
Satu pekan akhirnya berlalu, sidang lanjutan akan di laksanakan esok hari.
Kali ini Hardy telah mempersiapkan semua bukti-bukti dan saksi tambahan yang akan memberatkan Hendy.
Rangga dan Shanum sengaja bermalam di hotel, sehari sebelum sidang di lakukan.
Mereka berangkat sore hari setelah pulang kerja.
Di sebuah Hotel mewah,yang terletak tak jauh dari gedung pengadilan kini mereka berada.
Rangga membaringkan tubuhnya di atas ranjang besar nan nyaman, rasa lelah mendera setelah seharian matanya menatap layar laptop membuat kepalanya sedikit pening.
"Sha, kalian sekarang istirahat lah yang cukup, agar sidang esok berjalan dengan lancar, dan kalian tidak terlalu lelah"pesan Hardy lewat ponselnya.
Shanum mematikan ponselnya setelah mengirim pesan balasan.
Benar kata sang ayah, besok ia harus menyiapkan kondisi lahir dan batinnya untuk menjalani sidang.
Terdengar nafas Rangga mulai teratur, bahkan dengkuran halus kini terdengar samar.
Merasa gerah dan lengket, akhirnya Shanum ke kamar mandi untuk berendam dengan air hangat.
Dengan sedikit aroma therapy yang telah di siapkan pihak hotel,Shanum pun merendamkan tubuhnya di bathub.
Matanya mulai terpejam saat segar dan nyaman mulai terasa di tubuh Shanum.
Sementara di luar kamar mandi, Rangga membuka matanya saat merasakan udara dingin masuk lewat jendela kamar yang masih terbuka.
Rangga memandang ke sekiling ruangan hatinya mulai cemas saat tak melihat sosok sang istri berada di ruangan.
Langkahnya mengayun ke kamar namun tetap tak di jumpainya Shanum.
Drtt drrt.
Rangga mencoba memanggil lewat ponsel dan ternyata terdengar getaran di dalam tas yang berada di atas headboard menandakan Shanum saat ini tidak membawa ponselnya.
Rangga semakin di landa kecemasan, andai ia menghubungi ayah mertuanya tentu akan membuatnya panik.
__ADS_1
Tak ingin gegabah Rangga mengurungkan niatnya untuk menghubungi Hardy.
Matanya berhenti pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Langkahnya cepat membuka pintu kamar mandi yang ternyata tak terkunci.
Rangga menghela nafas lega, melihat sang istri tengah terpejam di dalam bathub.
Dengan perlahan, Rangga mendekati tubuh polos yang tak sadar telah terlelap.
Rangga tersenyum dan mendekat ke sisi bathub.
"Fuuuhhh"Rangga meniup mata berbulu lentik yang sedang terpejam.
Tak ada reaksi dari Shanum.
Rangga tersenyum dengan mata berbinar saat melihat tubuh polos sang istri, rupanya kesibukan membuatnya lupa bahwa masa periode Shanum telah usai.
Satu pekan di lewatinya hanya dengan pelukan hangat dan ciuman panas dan tak lebih.
Satu persatu Rangga melepas kancing kemeja dan celana bahannya.
Hanya dengan memandangnya saja sudah membangunkan Arjunanya yang sedang tertidur lelap.
Tak ingin membangunkan sang istri, Rangga dengan gerakan perlahan masuk ke dalam bathub lalu duduk berhadapan dengan Shanum.
Merasa sedikit gesekan pada kulitnya Shanum pun membuka mata perlahan.
"Aaaahh"Shanum berteriak kencang, untung saja kamar hotel sudah di rancang kedap suara hingga tak terdengar pengunjung lain.
"Sstt sayang ini aku suamimu"Rangga menutup mulut Shanum dengan satu tangannya.
Kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, Shanum mengerjapkan matanya.
Wajah yang tadi terlihat tegang kini berubah tenang saat tatapannya beradu dengan Rangga yang kini telah memeluk dan menatapnya tajam.
"Sayang kenapa kau ikut berendam di sini?"tanya Shanum.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau tidak bilang jika tubuhmu sudah bersih"pertanyaan frontal dari mulut Rangga membuat wajah Shanum me merah.
"A aku juga baru bersih tadi pagi"jawab Shanum polos.
Dadanya kini berdegub kencang saat Rangga memajukan wajahnya.
Jarak yang kian terkikis membuat nafas mereka kini saling beradu.
Dengan lembut Rangga mengecup bibir mungil sang istri yang selama ini selalu menjadi candu nya.
Kamar mandi berukuran luas itu pun menjadi saksi kegiatan panas yang sudah tertahan selama satu pekan.
Suara nada air dalam bathub yang semakin kencang seiring dengan tercapainya puncak surga yang mereka daki bersama.
Terdengar lenguhan panjang Rangga saat Arjunanya mencapai puncak dan menyemburkan larva hangat ke dalam tubuh sang istri kecilnya.
Shanum pun menegang dengan kedua tangan mencengkeram punggung Rangga saat merasakan cairan hangat memenuhi rahimnya.
Nafas mereka masih terpacu kencang dengan tubuh masih menyatu.
Cup, Rangga mengecup mesra puncak kepala sang istri.
Kegiatan yang berlangsung beberapa menit rupannya membuat energi keduanya terkuras.
Rangga membopong tubuh Shanum dan membawanya ke bawah Shower untuk membilas mandinya.
Rangga tersenyum puas, melihat sang istri yang tampak lemas.
"Kita makan di luar apa di kamar aja sayang?"Rangga bertanya lembut sambil membelai lembut rambut Shanum yang nasih terlihat basah.
"Aku cape, makan di kamar aja"Shanum menjawab dengan lemah.
"Baiklah, kita tunggu sebentar"Rangga melangkah ke dalam kamar mandi dan keluar dengan membawa handuk kecil lalu mengeringkan rambut Shanum dengan telaten.
Wajahnya tampak berseri bagai sinar rembulan pada bulan purnama.
Sementara Shanum terlihat nyaman dengan tangan bersidekap di depan dadanya.
__ADS_1
Setelah kegiatan panas di kamar mandi membuat tubuhnya kini terasa menggigil karena dingin.
Shanum mencebik kesal melihat Rangga yang masih terlihat bugar sedangkan tubuhnya serasa remuk setelah Rangga mengempurna dengan durasi yang cukup lama.