Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Restu


__ADS_3

Pagi hari Rangga berangkat dengan hati riang dan penuh semangat, setelah ganti oli tentu saja mood berubah menjadi sangat baik.


Sapaan para karyawan pun ia balas dengan senyum hangat dan ceria.


"Pagi Vid, udah sembuh wajah Lu?" sapa Rangga, ternyata sang asisten sudah lebih dulu datang.


"Ehm sudah bos, lumayan meski masih samar" David sengaja berangkat lebih awal agar tak berpapasan dengan karyawan lain karena wajahnya masih sedikit membekas warna ungu ke hitam-hitam an di rahangnya.


Rangga hanya menggeleng kepalanya, perjuangan David untuk mendapatkan restu calon Kakak ipar ternyata sangat berat, belum lagi restu dari kedua orang tuanya belum ia dapatkan.


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apa kau tetap tak memberitahu mereka tentang pernikahanmu itu?"


"Mungkin aku hanya ingin memberi kabar saja bos, untuk mengharap kehadiran mereka, rasanya sangat mustahil" David berucap lirih.


"Sudahlah, tak usah kau pikirkan terlalu dalam, sekarang kau hanya perlu mempersiapkan semua dokumen pernikahan kalian."Rangga mencoba mengalihkan kesedihan David.


David pun mengangguk.


"Bos, ehm maaf mungkin nanti siang saya mau ijin keluar, untuk mengurusi dokumen persyaratan berkas ke KUA."


Rangga mengangguk pasti.


"Tentu, kau urus lah sampai tuntas, semua pekerjaan biar gue yang handle."


David mengangguk hormat, sungguh dirinya merasa begitu beruntung, dapat bekerja dengan seorang atasan yang sungguh baik hati dan sangat memperhatikan bawahannya.


Mungkin karena kebaikannya lah yang membuat Nona Muda Shanum menjatuhkan pilihan padanya, batin David.


David membuka ponselnya saat notifikasi pesan dari Linda muncul.


Dan senyumnya mengembang, siang ini Linda memintanya datang ke mansion.


David merasa sedikit tenang jika tak ada Lefrant, bukan karena takut, tapi ia lihat masih ada ganjalan rasa kesal di hati calon kakak iparnya itu.


Segera David menyelesaikan seluruh tugasnya agar setelah iastirahat nanti ia bisa ijin pulang.


Rona wajah gelisah David terlihat jelas oleh Rangga, beberapa kali ia melihat jam ke pergelangan tangannya.


"Apa Lu ada janji Vid?" tanya Rangga akhirnya.


David menatap Rangga sedikit ragu.


"Rencananya siang ini saya mau ke mansion bu Linda, untuk membicarakan rencana pernikahan kami bos."


"Apa sampai sekarang kau masih memanggil calon istrimu dengan sebutan 'ibu'?"


David mengangguk pelan.

__ADS_1


"Haiisstt lu bener-bener ya Vid" hardik Rangga.


Sungguh di jaman sekarang ini masih ada pemuda polos seperti David, bahkan setelah beberapa tahun hidup di negara yang bebas, pun ia masih tampak polos dan lugu.


Sementara itu Linda tampak tersenyum senang, setelah mengobrol dengan bu Shanum sedikit membuat hatinya merasa tenang, dia tak lagi merasa sendiri.


Di tengah kebingungannya untuk mempersiapkan acara pernikahan, bu Shanum dengan jelas memberitahu tentang syarat data apa saja yang di butuhkan untuk di berikan pada Kantor Urusan Agama nanti.


Karena hanya di adakan acara ijab kabul jadi hanya beberapa orang inti saja yang akan hadir, dan acaranya pun di selenggarakan di mansion dengan tertutup.


Entah kenapa perasaan Linda berdebar, saat terdengar deru suara mobil memasuki gerbang mansion, Lefrant tentu baru sore akan pulang jadi kemungkinan besar itu adalah mobil David, pikir Linda.


Wanita itu bergegas melangkah ke depan cermin, ia poleskan bedak tipis ke wajahnya dan perona bibir merah ia aplikasikan ke bibirnya.


Ah kenapa aku harus berdandan?, batin Linda.


Apakah kini hatinya sudah mulai menerima David?


Tak tok tak.


"Maaf Bu, ada Tuan David datang ingin bertemu dengan ibu" ucap satpam hormat.


"Ya, suruh dia masuk" perintah Linda.


Beberapa menit kemudian pria bertubuh tinggi tegap dengan rambut hitam bergelombang memasuki mansion.


Glek.


Linda menelan salivanya, dadanya kian berdebar kencang, rasa yang belum pernah ia alami bahkan saat bertemu dengan pacar-pacarnya terdahulu.


"Selamat siang, apa aku mengganggu?" sapa David masih terdengar kaku.


David termasuk lelaki yang sangat jarang bergaul dengan wanita, bahkan hingga di usianya yang sudah tergolong dewasa pun tak pernah David memiliki hubungan dekat dengan wanita mana pun.


"S siang" ucap Linda, pun tampak gugup.


David berusaha bersikap setenang mungkin, ia harus bisa menguasai kegugupannya di hadapan wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


"Glek glek glek."


Linda tersenyum tipis saat David terlihat begitu haus dan menghabiskan se gelas minuman hingga habis tak tersisa.


"Maaf, haus he he" ucap David polos.


"Bagaimana, apa Bu Shanum sudah memberi tahu data apa saja yang harus di serahkan ke petugas KUA?" tanya David.


Linda mengangguk dan menyerahkan selembar kertas berisi catatan apa saja berkas yang harus di kumpulkan.

__ADS_1


David dengan cermat memeriksanya dan kepalanya manggut-manggut.


Semua data dirinya sudah lengkap, tinggal menyerahkan ke kantor KUA besok.


Begitupun Linda, ia pun bahkan sudah menyiapkan semua berkas itu.


David tersenyum senang, semakin cepat semakin baik, pikirnya.


Sekarang yang harus di pikirkan adalah bagaimana ia harus memberitahukan pada kedua orang tuanya yang sedang berada di luar negri.


David menahan telunjuknya di depan mulutnya agar Linda diam.


Mama Sarah yang pertama akan ia hubungi.


"Halo sayang, bagaimana kabarmu nak?" sapa satu suara halus dari sebrang.


Glek, Linda menelan ludah kasar, suaranya begitu lembut dan hangat, pasti orangnya cantik, batinnya.


"Baik Mah, Mamah apa kabar?" tanya balik David.


"Baik sayang, sedang apa kau saat ini, apa kau tidak sedang di kantor."


"Tidak Mah, aku sedang ijin saat ini aku sedang berada di mansion calon istriku Mah."


"Kau ijin kenapa sayang, dan kena...hah apa tadi katamu"?" tanya Sarah yang rasa terkejutnya delay beberapa detik.


"S sebenarnya aku menghubungi Mamah karena mau minta restu sama Mamah, aku mau menikah Mah."


Sarah mengusap dadanya pelan, berita yang amat tiba-tiba dan sangat mengejutkan, sudah sejak lama ia ingin melihat putranya mengenalkan kekasihnya namun ternyata bukan hanya kekasih, ia bahkan sudah minta ijin padanya untuk menikah.


"Kapan kau akan melangsungkan pernikahanmu nak?"tanya Sarah.


"Apa Mamah menyetujui pernikahanku Mah?" David tak dapat menyembunyikan rasa gembiranya.


"Tentu saja Mamah menyetujui apa keputusanmu nak" ucap Sarah lembut, meski ia selalu sibuk dengan dunianya namun ia hanya memiliki putra satu-satunya dan kebahagiaannya lah yang utama.


Jika memang saatnya ia akan memulai hidup baru dengan wanita pilihannya maka Sarah pun akan mendukungnya, meski ia belum mengenal seperti apa wanita pilihan sang putra.


David memandang Linda dengan rasa haru, restu dari sang Mamah sudah ia dapatkan, hanya tinggal satu orang lagi yang akan di mintai restunya.


Papah Stevan, pria yang begitu keras pada pendiriannya dan terkenal dengan sikap tegas dalam menangani suatu masalah.


Dan satu lagi, Papah Steven adalah salah satu pria paling perfeksionis.


Bagaimana jika ternyata putranya menikah karena ONS yang ternyata membuahkan hasil.


David menghela nafas berat, jika Papah Stevan mengetahui putranya sudah merusak anak gadis orang, pastilah ia akan murka.

__ADS_1


__ADS_2