
Shanum terbangun dari tidurnya, di liriknya jam dinding, pukul dua dini hari.
Perlahan ia bangkit dari tidurnya.
"Sshhhh" kedua alisnya mengerut saat otot peritnya tiba-tiba terasa menegang.
Desisan halus dari mulutnya yang tak sadar keluar membuat Shanum segera menutupnya dengan telapak tangannya sendiri.
Tak ingin tidur sang suami terganggu iapun beringsut pelan beranjak dari ranjangnya.
Di sisi ranjang Shanum duduk dengan merapatkan giginya.
Sekuat tenaga ia tahan rasa tak nyaman di perutnya.
Beberapa kali ia tarik nafas dan menghembuskannya perlahan, berharap rasa tegang ototnya dapat berkurang.
Setelah rasa tegang otot perutnya sedikit berkurang, Shanum pun melangkah ke kamar mandi karena sudah tak dapat lagi menahan panggilan alam yang sejak tadi mengganggu tidurnya.
Tak ingin rasa tegang ototnya datang kembali Shanum berjalan dengan tangan memegang sisi tembok dengan satu tangan sedang tangan yang lain terus memegang area perut.
Setelah menunaikan panggilan alamnya Shanum pun kembali ke ranjang, dengkuran halus keluar dari mulut Rangga.
Mungkin karena aktifitas panas sore hari yang telah membuat area perutnya sedikit tegang, batin Shanum.
Di usapnya perut buncitnya.
Sabar ya nak, kesayangan mommy, kamu cape ya, sehat-sehat di dalem ya, jangan nakal, mommy akan jaga kamu dengan jiwa raga mommy, tenanglah di sana.
Shanum tersenyum bahagia, saat reaksi usapan tangannya di respon oleh janin dalam perutnya.
Anak pintar.
Rasa kantuk yang kini menghilang membuat Shanum menggeser posisi duduknya hingga kini menyandar di headboard.
Tangan yang masih mengusap lembut perutnya sedikit membantu rasa tegang dan mulai berkurang.
Tak berapa lama akhirnya Shanum pun terlelap dengan tubuh masih bersandar di head board.
Pagi pun menjelang, Rangga yang di kejutkan dengan Shanum yang tertidur dengan posisi tubuh bersandar di head board terlihat panik.
Tanggannya segera meraba kening sang istri dengan lembut.
Namun suhu tubuhnya tampak normal.
Rangga memandang tubuh Shanum lalu beralih ke ranjang, bagaimana caranya membetulkan posisi tidur sang istri agar nyaman tanpa mengganggu tidurnya.
Otaknya berfikir keras,Shanum yang sensituf dengan pergerakan sedikit saja tentu akan terjaga jika ia memindahkan tubuhnya agar tidur berbaring di ranjang dengan benar.
Perlahan dengan gerakan ia buat selembut mungkin Rangga merengkuh tubuh Shanum dan menggesernya ke pembaringan dan.
"Heuumm."
Benar dugaan Rangga, Shanum yang peka, dengan gerakan sedikit saja maka matanya mulai membuka.
__ADS_1
"Maaf menganggu tidurmu, aku hanya ingin memindahkan tubuhmu agar nyaman di ranjang." Rangga berucap gugup.
Mata Shanum mengerjap, perlahan kesadarannya timbul.
"Ehm apa ini sudah pagi?" Shanum balik bertanya pada sang suami.
"Masih pagi, kau sebaiknya kembali tidur, maaf aku tak menyadari saat kau mungkin terbangun tengah malam tadi." sesal Rangga.
Sebagai seorang calon ayah, Rangga sudah mulai mempersiapkan diri, beberapa buku bahkan sengaja di belinya tentang panduan sebagai seorang calon ayah yang baik.
Dengan usia kehamilan yang semakin bertambah tentu waktu tidurpun akan berkurang dan semakin tak nyaman, bahkan setiap malam para ibu-ibu yang sedang hamil sering terjaga tengah malam.
Rangga yang melihat Shanum tidur tak semestinya pun menduga bahwa tengah malam ia terjaga tanpa membangunkannya.
Shanum memandang dinding kamar dan waktu penunjukan pukul lima lebih sepuluh menit.
Dengan gerakan cepat Rangga menahan tubuh Shanum saat di lihatnya hendak beranjak dari ranjangnya.
"Ehm tidurlah lagi, tak perlu kau siapkan bajuku, aku bisa menyiapkannya sendiri" ujar Rangga lembut.
"Ehm t tapi aku mau ke kamar mandi"
Rangga mencelos dan hanya tersenyum masam.
"Ohh baiklah, hati-hati" ujarnya dengan memapah Shanum ke kamar mandi.
Kini setelah merasakan otot perutnya yang tegang tadi malam, Shanum menahan gerakan tubuhnya lebih lembut.
Namun Shanum tak terlalu memikirkan hal itu, mungkin saja itu hal biasa yang di alami oleh ibu yang hamil.
Sepeninggal Rangga Shanum hanya menghabiskan waktu di dalam mansion, untuk melakukan jalan pagi memutari taman pun tak berani ia lakukan.
"Pagi Non, ini susu nya sudah bibi buatin, mumpung masih hangat segera minum non" ucap bibi.
"Heum, baik bi, nanti akan aku minum kok." Shanum tersenyum manis.
Perhatian bibi membuat hatinya menghangat.
Andai saja sekarang ibu masih hidup tentu Shanum masih dapat bermanja dan bertukar bercerita tentang kehamilannya.
Meskipun di mansion bibi selalu siap mendengar keluh kesahnya namun Shanum tak ingin mengganggu pekerjaan mereka.
Beberapa buku tentang pengetahuan ibu hamil, maupun cara mengatasi kehamilan agar tidak stress, sudah di belikan oleh Rangga.
Begitupun majalah kewanitaan yang menumpuk di atas meja sudah di bacanya sebagian.
Dan salah satu cara mengatasi masalah yang datang di saat kehamilan adalah jangan sampai membuat hati cemas, batin Shanum.
Rasa kram yang di alami perutnya memang tak membuat Shanum panik atau pun cemas, sekuat tenaga Shanum mencoba menenangkan dirinya sendiri, dan Rangga pun tak ia beri tahu tentang rasa yang di alami perutnya saat ini.
Suasana siang yang terik membuat Rangga enggan ke kantin untuk makan siang, ia meminta David untuk membeli makanan yang ber rasa segar dan sedikit asam.
David hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal saat mendapat perintah dari bosnya itu.
__ADS_1
Makanan segar namun ada rasa asam, apa itu, pikirnya.
Jawaban saudara sepuunya pun tak ada yang memuaskan saat ia bertanya lewat pesan singkat.
Tak ada yang memahami makanan jenis apa yang di inginkan sang bos.
Di tengah kebingungannya David akhirnya memilih bantuan dari mbah buyutnya tentang makanan yang mempunyai rasa segar namun terkandung rasa asam.
Jarinya mulai berselancar mencari menu aneh permintaan sang bos.
Pilihan terakhir David jatuh pada abang penjual asisan bogor yang kebetulan selalu lewat saat siang hari.
Bodo amat mau pas mau kagak, yang penting sudah usaha, pikir David dengan dua bungkusan asinan yang di bawanya.
Langkahnya penuh percaya diri menuju ruangan Rangga, jika karyawan lain mungkin sudah merasa kenyang karena sudah menyelesaikan makan siang mereka, tapi berbeda dengan David yang masih di buat pusing dengan tingkah aneh sang bos.
Bini siapa yang hamidun, gue yang kena getahnya
Pusing nyari makanan asam, taik kucing noh asam juga, geram David.
Tok tok.
David memasuki ruangan dengan dua mangkuk kosong beserta sendok garpu lalu di taruhnya di atas meja.
Rangga melirik ke bungkusan sederhana di meja nya.
"Apaan ini Vid?"
"I itu makanan yang bapak mau kan? Segar dan ada rasa asam nya" jawaban santai terdengar dari mulut David.
Rangga mengarahkan hidungnya mendekati bungkusan dan mengendus aromanya.
"Nggak wangi?" tanya Rangga polos.
"Maksudnya gimana pak?"
Kalau mau wangi noh guyur pake parfum bapak di laci, David membatin kesal.
"Maksudnya kok nggak wangi kaya masakan biasanya itu lho, kayak rendang apa soto betawi apa gulai kepala kakap yang kayak biasanya kita makan itu Vid."
David memutar bola matanya jengah.
Tadi aja bapak pesen tolong beliin nasi padang dengan lauk Rendang, gulai kakap sama soto betawi, biar saya nggak harus pusing mikirin makanan yang bapak deskripsikan itu pak Samsuuuul, sungguh David di buat geram dengan satu bosnya itu.
"Aku nggak ingin makanan ini Vid, tolong beliin aja pecel ayam di warung sebrang jalan depan?" Rangga memberi perintah dengan santai.
"Hah, nggak salah pak? Tadi bilang pingin rendang sama gulai, kenapa sekarang pesennya malah pecel?"
"Aku lagi pengin makan pecel Vid, tolong ya?"
Davin gontai melangkah keluar ruangan.
Ingin rasanya ia membelikan bosnya itu pecel ayam tiren dengan bonus balado paku.
__ADS_1