
Ruangan privat yang tak terlalu luas namun tampak rapih dan nyaman membuat Shanum tak merasa gerah lagi, di taruhnya syal di sandaran sofa.
Namun sontak matanya membulat sempurna saat tatapannya tertuju pada sosok yang datang dan membuka pintu ruangan.
"Tante."
Shanum tertegun, jadi butik mewah itu adalah milik desainer terkenal yang bernama Maharani, yang tak lain adalah ibu dari Joy, batin Shanum takjub.
Maharani tersenyum dan mengulurkan tangan ke Shanum.
"Jadi butik ini milik tante?"
Maharani mengangguk ringan.
Shanum mengangguk dengan wajah takjub.
"Sebelumnya aku mau minta maaf sama tante" ucap Shanum setelah kembali duduk tenang, lalu menjelaskan maksudnya.
Maharani tersenyum mendengar alasan kedatangan Shanum ke butiknya, rasa kagumnya pada wanita cantik di depannya terlihat jelas dari mata wanita oaruh baya itu.
Wanita cantik dan kaya namun mandiri, tak jarang ia temui, jika rata-rata seorang gadis dari kalangan atas memiliki sifat manja dan selalu hidup hura-hura, namun berbeda dengan Shanum, batin Maharani.
Meski terlahir dari keluarga kaya raya namun gaya hidupnya tidak mencolok dengan memamerkan harta miliknya.
Maharani menatap Shanum hangat, ingatannya menerawang nun jauh ke negri sebrang, di mana sang putra kesayangan kini tinggal.
Sedang apa kau saat ini nak, lihatlah di sebelah mommy ini, dia lah wanita separuh nafasmu, dia sekarang sudah bahagia, relakan dia nak, dan pulanglah kembali bersama mommy.
"Tante memang sengaja memberi hadiah padamu, maaf tante tak sempat mengatakannya langsung kemarin, karena kau langsung meninggalkan butik dengan tergesa." terang Maharani.
Shanum memandang Maharani tak percaya, gaun indah dan mahal di berikan untuknya gratis, batin nya tak percaya.
"Tapi tante, aku tak bisa menerimanya, ini terlalu mahal dan indah tante" tolak Shanum halus.
Maharani tersenyum gemas, memang tak dapat membohongi wanita cerdas di hadapannya.
Hanya dengan sekilas sudah paham kualitas gaun miliknya.
Sengaja Maharani memilih gaun terbaik kebanggaannya untuk di berikan pada Shanum.
"Kau membeli banyak baju di butik ini, dan sebagai tanda terima kasih, kami selalu memberikan satu potong baju dengan cuma-cuma pada pelanggan istimewa kami" elak Maharani.
Shanum memandang tak percaya pada wanita cantik di hadapannya.
"Tapi untuk sebuah hadiah rasanya ini terlalu bagus tan, lebih baik kau tukar dengan yang lain yang harganya tak terlalu mahal" ucapan polos Shanum membuat Maharani tertawa lepas.
Jika perempuan lain pasti akan bahagia mendapat hadiah mahal dan tanpa pikir panjang untuk menerimanya, tapi Shanum sungguh perempuan yang unik, mungkin hal itulah yang membuat putranya begitu mencintainya.
"Kami tentu sudah mempertimbangakan hadiah yang akan kami kasih pada para pelanggan kami" terang Maharani kekeuh.
"Kalau begitu, terima kasih tante atas pemberiannya" ucap Shanum.
__ADS_1
Maharani mengangguk pelan.
Tak ingin membuat suaminya cemas karena menghabiskan waktu lama di mall membuat Shanum harus segera pulang.
"Ehm tante, aku harus segera pulang" ucapnya dengan lembut.
"Oh apa kau ada janji lain yang mendesak Nyonya Shanum?"
Shanum terkejut mendengar panggilan yang di sematkan desainer terkenal itu padanya.
"Ah jangan, jangan panggil aku seperti itu tante, pangggil aja aku Shanum, aku akan senang mendengarnya"
"Ah tidak tidak, mana boleh aku memanggilmu seperti itu sungguh tak sopan."
Maharani berucap gugup, meski wanita di hadapannya pantas menjadi anaknya tapi jabatan besar yang di milikinya membuat Maharani tak bisa menganggapnya seperti perempuan biasa lainnya.
"Tan, kalau tante menolak permintaanku maka akupun terpaksa mengembalikan gaun ini."
Kalimat tegas yang Shanum ucapkan membuat Maharani tak berkutik.
"B baiklah ehm, boleh aku meminta untuk berfoto berdua denganmu Sha?" tanya Maharani ragu.
Kedua mata Shanum membulat bahagia, senyumnya terbit dan kepalanya mengangguk pasti.
Maharani dengan penuh semangat mengambil gawai miliknya dan mengarahkan ponselnya ke arah wajahnya yang kini mendekat ke arah Shanum untuk berswa foto.
Entah berapa kali ia memencet tombol kameranya dengan berbagai gaya.
Setelah puas menikmati kebersamaan dengan wanita idaman putranya, Maharani pun akhirnya melepas kepergian Shanum dengan senyum bahagia, setidaknya foto itu akan ia kirim pada Joy agar putranya tahu bahwa seorang gadis pemilik cinta pertamanya kini sudah hidup bahagia.
Shanum dengan wajah berseri melangkah ke luar dari mall.
Tak terbayang dalam benaknya jika gaun indah yang ia pikir adalah milik orang lain kini ternyata menjadi miliknya.
Sejak pertama kali ia melihat gaun karya desainer terkenal itu dirinya sudah jatuh hati.
Sang supir yang melihat ke arah kaca spion pun tampak bingung, wajah sang Nyonya muda terlihat lebih ceria dari saat berangkat tadi, pikirnya.
Sesampainya di mansion Shanum segera membersihkan tubuhnya, ingin segera mencoba gaun indah itu.
Di cermin senyumnya terbit saat ia mencoba gaun yang di berikan Maharani.
Dengan penuh percaya diri ia mematutkan dirinya hadapan cermin.
Sungguh nyaman di badan, pikirnya, langkahnya ia ayunkan menuju lantai bawah.
Sang bibi yang berada di dapur mansion pun tertegun, matanya takjub memandang ke Nyonya muda mereka yang sedang berlenggak memutarkan tubuhnya.
"Bi bagaimana gaun ini apa cocok di tubuhku?" tanya Shanum ke arah sang bibi.
Bibi tersenyum dan tak sadar tangannya bertepuk kecil dengan kaki berjingkat riang.
__ADS_1
"Cocok sangat cocok.." ujarnya dengan mata kagum.
"Benarkah bi?"
"Iya benar"
"Benar"
Keduanya menoleh ke arah asal suara tersebut.
Rangga menatap sang istri yang sedang mematutkan diri dengan gaun pemberian Maharani.
"Sayang kau sudah pulang?"
Rangga mengangguk dan meraih tubuh sang istri lalu mengecup keningnya lembut.
"Ada berkas yang tertinggal di ruanganku, sekalian aku ingin makan siang bersamamu di rumah."ujar Rangga.
Matanya memandang gaun yang melekat di tubuh sang istri, gaun berwarna nude sebatas betis dengan mode payung dan potongan leher rendah terlihat cocok untuk kulit Shanum yang putih bersih.
"Apa kau beli gaun ini tadi?" tanya Rangga singkat.
"Eummm" Shanum menggeleng pasti.
Rangga menautkan alisnya.
"Lalu..dari mana gaun ini kau dapatkan?"
"Ini hadiah dari butik yang kemarin aku belanja sayang, mereka memberi hadiah baju cuma-cuma pada costumer yang berbelanja dengan jumlah banyak di butiknya" jelas Shanum.
Rangga menatap sang istri tak percaya, bagaimana mungkin sebuah butik memberikan gaun berharga mahal secara cuma-cuma hanya karena sudah berbelanja banyak, pikirnya.
Di lihat dari bahan dan model gaun itu, pastilah berharga yang lumayan menguras kantong, jadi kurang masuk akal jika gaun mahal itu di berikan gratis, benak Rangga di liputi berbagai pertanyaan.
"O yaa, siapa pemilik butik itu sayang, setidaknya aku pun harus berterima kasih karena sudah memberikan gaun indah ini gratis pada istri cantiku." Rangga berucap sambil mencubit pipi Shanum gemas.
"Tante Maharani sayang."
Kriik kriik.
Suasana tiba-tiba hening.
Rangga mengerutkan kedua alisnya, rasanya pernah mendengar nama yang di sebut sang istri.
"Sepertinya telingaku familiar dengan nama itu" ujarnya.
"Ehm dia ibu dari Joy" terang Shanum dengan suara lirih.
Rangga menatap Shanum intens.
"Joy, bocah ingusan yang tergila-gila padamu itu?"
__ADS_1