
Sudah beberapa hari Devon selalu fokus dengan kegiatannya ,perusahaan pusat miliknya sudsh stabil ,namun ada satu anak cabang perusahannya yang sedang membutuhkan perhatian lebih ,hal itu membuatnya harus memundurkan jadwal kunjungannya lebih lama dan terpaksa harus tinggal beberapa hari lagi di negara ini ,meski separuh hatinya masih tertinggal jauh di sebrang .
Sementara Shanum yang kini telah pulih ,kembali berkutat dengan kesibukannya yang satu minggu ini jadwal bertemu dengan beberapa vendor yang sudah di jadwalkan beberapa bulan lalu ,waktu yang berjalan terasa begitu cepat membuat Shanum kembali merasa pusing karena otak nya selalu berfikir keras .
Ia begitu ingin menikmati masa mudanya seperti teman-teman sebayanya ,entah itu berburu kuliner lezat,nonton di bioskop ataupun sekedar keliling mall.
Shanum menghela nafas berat entah kenapa otak dan tubuhnya sering tak sinkron ,seperti saat ini ,entah bagaimana tangannya telah menekan tombok kontak Rangga dan memanggilnya .
Bibir mungilnya pun sontak terbuka lebar dan kaget bukan kepalang saat satu suara menyapanya di ujung telpon.
"Iya ,halo Sha ..apa kau membutuhkanku ?"Sapa suara yang sudah beberapa hari ini selalu setia bersamanya ,mengisi hari-harinya dan mendengar semua keluh kesahnya saat ia dalam kesepian dan merasakan kesedihan .
Perhatian yang selama ini Rangga berikan membuat Shanum merasa nyaman dan membuat hatinya selalu berbunga .
Seperti saat ini,setiap Shanum membutuhkan Rangga maka ia akan selalu siap kapanpun dan dimana pun .
"Sha,kenapa Sha?kembali Rangga bertanya karena Shanum masih tampak membisu meskipun Rangga sudah menyapanya dari sebrang .
__ADS_1
"Ehh hmmm"entah kenapa bibir Shanum menjadi kelu.
"Aku ke ruanganmu ya Sha "Rangga berucap sebelum menutup panggilan Shanum .
Sementara perasaan panik tiba-tiba mendera Shanum ,apa yang harus ia katakan jika Rangga sampai di ruangan itu .
Tak mungkin jika ia mengatakan tak sengaja menekan nomor kontak Rangga .
"Aagghhh "
Tok tok tok
Shanum menatap pintu ruangannnya dengan panik ,pastilah Rangga yang sedang mengetuk pintu itu .
Tok tok tok
Kembali ketukan pintu terdengar .
__ADS_1
"Ya masuk"ujar Shanum dengan suara gugup masih tak sadar dengan keadaan dirinya ,rambut yang acak-acakkan dan muka tampak kusut .
Rangga melangkah dengan wajah tampak gusar ,tak biasanya Shanum memanggilnya saat waktu kerja beberapa menit lagi berakhir.
Tak ingin terjadi hal buruk pada CEO nya membuat Rangga segera meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya tinggal sedikit lagi akan selesai .
Tatapannya langsung memindai ke seluruh tubuh mungil yang sedang duduk di kursi ,wajah sayu dengan rambut kusut masai terlihat sedikit mengenaskan bagi Rangga ,namun tetap tampak begitu imut di matanya .
"Ada apa denganmu Sha ?apa kau sakit,apa kau perlu sesuatu?"beberapa pertanyaan Rangga ajukan bertubi-tubi seakan kecemasan hatinya membutakan siapa dirinya dan siapa gadis yang tengah ia cemaskan .
Rangga meraba kening Shanum dengan telapak tangannya lalu beralih menempelkan di keningnya sendiri ,perasaan lega saat mengetahui bahwa suhu badannya masih normal .
"Katakan padaku Sha ,kamu kenapa"tanya Rangga masih dengan perasaan cemas .
"A aku tidak apa-apa Ngga"jawab Shanum singkat mencoba mengatasi kegugupannya ,entah kenapa jantungnya tiba-tiba bergedup kencang saat Rangga dengan penuh perhatian memeriksa kondisi suhu tubuhnya dengan lembut menempelkan punggung tanggannya di keningnya,hati yang merasa sepi setelah sekian lama ,entah kenapa kini merasa hangat jika berada di dekat pria ini .
"jangan memberiku perhatian terlalu besar Ngga,aku takut perasaan ini akan semakin dalam dan tak bisa ku lepaskan ".hati Shanum bergumam lirih .
__ADS_1