
Beberapa kali Rangga melihat layar ponsel dan menaruhnya kembali, melihat nomor tak di kenal memanggilnya tentu saja Rangga acuhkan.
"Sayang kenapa tak kau angkat panggilan itu" tanya Shanum.
Tak biasanya Rangga mengacuhkan suatu panggilan.
"Entahlah, aku tak tahu nomor itu."
Rangga kembali meneruskan pijitan di kaki sang istri, sambil membayangkan gaya apa yang akan di gunakan nanti dengan Shanum.
Pijatan di telapak kaki Shanum tentu saja menimbulkan gelenyar di dadanya timbul.
Betis yang putih berisi yang terlihat jelas karena baju tidur yng di kenakan bermodel sebatas lutus dengan berhiaskan renda di ujungnya.
Menikmati waktu berdua dengan Shanum adalah waktu terbaik baginya.
Kesibukannya di kantor sungguh menguras tenaga dan otaknya, bahkan suasana hati yang terkadang berubah cepat.
Mengingat sosok Linda yang mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi membuat Rangga merasakan hari terburuknya di kantor.
Di tutupnya tubuh Shanum dengan selimut, lalu di ambilnya ponsel yang berada di atas meja.
Asisten meng informasikan bahwa perusahaan Testafood memenuhi kriteria untuk di jadikan salah satu mitra kerja baru.
Perolehan laba dan cara kerja Testafood cukup dapat di perhitungkan, meski merupakan suatu perusahaan baru, namun mereka sudah berkembang dengan pesat.
Hati kecil Rangga sebenarnya sungguh tak ingin lagi memiliki hubungan kerja dalam model apapun dengan mereka.
Berada dekat dengan perempuan aneh itu sangat menyiksa batin Rangga.
Namun ia pun tak mungkin menolak kerja sama yang akan menguntungkan berbagai pihak baik untuk Testafood maupun untuk seluruh karyawan Wijaya Corp.
Hardy pun sudah memberi pesan agar semua ajuan dari perusahaan lain jika menghasilkan keuntungan besar untuk Wijaya maka harus di terima.
"Apa kau yakin tak ada kesalahan data mereka Vid, apa betul jika bekerja sama dengan pihak mereka maka keuntungan yang kita dapat berkali-kali lipat?"
"Sepertinya begitu pak, semua data lapangan dari Testafood sejak mulai berdiri sudah saya periksa dan memang patut kita acungi jempol pak."
Glek.
Rangga tak dapat berkata lagi, tak ada lagi alasan untuk menolak kerja sama dengan Testafood.
Dengan terpaksa Rangga harus siap untuk sering bertemu dengan CEO perusahaan tersebut.
"Bagaimana pak?" tanya David di ujung telefon.
__ADS_1
"Baiklah, kita memang harus menyetujui kerja sama mereka." Rangga lalu menutup panggilan dari David.
Di rebahkan tubuhnya di samping Sang istri yang sudah terlelap.
Membayangkan esok hari harus melihat wanita pemilik balon itu lagi, hasrat Rangga yang tadi menggebu tiba-tiba menghilang.
Dengan tak bersemangat Rangga berangkat ke kantor, kali ini ia sengaja membawa motor kesayangannya, sudah lama motor itu terparkir di garasi mansion.
Setelah membutuhkan waktu cukup lama untuk memanaskan mesin akhirnya senyum Rangga terbit setelah bunyi mesin motor mulai nyala.
Dengan jaket dan helm fullface ia berangkat, setelah terlebih dahulu harus berdebat dengan sang istri yang tak mengijinkannya mengendarai sepeda motor ke perusahaan.
Menghindari kemacetan adalah salah satu alasan yang logis yang di pakai Rangga.
Meski tujuan utama adalah untuk menghindari Linda.
Tatapan para karyawan tak di gubris Rangga, ia memasuki kantor dengan tenang, untuk urusan dengan pihak Testafood ia akan menyuruh David yang mengurusnya dan jika Linda masih ingin nebeng pulang bareng makan sudah pasti wanita itu akan berfikir seribu kali jika harus membonceng sepeda motor.
"Pagi pak?" sapa David.
Rangga mengangguk dan senyum smirk pada asistennya itu
Kali ini kau tak akan bisa memperdayaku Vid.
Senyumnya sungguh aneh, pikir David.
Mungkin hari ini akan menjadi hari yang panjang dan amat melelahkan, pikir David.
Karena beberapa saat yang lalu bagian personalia sudah memberi informasi bahwa pagi ini pihak Testafood akan mengirimkan sample makanan produk mereka.
Jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan, David sudah mulai resah dan gelisah, bukan karena sedang menunggu kedatangan sang kekasih, melainkan wanita yang meresahkan.
Dan benar saja ponselnya bergetar, pesan dari personalia membuat ia harus segera bergegas untuk menyambut salah satu klien baru Wijaya Corp.
Rangga yang sudah lepas tangan dan menyerahkan urusan pada asistennya jika berhubungan dengan Testafood masih santai di ruangannya mengerjakan berkas lapangan.
Rupanya Testafood ingin menunjukan ke unggulanya dengan produk makanan olahan yang di hasilkan.
Satu mobil box berhenti di area parkir Wijaya Corp.
Linda yang lebih dahulu datang dengan sedan berwarna merah terang, sudah berdiri menunggu dengan senyum penuh percaya diri.
Pihak Wijaya yang sudah menyiapkan tempat di ruang meeting untuk tempat mereka menjamu makanan segera membuka pintu penuh untuk iring-iringan troli berisi aneka hidangan makanan olahan hasil produk Testafood.
Hidangan di tata berjejer memenuhi meja ruang meeting, beberapa karyawan Testafood di tugaskan untuk menata hidangan seindah dan semenarik mungkin.
__ADS_1
Linda tersenyum puas melihat hasil kinerja para karyawannya.
David merasa cukup kagum dengan cara mereka, gesit dan terampil.
Bahkan dengan waktu singkat, makanan satu mobil kini sudah berpindah seluruhnya ke meja ruang meeting dan tertata dengan apik.
Sebagai orang yang di tugaskan secara penuh David tak ingin lagi kecolongan,ia harus memastikan bosnya berada di radius aman dari Linda.
Para kepala bagian Divisi menjadi orang-orang pertama yang berkesempatan untuk mencicipi hidangan dari Testafood.
Decakan kagum saat mereka merasakan kelezatan dari produk olahan Testafood.
Resep yang di pakai Testafood sangat pas di aplikasikan pada bahan hasil olahan berbahan ikan laut.
Linda tersenyum senang, hasil masakannya membuat para petinggi Wijaya Corp menyanjungnya terus mengangguk dengan puas.
David pun tampak mengunyah makannya dengan perlahan, rasa racikan bumbu yang pas dan sesuai dengan cara memasaknya sungguh memanjakan lidah David.
Tak sadar beberapa kali ia kembali mengisi piringnya dengan hidangan yang begitu menggugah selera lalu kembali memakannya.
Tok tok tok.
Rangga yang mengira itu adalah David pun menyuruh asistennya untuk masuk.
"Ya masuk Vid" titah Rangga singkat sambil melihat jam tangannya yang menunjukan sudah saatnya istirahat siang.
"Selamat siang pak Rangga, saya bawa makanan istimewa buat bapak."
Glekk.
Jantung Rangga laksana copot saat mendengar suara lembut seorang wanita yang beberapa hari ini begitu di hindarinya.
"Bu Linda.."
Wanita berbibir merah menyala itu melangkah penuh percaya diri memasuki ruangan.
CEO perusahaan besar yang sudah menarik perhatian Linda sejak pertama kali ia bertemu.
Langkahnya pasti dengan nampan berisi makanan pilihan yang di siapkannya khusus untuk Rangga.
Linda adalah wanita yang sangat ambisius, tak heran jika perusahaannya maju pesat dengan waktu singkat.
Ia ingin menjadi wanita luar biasa yang bercita-cita menaklukan semua perusahaan di ibukota ini.
Ia tak ingin lagi hidup dalam kemiskinan, hidup yang di jalaninya sejak kecil penuh darah dan air mata.
__ADS_1