
Hana tersenyum melihat putra sulungnya yang masih dengan wajah terpesona memandang Shanum tak berkedip .
"Ayo Ngga ,kita makan lihatlah neng Shanum sudah merasa lapar "ajak Hana membuat Rangga tergagap karena kaget .
"Oh i iya bu ,aku akan memanggil Ardi dulu "
"Tak perlu ,aku sudah di sini "Ardi yang telah berada di ruang makan itu pun menyahut ketus karena keberadaanya tak terlihat oleh kakaknya karena ia sibuk melihat bidadarinya.
"Oh kau darimana Ngga?"sapa Shanum .
"Aku dari kebun Sha ,metik buah nanas"Rangga menjawab singkat karena masih berusaha menormalkan degub jantungnya .
"Kenapa cuma metik buah nanas Ngga,kan buah bengkoang pun sudah waktunya di petik "ucap Hana.
"Nggak apa-apa bu biar nanti aku yang metik "Shanum menjawab cepat dengan wajah ceria karena membayangkan buah bengkoang yang putih dan segar .
Rangga hanya menatap wajah polos Shanum ,membayangkan CEO nya belepotan tanah karena menggali buah bengkoang sungguh tak ada dalam khayalannya.
Hana merasa puas melihat Shanum begitu lahap menyantap hasil masakannya .
__ADS_1
Jika biasanya para gadis menjaga makanannya namun berbeda dengan gadis itu yang menyantap jengkol dengan bebas tanpa terganggu dengan aroma yang nantinya akan mengganggunya .
"Wahh sungguh lezat masakan ibu,perutku kini seperti ibu hamil karena penuh rendang jengkol "Shanum berkata dengan nada puas ,tak sia-sia ia menempuh perjalanan jauh hanya untuk menikmati rendang jengkol .
"Apa neng Shanum tidak merasa terganggu dengan aroma jengkol ini ?"Hana beetanya heran melihat Shanum begitu menyukai jengkol .
"Ehhm sama sekali tidak bu ,aku sunggu bahagia saat ini bisa kembali menikmati rendang jengkol ini "Shanum pun menceritakan jika di rumahnya sang papah melarang para pelayan untuk memasak jengkol karena aromanya sangat tidak di sukainya .
Kini Shanum bisa dengan leluasa menikmati nya tanpa rasa takut jika ayahnya akan murka karena mencium aroma musuhnya.
"Kalau begitu neng Shanum bisa datang kapan saja ke sini pasti akan ibu masakin rendang jengkolnya"janji Hana pasti .
"Terima kasih bu "ucap Shanum haru .
Rangga dan Ardi membereskan meja sementara Hana mengajak Shanum ke teras untuk menikmati buah nanas hasil petikan Rangga.
"Sungguh nyaman tinggal di desa seperti ini begitu damai "Shanum berucap pelan memandang bebukitan di hadapan rumah Rangga .
"Rangga kau mau kemana ?"tanya Shanum saat melihat pemuda itu membawa jinjingan bambu dan melangkah ke arah kebun .
__ADS_1
"Rangga tunggu aku ?"Shanum melangkah ke dalam rumah ,namun langkahnya terhenti saat melihat Ardi sedang mencuci piring bekas makan mereka .
Shanum pun mendekati pemuda itu.
"Jangan mba ,biarkan aku yang akan menyelesaikan semua"teriak Ardy saat melihat Shanum hendak membantunya mencuci piring .
"Kenapa Ar ,kan kita yang habis makan bersama jadi aku juga punya kewajiban untuk membersihkan piring dan gelas yang kotor"Shanum membela diri .
"Ku mohon demi tetap bersatunya jiwa dan ragaku mba ,jangan kau lakukan ,kak Rangga sudah mewanti-wanti agar jangan membiarkan mba Shanum mencuci piring "jawab Ardi dengan wajah memohon .
Shanum pun hanya terdiam dengan wajah polosnya.
"Sha ,kenapa begitu lama?"Rangga ternyata kembali ke rumah setelah menunggu Shanum tak juga menyusulnya .
"Ngga kenapa kau melarangku mencuci piring-piring itu "Shanum berkata protes .
Rangga menoleh ke arah Ardi yang masih menyelesaikan mencuci beberapa piring.
"Bukan melarang Sha ,kita kan harus segera memetik bengkoang sebelum hari semakin sore dan gelap"ucap Rangga bijak ,bagaimana mungkin ia membiarkan CEO nya mencuci piring bisa-bisa tuan Hardy turun gunung dan mengamuk .
__ADS_1