
Semenjak pulih, Shanum di haruskan mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi tinggi, bahkan Hardy secara diam-diam telah berkonsultasi dengan ahli gizi untuk memberinya resep makanan yang akan di berikan pada Shanum dan Rangga, agar keinginannya segera tercapai yaitu sesegera mungkin menimang cucu.
Seperti biasa, pagi ini pun menu sarapan begitu spesial namun cenderung berlebihan menurut Shanum, jika biasanya ia akan sarapan ala kadarnya, hanya sebatas pengganjal perut di pagi hari, jika tidak sandwich, atau omelet pun sudah cukup, tak jarang segelas susu pun jadi.
Maka tak heran lambung Shanum yang berkapasitas kecil itu sudah merasa kenyang saat harus menghabiskan makanan dari berbagai jenis hidangan sehat di atas meja makan.
Rangga yang melihat ke tidak nyamanan sang istri pun berinisiatif untuk mewakilkan dirinya yang menghabiskan makanan penambah stamina itu, toh fungsinya pun sama, ia juga memiliki andil besar dalam penghasil bahan utama dalam proses pembuatan seorang bayi.
Shanum masih duduk di atas kursi di ruang makan, perutnya yang terasa penuh membuatnya sedikit sesak.
Rangga yang menyadari penderitaan sang istri pun mengusap punggungnya dengan lembut.
"Kau tidak apa-apa sayang?"tanya Rangga.
"Hu um"Shanum menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Rangga.
Dua pria yang kini tengah membuat tubuhnya serasa remuk.
Jika Rangga memberinya terapi dari dalam, dengan kegiatan panas yang tak pernah absen mereka lakukan setiap malam, maka sang ayah memberi suport dari luar, yaitu menyuruhnya mengkonsumsi makanan sehat yang sesuai dengan anjuran dokter gizi untuk mempercepat kehamilannya.
"Ayo kita berangkat"Shanum melangkah dengan semangat meski rasa begah di perutnya.
"Lama-lama badanku naik drastis nih"ucap Shanum memandang Rangga yang menggandeng tangannya dan berjalan menuju garasi.
Rangga tersenyum "Nggak apa-apa sayang, semakin tubuhmu berisi, aku semakin suka"ujarnya.
Shanum hanya mencebikkan bibirnya kesal. "Lelaki suka tidak bisa di percaya, lain di mulut lain di hati"ujarnya.
"Kamu masih ragu akan cintaku padamu?"tanya Rangga gemas.
Kembali Shanum mencebikkan bibir mungilnya di hadapan Rangga, membuat dada Rangga panas dingin.
Entah berapa kali bibir itu mendesah penuh gairah saat Rangga tak henti menyesapnya, bahkan tadi pagipun terlihat semakin menebal karena ulahnya.
Andai saja sekarang mereka sedang berada di dalam kamar, sudah di pastikan bibir itu akan habis di sesap Rangga.
Rangga meraih tangan Shanum dan menghentikan langkahnya.
"Sayang lihat, dan tatap mataku"ucap Rangga dengan nada sungguh-sungguh.
"Tahu kah kau sayang, aku adalah lelaki paling beruntung di dunia yang akhirnya mendapatkanmu, dan tahu juga kah kau, aku bahkan rela di sebut sebagai pebinor, di saat mereka begitu merestui hubunganmu dengan tuan Devon, mereka bahkan menghujatku yang tak tahu diri telah membuat kau putus dengan tuan Dev, tahu kah kau sayang, meski beribu kali hujan badai memisahkan kita, hanya satu pintaku, jangan pernah pergi dari sisiku"Tatapan Rangga tajam menghujam netra bening Shanum.
"Andai kau pinta isi hatiku, aku rela mati di depanmu, agar kau percaya hati ini tulus untukmu".
__ADS_1
Cupp.
Rangga mengecup lembut puncak kepala sang istri, lalu menuntunnya untuk memasuki mobil, sedangkan ia menyusulnya dengan motor matic kesayangan di belakang mobil Shanum.
Shanum tersenyum melihat sang lelakinya dari kaca samping mobilnya.
Lelaki sederhana yang telah mengambil mahkotanya, dan kini tak ada orang lain di Wijaya Corp yang mengetahui bahwa Rangga merupakan salah satu pemegang saham terbesar setelah dirinya.
"Usahakan pekerjaan di selesaikan hari ini, besok akan mulai di adakan sidang"pesan dari Hardy membuyarkan lamunan Shanum.
Meski hati kecilnya tak ingin memperpanjang masalah namun sang Ayah tetap pada pendiriannya, seret Hendy sesegera mungkin ke penjara, titahnya tanpa penolakan.
Siang yang terik tak membuat Bibi di mansion berkecil hati, dengan penuh semangat empat menu spesial sudah selesai mereka buat, lalu mengemasnya ke dalam kotak makanan.
Harun yang siang ini bertugas mengambil makan siang Nona Muda pun tampak begitu hati-hati dalam menjaga kotak berharga itu.
Sebenarnya hari ini Shanum ingin memesan salah satu makanan yang sudah lama di incarnya dan sudah ia idam-idamkan sejak lama.
Makanan khas dari daerah yang berudara sejuk, berkuah pedas dan tentunya rasa micin yang begitu memanjakan lidah.
Glek, membayangkan saja sudah membuat air liur Shanum terasa penuh di rongga mulutnya.
Sementara itu, di ruangannya Rangga tengah beberes untuk ke kantin karena kini waktunya istirahat makan siang.
Dengan berat hati Rangga pun melangkahkan kakinya ke ruangan luas yang penuh dengan hiruk pikuk para karyawan yang sedang makan.
"Nu gue pesenin yang sama kayak elu"ucap Rangga yang sudah duduk di kursi sudut ruangan yang masih terlihat kosong.
Danu pun mengangguk.
"Sayang, di mana kamu?"Rangga membaca pesan dari Shanum.
"Aku lagi makan di kantin"jawab Rangga.
"Kenapa sayang?"tanya Rangga balik ke Shanum.
"Aku makan sendirian di kantor nih, asisten Harun membawa banyak makanan dari mansion, katanya ini khusus untuk kita berdua".
"Wo oh oke aku ke situ"Rangga berucap gembira lalu melangkah kembali, meninggalkan Danu yang masih memesan makanannya.
Shanum tersenyum melihat Rangga yang kini sudah berada di ruangannya.
Bukannya Rangga tergiur pada makanan dari mansion, tapi bertemu dengan Shanum saat di kantor adalah satu kesempatan yang jarang ia dapatkan.
__ADS_1
Cupp, Rangga mencium mesra puncak kepala sang istri.
"Ayo kita makan, sayang makanan selezat ini kau diamkan dari tadi"ucap Rangga memandang banyaknya makanan yang memenuhi permukaan meja.
Shanum memandang Rangga dengan wajah memelas.
"Kenapa, apa kau sudah makan"tanya Rangga heran.
Shanum menggeleng kepalanya.
"Lalu kenapa tak kau makan?"
"A aku sudah memesan makanan online"jawab Shanum dengan wajah penuh sesal.
Rangga menautkan kedua alisnya.
"Kenapa pesan online, bukankah sekarang kau harus menjaga makananmu karena sedang dalam promil?"tanya Rangga.
"Tapi ini sudah aku pesen dan sudah bayar, tinggal nunggu makanannya datang"jawab Shanum dengan wajah takut.
Rangga menghela nafas panjang.
Tok tok
Seketika Shanum membelalakan matanya dengan binar penuh kebahagiaan saat asisten Harun datang membawa bungkusan berisi makanan yang telah di pesannya.
Harun mengangguk ringan sebelum meninggalkan ruangan.
Shanum dengan wajah berseri membawa bungkusan ke atas meja dan membukannya.
Aroma wangi masakan yang di gilai oleh seluruh perempuan di seantero nusantara.
Di tengah ke asikan Shanum mengaduk makanan di atas piring saji nya, sepasang mata tanpa di sadari tengah memandangnya dengan tatapan tajam.
"Aaaaam, enak ya seblaknya"Gerakan tangan Shanum tertahan di udara saat Rangga memandang dengan tatapan membunuh ke arahnya.
"Kenapa berhenti, hu um?"Rangga mengedikan kedua alisnya, dengan senyum sinis, membuat Shanum diam membeku.
Rangga bangun dari duduknya, lalu dengan tenang mengambil semanguk seblak yang siap di makan oleh Shanum, lalu menggantinya dengan semangkuk sop ikan salmon dan hidangan sehat lain yang sama sekali tanpa micin.
Glek, Shanum hanya dapat terdiam memandang Rangga yang dengan lahap memakan seblak miliknya.
"Ternyata Micin enak juga ya"
__ADS_1