar biasa di seluruh nusantara.
Teruslah berjuang, pantang menyerah demi orang-orang yang menyayangi kita.
__ADS_1
Tetaplah semangat 😘😘😘