
"Kita harus ke rumah sakit sekarang juga, agar memastikan apakah hasil tespack itu benar."
David memandang Linda lembut, ia tahu ke khawatiran yang sedang Linda alami, rasa terkejut karena tiba-tiba ia di nyatakan hamil, meski ia memang pernah melakukannya.
"Aku belum siap" ucap Linda.
"Kita akan pergi bersama" David meraih jemari Linda untuk menenangkan hati wanitanya itu.
Keduanya saling bersitatap, ada kejujuran di mata David yang bisa Linda tangkap, bahkan ketulusan terlihat jelas dari pancaran matanya.
"Baiklah, tapi tidak hari ini, aku ingin istirahat dulu menenagkan hati dan pikiran" ujar Linda .
"Baiklah besok kita berangkat bersama, sekarang kau istirahatlah, aku akan kembali ke perusahaan" ujar David.
Linda mengangguk dan hatinya tiba-tiba bergetar hebat saat David mencium puncak kepalanya lembut.
David mengemudikan kereta besi menuju Wijaya Corp dengan hati yang amat riang.
Tak pernah terbayangakan olehnya, ia akan menjadi seorang ayah, senyum tipis selalu tersungging dari bibirnya.
Ahh, tak pernah aku merasa sebahagia ini, batin David.
Bahkan saat kita belum pernah bertemu pun, aku sudah sangat merindukanmu nak, lanjutnya lagi.
Di area parkir gedung Wijaya, beberapa satpam memandang David dengan tatapan aneh.
Tak ada angin tak ada hujan, David mengangguk ramah saat keluar dari mobil lalu tersenyum manis ke arah mereka.
"Aneh" ucap salah satu satpam dengan mengusap tengkuknya yang meremang.
Ceklek.
Tak tok tak.
Langkah panjang David memasuki ruang pantry.
"Pak David mau buat minuman? Biar saya saja yang bikin pak" ujar Asep.
"Tdak usah Bang, saya akan buat sendiri, Bang Asep sedang sibuk kan? teruskan saja kerjaan abang" jawab David santai.
Asep pun kembali meneruskan pekerjaannya.
Hari ini adalah hari di mana pertama kali Asep akan menerima gajian, tentu saja wajahnya cerah bagai bukan purnama di tanggal muda.
"Ehm hmm, muka bang Asep ceria amat bang?" tanya David.
"Ah biasa saja Pak, saya hanya senang karena hari ini saya akan menerima gajih untuk pertama kali, dan sudah berjanji akan mengajak Anah untuk makan di luar."
Asep menjawab dengan wajah malu-malu, tentu saja makan di luar versinya adalah sekedar membeli baso atau mie ayam dan di makan di warungnya, karena ia tak pernah sekalipun makan di restoran ataupun warung makan sederhana sekalipun.
"Wah makan di mana nih?" tanya David antusias.
"Ah hanya makan mie ayam di warung di depan gang Pak, Anah sudah lama ingin mencoba mie ayam yang sangat laris itu" ucap Asep polos.
Deg.
Sesak rasa dada David mendengar penuturan Asep, sungguh kebahagiaan yang amat sederhana, batinnya.
__ADS_1
Ceklek.
Aura wajah menyeramkan di perlihatkan oleh Rangga saat David muncul dari pintu masuk, beberapa pesan yang di kirimnya di acuhkan oleh sang asistennya sendiri.
Bahkan dengan berani ia me-non aktifkan gawai nya tanpa mengirim pesan balasan terlebih dahulu.
"Masih ingat tempatmu mengail?" tanya Rangga sinis dan dingin.
"Maaf bos."
"Mana hasil rapat pagi tadi?" Rangga tak ingin mencampuri urusan asistennya itu.
"Ini bos."
Dengan seksama Rangga memeriksa catatan notulen dari David.
Ia kini mulai merasa harus selalu waspada, entah situasi apa yang sedang asistennya hadapi, hingga pekerjannya sering terbengkalai.
"Bos saya mau ijin sore ini tidak lembur dulu."
David berucap dengan agak ragu.
"Heum."
"Gimana bos?"
"Ya."
"Yes" David tersenyum puas lalu membereskan lembaran kertas dan buku agendanya di atas mejanya.
"Saya pamit pulang dulu bos."
"Heum."
David saat ini hanya ingin segera pulang dan mengunjungi Linda.
Ah baru berapa jam yang lalu berpisah, tapi entah kenapa sekarang David begitu merindukan wanita itu.
Ayolah Vid, bukannya besok kalian akan bertemu lagi, kalian akan pergi bersama dan memeriksakan calon anakmu, batin David.
Anak, memikirkannya pun sudah membuat hatinya begitu berbunga.
David dengan tenang melenggang pergi meninggalkan gedung Wijaya Corp.
Ia berani meminta pulang lebih awal karena semua tugas sudah di selesaikan semua dengan tepat.
Dan Rangga pun tak dapat mengingkari jika memang hasil kerja David memuaskan seperti biasa, jadi tak ada alasan baginya untuk menolak apa yang asistennya itu pinta.
Seperti sore ini, tak biasanya David meminta ijin pulang.
Setelah memarkirkan kendaraan, Rangga memasuki mansion, Shanum menyambut dengan senyum hangat seperti biasa.
"Sayang, ada ayah di dalam" ujarnya.
"Kapan ayah pulang?"
"Tadi siang, bawa banyak oleh-oleh buat kita" bisik Shanum senang.
__ADS_1
Rangga tersenyum gemas dan menoel puncak hidung sang istri.
"Selamat datang Yah" sapa Rangga hangat lalu menyalami dan mencium punggung tangan sang mertua.
"Heum, bagaimana kabarmu Ngga?" suara berat Hardy terdengar penuh wibawa.
"Baik Yah" jawab Rangga.
"Lekaslah mandi, lalu kita makan malam bersama" ucap Hardy.
"Baik Yah."
Setelah membersihkan badan dan berganti dengan baju rumahan, Rangga pun bergabung di meja makan, di mana tersedia beberapa macam makanan kesukaan Hardy.
Glek.
Hidangan lezat yang memenuhi meja membuat Rangga menelan saliva kasar.
Mereka hanya makan bertiga, tapi begitu banyak makanan yang bibi masak, rasanya akan mubazir jika tak di habiskan, pikir Rangga.
"Oiya Ngga, bagaimana kelanjutan kerja sama dengan Testafood?" tanya Hardy di sela mengunyah makannya.
"Ehm baik Yah, bahkan mereka semakin berkembang pesat, ekspor pertama telah berhasil dengan keuntungan hampir tujuh puluh lima persen, dan sekarang mereka pun sedang merencanakan untuk memperluas ke negara lain untuk tujuan ekspor berikutnya."
Hardy mengangguk puas.
"Memang tak salah jika Lefrant di juluki seorang pemimpin bertangan dingin" ujar Hardy.
"Ayah mengenal pak Lefrant?"
"Meski belum mengenal baik, tapi nama nya sudah sering menjadi perbincangan di kalangan para pengusaha, meski usianya masih terbilang muda, tapi nama besarnya sudah di kenal oleh banyak pebisnis besar."
"Pantas, Testafood maju pesat, meski baru beberapa tahun di dirikan" desis Rangga pelan.
"Ya benar, Lefrant hanya selisih lima tahun lebih muda dariku, tapi perusahannya sudah sangat di kenal oleh para kalangan pebisnis lainnya, dengan tangan dinginnya, ia berhasil membangun perusahaan yang tadinya hanya sebuah produk rumahan, kini menjadi perusahaan besar, untunglah kau berhasil bekerja sama dengan perusahaan Testafood."
Rangga tersenyum masam, andai ayah mertuanya tahu, bahwa sempat Rangga hendak menolak kerja sama dengan mereka, bisa-bisa di suruh pisah ranjang aku, batinnya.
Malam sudah larut saat Rangga menuju kamarnya setelah Hardy mengajaknya mengobrol.
Ceklek.
Rangga menggelengkan kepalanya, Shanum tampak tertidur di sandaran sofa dengan televisi yang masih menyala dan tangan memegang satu bungkus makanan ringan oleh-oleh dari Hardy.
Tersenyum masam Rangga mengambil bungkusan snack di tangan sang istri, yang katanya oleh-oleh dari Hardy untuk mereka namun nyatanya semua adalah makanan kesukaan Shanum.
"Muachh"
Rangga mengecup bibir Shanum ringan, terasa sedikit manis, batinnya.
Senyum smirknya terbit.
Di ulanginya lagi ciuman pada bibir mungil sang istri.
Rupanya rasa manis bibir Shanum berasal dari sisa snack yang di makannya.
Ciuman ringan yang kini berubah menjadi sesapan penuh menuntut.
__ADS_1
Rangga tak lagi menghiraukan halangan tangan Shanum yang berusaha menutupi mulutnya karena tidurnya terganggu.
"Emmph" tubuhnya menggeliat manja, sapuan bibir Rangga kini telah menjelajah jauh di bawah sana, membuat sang pemilik tubuh kini mengeluarkan ******* yang membangkitkan gairah.