Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Rencana Linda


__ADS_3

Linda memasuki ruang kantornya dengan penuh percaya diri.


"Selamat pagi bu Linda" sapa salah satu karyawan bagian personalia bernama Lia.


"Pagi Li, bagaimana kabar Testafood selama saya tidak masuk Li?"


"Wah, banyak karyawan pada ngeluh bu, mereka kangen ibu"


Nggak ada yang bisa buat cuci mata bu.


Linda tersenyum puas."Dari mana kau tahu mereka kangen sama saya."


"Ya mereka nanyain ibu, kenapa bu Linda lama tidak masuk kerjanya, gitu bu."


"Ah kau bisa aja bikin orang seneng Li, terima kasih ya Li"


Lia mengangguk pasti, Limda memang terkenal dengan jiwa yang hangat dan ramah pada para karyawannya, dan tak mem bedakan derajat dan jabatan anak buahnya.


"Ada surat buat saya nggak Li?"


"Ehm surat untuk bu Linda sudah di ambil semua oleh pak Lefrant bu."


"Ohh, ehm terima kasih Li"


Linda pun memasuki ruangannya.


Selama beberapa hari tak masuk rupanya sang kakak sudah menyelesaikan tugasnya yang tertunda.


Memang di balik sikap dingin dan tegasnya kakak satu-satunya itu adalah kakak yang sangat perhatian.


Mata Linda berbinar saat lihas schedule hari, tenyata ada rapat di sebuah perusahaan dengan beberapa klien dan termasuk perusahaan Wijaya Corp.


Jika rapat di lakukan siang nanti maka Linda masih berkesempatan untuk melakukan treatmen di salon pagi ini.


Senyum Linda terbit sambil melangkahkan kaki nya keluar ruangan.


"Li, aku keluar dulu, tolong bilangin sama pak Lefrant agar tugas meeting nanti aku yang akan wakilkan"


"Baik bu"


Sedan berwarna merah itu melaju membelah kota menuju ke sebuah salon kecantikan ternama di sudut kota.


Linda memilih treatmen untuk seluruh tubuhnya, ia ingin memberikan penampilan maksimal saat meeting nanti, luka yang kini membekas di kulit halusnya baru akan hilang setelah beberapa kali treatmen.


Dan karena waktu yang terbatas, Linda meminta layanan cepat pada pemilik salon.


Karyawan salon pun bekerja dengan maksimal karena Linda adalah salah satu langganan VIP.

__ADS_1


"Nona Linda, apa yang terjadi dengan kulit halusmu, kenapa sekarang begitu banyak bekas luka di sini" ucap pemilik salon yang sudah akrab dengan Linda.


"Ah hanya kecelakaan kecil, aku jatuh di atas pecahan kaca gelas."


Linda menjawab singkat, tak ingin pemilik salon yang ember itu mengetahui kisahnya.


Sang pemilik salon tampak tertegun, jika memang terkena pecahan gelas, kenapa bisa separah ini mengenai kaki dan tangannya, kecuali ia jungkir balik di tumpukan beling, wanita itu membatin.


Lebih dari empat jam Linda menghabiskan waktu untuk perawatan tubuhnya, kini kulit wajah dan badan tampak cerah dan kembali bersinar, Linda tak hentinya tersenyum puas memandang di depan layar kaca mengagumi kulitnya.


Setelah melakukan pembayaran lewat kartu kredit, iapun meluncur ke gedung perusahaan besar tempat meeting akan berlangsung.


Lirikan beberapa anggota meeting saat Linda memasuki ruangan terlihat jelas.


Suasana ruang rapat yang mononton dan beranggotakan kebanyakan pria, maka kehadiran Linda sangat membantu pikiran dan mata mereka yang keruh.


Lumayan ada pemandangan indah di ruangan, batin mereka.


Beberapa kali Linda memandang jam di pergelangan tangannya, namun tak juga datang perwakilan dari Wijaya Corp.


Linda tak mengetahui jika Wijaya Corp, tidak mengirimkan salah satu karyawannya untuk mewakili meeting, karena Rangga sudah meminta hasil rapat untuk di kirimkan lewat email, tentu saja Wijaya Corp mendapat hak istimewa karena Hardy adalah salah satu petinggi di perkumpulan para pengusaha tersebut.


Linda terlihat tak bersemangat mengikuti meeting, tujuan utama adalah dapat bertemu dengan Rangga namun takdir berkata lain, Rangga tidak hadir dalam meeting tersebut.


Satu jam yang amat menyiksa batin Linda, raga terkurung dalam ruangan namun hati dan pikirannya selalu tertuju pada sosok Rangga, Linda sudah di butakan oleh cintanya.


Kereta besinya meluncur ke arah Wijaya Corp.


Anggukan dari petugas front office menyambut kedatangan Linda, mereka yang mengetahui Linda adalah salah satu klien Wijaya Corp tidak terlalu ambil pusing dengan kedatangan wanita sexy itu.


"Apa bapak Rangga ada di ruangannya?"


Linda bertanya dengan sopan.


"Maaf bu, pak Rangga masih belum pulang dari meetingnya, mungkin beberapa menit lagi"


Linda tertegun, di mana pak Rangga melakukan meeting, benaknya di penuhi tanda tanya.


"Baiklah, bolehkan saya menunggunya di ruangan beliau?"


"Saya harus menghubungi pak Rangga dahulu."


Lalu karyawan itu pun memanggil Linda.


"Ehm baiklah bu Linda, pak Rangga memperbolehkan bu Linda untuk menunggu di ruangannya."


Linda tersenyum lebar, bahagia hatinya karena sebentar lagi akan bertemu sang pujaan hati.

__ADS_1


Mendapat informasi dari karyawannya, Rangga pun akhirnya menyudahi obrolannya dengan rekan Hardy yang mendatanginya untuk temu kangen dengan sang mertua yang ternyata tidak berada di Wijaya Corp.


Ceklek.


Rangga tampak tertegun, melihat Linda yang duduk bersandar di sofa tampak memejamkan matanya, nafasnya pun teratur.


Bahkan langkah kakinya pun tak membuatnya terjaga, apakah ia sangat mengantuk, batin Rangga.


Tak ingin menganggu istirahat wanita itu, Rangga kembali untuk melangkah keluar ruangan, namun langkahnya terhenti saat Linda menggeliatkan tubuhnya.


Glek.


Liukan tubuhnya yang membuat benda menonjol di dadanya tampak terpampang semakin nyata, Rangga segera memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Ehm hmm"


"Ah p pak Rangga, maaf jika kelancangan saya membuat pak Rangga kesal" ucapan Linda yang di buat lembut mendayu terdengar emak di telinga.


"Ah tidak apa-apa bu."


Linda memperbaiki posisi duduknya, pandangannya tak lepas ke arah Rangga.


"Bu Linda apa kabar? Pak Lefrant bilang jika bu Linda sedang sakit, bagaimana keadaan ibu sekarang?"


"Ahh hanya sakit ringan pak Rangga, terima kasih atas perhatian pak Rangga pada saya."


"Bu Linda mau minum apa, akan saya suruh bagian pantry untuk membuatkan minum untuk anda"


"Tidak usah pak Rangga, saya hanya ingin menanyakan hasil meeting tadi siang, karena saya masih terlalu pusing hingga saya tidak fokus dengan pembahasan meeting tersebut."


"Ohh, baik bu akan saya ambilkan, tapi tolong tunggu sebentar, akan saya copy kan dulu data nya"


"Baik pak" Linda tersenyum smirk.


Berada di ruangan berdua dengan Rangga adalah tujuannya, tentu saja ia menyetujui tanpa pikir panjang.


Tok tok tok.


"Masuk"


Satpam menunduk hormat.


"Maaf pak, ada orang dari Testafood mengirimkan makanan dan minta ijin di persilahkan masuk."


Rangga menatap Linda penuh tanda tanya.


"Maaf pak, saya tadi belum makan siang dan saya menyuruh karyawan saya untuk mengantarkan makanan ke tempat saya sekaramg berada, maaf kalau menggganggu bapak, masa akan permisi dulu untuk memakan makan siang saya yang terlambat" terang Linda dengan wajah melas juga penuh dramatisir.

__ADS_1


"Ah tidak apa-apa bu, silahkan anda memakan makan siang anda di ruangan ini."


Linda tersenyum puas, karena rencananya semakin mencapai titik terang.


__ADS_2