Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Jangan Acuhkan Aku


__ADS_3

Semakin mendekati hari H membuat Rangga begitu gelisah, hatinya di liputi keraguan apakah Shanum akan bahagia hidup menjadi istrinya, bisakah ia melindungi wanita yang akan menjadi pendampingnya hingga maut memisahkan, dapatkah Rangga memberi kebahagiaan yang selama ini Shanum impikan.


Rangga masih merasa ragu, Shanum yang sudah terlahir dengan hidup bergelimang harta, sedangkan dirinya hanyalan anak seorang single parent dimana sang ayah telah meninggal sejak Rangga berusia tiga tahun, sedangkan yang adik masih bayi kala itu.


Meski kini di ketahui bahwa sang ayah memiliki saham di Wijaya Corp yang tentu saja sudah menjadi haknya, namun Rangga merasa belum pantas jika harus memimpin salah satu cabang Wijaya Corp seperti yang Hardy inginkan.


Beberapa hari yang lalu Hardy memintanya secara pribadi untuk mau membantunya memimpin salah satu cabang perusahaannya yang terletak di kota x, menggantikan posisi salah satu kepala Divisi yang akan resign.


Dan Hardypun bersikeras agar Rangga tidak menolak keinginannya, untuk mempersiapkan diri Rangga meminta waktu agar mulai memimpin setelah pernikahannya dengan Shanum di laksanakan, dan Hardy pun menyetujuinya.


Kini ada dua amanat besar yang harus Rangga pikul.


Pernikahan akan di lakukan tiga hari lagi, dan sesuai kesepakatan, prosesi akad nikah hanya akan di hadiri keluarga inti dan sahabat dekat dari kedua mempelai, sengaja pernikahan di lakukan sehari sebelum meeting tahunan di laksanakan.


Jika mengikuti aturan nenek moyang, tentu Rangga dan Shanum harus menjalani masa pingitan sampai hari H.


Namun karena tugas pekerjaan yang harus tetap jalan dan segera di selesaikan, memaksa mereka untuk tetap beraktifitas seperti biasa, namun baik Rangga maupun Shanum tetap berusaha sebisa mungkin untuk menahan diri agar tidak saling bertemu sampai hari pernikahan.


Jangankan menahan diri untuk tidak bertemu, baru beberapa jam saja sudah begitu menyiksa Rangga, untuk mengalihkan perhatiannya pada wajah Shanum yang selalu bermain dalam memorimya, Rangga berusaha menyibukan diri dengan pekerjaan.


Saking cepatnya ia bekerja hingga tak terasa semua tugasnya telah selesai, Rangga menoleh ke arah Danu yang terlihat sedikit keteter karena harus mengecek beberapa komputer karyawan yang sedang bermasalah.


"Ada yang bisa gue bantu Nu?"tanya Rangga pada teman satu Divisinya itu.


Danu memandang jengah ke arahnya, tak biasanya pria dingin itu kini berubah hangat dan menawarkan bantuan tanpa di mintanya.


"Tumben lu nawarin bantuan, habis ketemu malaikat Raqib yah, dan di tanyain ternyata pahala lu cuma seuprit "cibir Danu yang tak percaya pada tawaran Rangga.


"Hmm ya sudah kalau nggak perlu bantuanku"ujar Rangga lalu melangkah menuju pantry.


"Eh, beneran nih mau bantu gue Ngga?" tanya Danu penuh selidik.


"Hmm, semua tugasku kelar, hanya siang nanti harus menyerahkan revisi minggu kemarin ke ruang CEO"nada bicara Rangga terdengar sungguh-sungguh.


"Kalau begitu, aku minta tolong lu periksa komputer bagian personalia, tadi pagi ada salah satu server yang error"


"Okay"Rangga menjawab singkat dan langsung menuju ruang personalia dengan semangat.

__ADS_1


Deg


Tiba-tiba Rangga tersentak dan sadar jika ternyata bantuan yang ia tawarkan kini menjadi bumerang yang akhirnya berbalik menyerangnya sendiri.


Niat ingin membantu temannya namun baru sadar bahwa ruang personalia adalah ruang di mana Monik berada.


"Shitt"umpat Rangga kesal, namun ia juga tak dapat menjilat ludah sendiri.


Jika ia masuk ke ruangan itu, sudah tentu ia akan bertemu dengan Monik, sebenarnya personalia adalah salah satu ruangan yang sangat Rangga hindari untuk memasukinya, apalagi setelah kejadian di mana Shanum mendapatinya tengah berada dalam pelukan erat gadis sexy itu.


Masih lekat di ingatanya, tatapan tajam netra bening Shanum saat memandangnya, belum sempat Rangga menjelaskan kejadian yang sebenarnya, kini Rangga malah terpaksa harus bertemu muka kembali dengan Monik.


Tok tok


Rangga memasuki ruangan dengan perlahan.


Pandangannya menyisir seluruh ruangan mencari letak meja di mana komputer yang sedang bermasalah.


Jika di lihat dari baris meja nomor komputer, kalau tidak salah letak meja itu bersebelahan dengan meja Monik, pikir Rangga, pandangannya tertuju pada meja Monik yang ternyata kosong.


Untuk kali ini aman, pikir Rangga dengan senyum senang, namun dadanya mendadak terasa tidak nyaman saat melihat layar komputer Monik, wajah tampan dengan hidung mancung, rahang tegas dan bibir bergelombang, Ganteng juga gue, batin Rangga dengan senyum bangga.


Tangannya tak sadar menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dengan gerakan cepat Rangga menggelengkan kepalanya, ia harus fokus saat ini.


Beberapa saat akhirnya selesai sudah tugas Rangga, komputer telah dapat beroperasi lagi seperti biasa.


Rangga mengangguk lalu melangkah pergi setelah mendapat ucapan terima kasih dari karyawan yang sedari tadi menatapnya dengan senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


Hari ini waktu terasa begitu lambat berjalan bagi Rangga.


Meski saat ini ia berusaha menjalankan aturan agar tidak saling bertemu tatap dengan calon istrinya, namun hati kecil Rangga tak dapat berbohong, rindu begitu menyiksanya.


Siang tadi saat menyerahkan hasil revisi yang telah di selesaikan, Rangga berharap dapat berjumpa dengan Shanum, meski akhirnya harus menelan pil kecewa karena ruangan CEO tampak kosong.


Apa yang hendak Shanum katakan pagi tadi saat memintanya bertemu, pertanyaan yang mengganggu Rangga sepanjang hari ini.

__ADS_1


Pesannya pun hanya di baca oleh Shanum tanpa ada balasan sama sekali.


Meski tahu jika Shanum tak akan sepicik itu menganggap Rangga telah berhianat, tapi Rangga pun akan merasa tak senang jika melihat orang yang di cintainya berdekatan dengan orang lain apalagi posisi Rangga yang saat itu tengah berada dalam genggaman tangan Monik.


Sementar di tempat lain,Shanum masih memeriksa data yang Harun serahkan dari divisi Produksi.


Meski matanya tertuju pada map yang berisi data-data hasil produksi namum pikiran Shanum melanglang buana dan kini bayangan kembali berkelebat di dalam otaknya, perempuan cantik tengah memegang bahu Rangga dengan erat, hati dan perasaan Shanum tak bisa di bohongi, entah kenapa saat Devon menghianatinya dan lebih memilih dokter Vina, rasanya tak sesakit ini, batin Shanum, yang kini terasa sesak dadanya.


Shanum tak ingin memikirkannya karena ia percaya hati Rangga, namun ibarat seekor kucing, tidak akan menolak jika di sodorkan ikan lezat di hadapannya.


Shanum tersenyum masam, apakah Rangga tega menghianatinya,dan bermain hati dengan wanita lain, Shanum tak ingin kejadian yang menyakitkan itu terulang lagi, jika memang Rangga tak sepenuh hati mencintainya maka harus di akhiri saat ini juga, pikir Shanum.


Dengan cepat Shanum membereskan lembaran data yang belum di selesaikannya.


"Pak, tolong bawa berkas ini ke ruanganku, aku akan keluar dulu sebentar"Shanum melangkah cepat bahkan Harun masih belum tersadar jika CEO nya telah meninggalkannya pergi setelah memberinya tugas.


Harun hanya menghela nafas menatap kepergian Nona Muda nya.


Tak biasanya Non Shanum bertingkah gusar seperti ini, batin Harun.


*


*


Merasa sudah tak dapat lagi menahan rindu yang seakan membuat jantungnya akan meledak, Rangga melangkah menuju ruang CEO, selain rasa rindu yang menusuk hatinya , tatapan Shanum yang tak sengaja melihatnya berada dalam genggaman Monik, membuat Rangga begitu cemas.


Tatapan Shanum tampak kosong memandang mobil yang terparkir berderet dan terlihat kecil dari kaca ruang kerjanya, pikirannya tak bisa fokus karena bayangan kejadian seorang wanita memeluk Rangga masih jelas membekas di ingatannya.


Tok tok tok


"Masuk"Shanum berucap dingin saat ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Taruh berkas di mejaku pak"sambungnya lagi tanpa megalihkan pandangannya dari kaca.


Hening tak lagi terdengar suara.


Kenapa asisten Harun belum juga keluar dari ruangan ini, batin Shanum yang belum mendengar langkah kaki keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Tolong taruh..."kalimat Shanum tak pernah selesai karena sebuah tangan kekar tiba-tiba merengkuhnya dan menarik ke dalam pelukannya.


"Sha, maafkan aku tolong jangan diamkan aku seperti ini" nada suara yang tampak bergetar, Shanum hanya terdiam menikmati aroma wangi khas lelaki yang kini terasa candu dan membuatnya begitu nyaman.


__ADS_2