Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Kau Terlalu Mempesona


__ADS_3

Jangan lupa kasih like koment dan vote ya....kopi sama bunga juga boleh banget,


Biar othor semangat up nya😘😘😘😘


Happy reading.


💦💦💦💦


Rangga melajukan kendaraan dengan kecepatan lebih kencang, Hardy yang masih merasa bersalah pun berfikir jika menantunya itu masih merasa kesal padanya.


Rasa canggung masih menghinggapi pria baruh baya itu, kelu rasa bibir Hardy bahkan saat hendak memulai percakapan.


"Maafkan Ayah Ngga, karena kecerobohan Ayah membuatmu merasa kesal".


Kalimat yang mengganjal di dada Hardy akhirnya keluar juga dari mulutnya.


Lega rasa hatinya meski Rangga belum merespon kalimat penyesalannya.


"Sekali lagi maafkan Ayah" Hardy menatap Rangga yang tengah fokus pada kemudinya.


Hardy hanya menghela nafas panjang, lalu membalas tatapan ayah mertuanya dengan senyum tipis.


"Sudahlah Yah, aku sudah memaafkannya, semua sudah terlewati, dan itu bukan sepenuhnya kesalahan Ayah" kalimat Rangga tampak menggantung.


Hardy menatap Rangga penuh tanda tanya.


"Kalau menurut ku kesalahan paling besar adalah Shanum Yah" netra Hardy menatap Rangga lekat.


"Kesalahan Shanum adalah..kenapa dia begitu cantik, hingga bisa membuat seorang pria terpesona bahkan pada saat jumpa pertama" ucap Rangga dengan bibir tersenyum terbersit rasa bangga.


Hardy menarik garis lengkung bibirnya hingga membentuk senyum yang tipis dengan perasaan lega.


Dugaan bahwa Rangga merasa kesal padanya ternyata salah.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka pun sampai di mansion.


Suasana mansion yang tampak ramai oleh para pelayan yang sedang menyiapkan masakan, beberapa tampak sedang menghias meja makan dengan berbagai buah yang di ukir indah.


Berbeda dengan suasana dapur mansion yang masih gaduh dengan aksi para koki yang fokus memasak untuk para tamu undangan, lantai dua tampak hening, hanya ada Merry dan asistennya yang masih sibuk memoles wajah Shanum.


Melihat beberapa kotak peralatan yang tergeletak di dekat pintu mansion dan gaun pengantin yang masih terbungkus berjejer rapi, Rangga sudah menduga bahwa wanita berbahu tegap ada di kamar Shanum.


Sebenarnya enggan ia bertemu mahluk unik itu.


Langkah Rangga tertahan di ujung tangga, tangannya terasa berat untuk menarik tuas pintu kamar yang tertutup rapat.


"Huuuff" Rangga menarik nafas dan menghembuskannya dengan sekali hentakan lalu membuka pintu kamar.


Ceklek.


Shanum hanya mengalihkan pandangannya karena Merry masih merias wajahnya.


"Sudah pulang sayang?" tanya Shanum.


"Heum" hanya jawaban singkat dari Rangga.

__ADS_1


"Aduh duh duh yei mau jadi pengantin tapi masih aja keluyuran, pamali taukk" gerakan tangan melambai Merry membuat Rangga jengah dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Berapa lama lagi sayang" tanya Rangga yang tak ingin berlama-lama dekat dengan Merry.


"Bentar lagi say...ehm paling tiga puluh menit lagi" kali ini Merry yang menjawab.


"Kalau begitu aku keluar dulu" Rangga melangkah menuju pintu kamar.


"Eh eh eh, mau kabur kemana lagi say, duduk di sini tunggu bentar lagi" larang Merry.


Rangga menahan gerakan kakinya sambil berfikir keras, alasan apa yang akan ia buat agar dapat keluar menjauh.


"Aku mau mandi dulu di kamar sebelah, badanku gerah" ujar Rangga, toh untuk me make up wajahnya tak membutuhkan waktu yang lama tak seperti wajah perempuan.


Shanum melihat kepergian Rangga, pertanyaan yang menggelayuti pikirannya masih tertahan di kepalanya.


Rangga melangkah ke dapur mansion, suasana hati yang kacau saat di gazebo tadi, membuatnya hilang nafsu makan, hingga kini perutnya baru berdemo minta di isi.


Namun suasana dapur mansion yang makin terlihat sibuk, membuat Rangga enggan mengganggu mereka hanya untuk menyiapkannya makan untuknya.


"Den, den Rangga mau makan?" untunglah salah satu pelayan mansion melihat tuan muda mereka yang tampak kebingungan.


Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Cacing di perutnya yang kian berteriak minta di isi, membuatnya mati kutu.


"Den, tuan Hardy sedang makan di meja sebelah taman, apa den Rangga mau bergabung di sana, bibi akan bawain piring ke sana" terang bibi pelayan membuat mata Rangga seketika berbinar.


"Oke bi, aku tunggu di sana ya" ujar Rangga lalu melangkah ke tempat yang di tunjukan oleh bibi pelayan.


Keduanya sama-sama tersenyum, rupanya mereka melewatkan makan di gazebo tadi hingga perut mereka yang tak bisa di ajak kompromi akhirnya unjuk rasa.


"Kemarilah, kita makan bersama" ajak Hardy .


Tak lama bibi pun membawa piring kosong untuk Rangga.


Keduanya pun menghabiskan makan bersama, di selingi dengan cerita ringan hingga suasana pun menghangat.


"Ehm maaf tuan, ada tamu di depan mansion sepertinya keluarga dari den Rangga"ucap salah satu penjaga gerbang mansion.


Rangga yang sudah menyelesaikan makannya segera berdiri lalu melangkah menyambut ibunya.


Rangga membungkukan badan dan menyalami sang ibu yang rupanya datang bersama Ardi dan mang Epi beserta istri dan anaknya.


Anak mang Epi yang memang baru pertama kali datang ke mansion tak henti-hentinya memandang takjub bangunan besar dan megah itu.


Rumah gedung besar yang selama ini hanya bisa ia lihat di layar televisi, kini berada di hadapannya.


Kedua matanya tak henti berkeliling menyisir seluruh mansion, bahkan sesekali terdengar decakan takjub dari mulutnya yang mungil.


"Bu apa ini yang di namakan istana"bisik anak kecil berusia sembilan tahun itu pada sang ibu.


"Sstt, bukan neng, ini namanya mansion" jawab teh Nia, istri mang Epi.


"Oohhh" anak kecil itu meng angguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan berisik, ayo kita masuk, ingat neng, kalau di tanya jawab yang sopan"terang teh Nia di balas anggukan dari Nadya putrinya.


Mereka memasuki mansion menuju lantai atas, karena Hardy memang menyiapkan kamar kosong untuk para tamu.


Rangga ikut ke lantai atas membawa tas ibunya, bersama mang Epi dan keluarga kecilnya.


Shanum yang mendengar kedatangan sang ibu mertua pun meminta Merry untuk berhenti sejenak dari kegiatannya merias.


"Ibu.."pekik Shanum sambil melangkah menyongsong Hana.


Hana membalikan tubuh dan matanya lekat memandang wanita cantik yang tengah berlari ke arahnya.


"Ibu kenapa baru datang, aku cemas menunggu, jangan-jangan ibu nggak ke sini"ucap Shanum dengan memeluk hangat tubuh ibu mertuanya.


Nadya kini semakin membulatkan matanya, gadis cantik bak seorang putri kini nyata berada di depannya.


Matanya mengerjap lucu.


"Bu itu tuan putri ya?"bisiknya di telinga sang ibu yang terpaksa membungkukan badanya karena tangan kecil itu menarik bajunya.


"Bukan neng, itu nona Shanum, putri tuan Hardy, yang punya villa"terang Nia.


Netra Shanum berpindah ke wajah manis yang tengah memandangnya takjub.


Shanum membungkukan tubuhnya ke arah Nadya.


"Kamu siapa?"Shanum bertanya lembut, berlagak tak mengetahui siapa Nadya agar anak perembuan itu tak merasa gugup.


"Ehm a aku Nadya" jawab bocah kecil itu.


Shanum melirik ke arah mang Epi dan teh Nadya lalu mengangguk ramah dan menyalami keduanya.


Pertama kali bertemu dengan teh Nia saat di vila dan menggendong Nadya yang waktu itu baru beberapa bulan.


"Mang Epi sama teh Nia silahkan kalian istirahat dulu, nanti sore acaranya baru di mulai, kasihan Nadya pasti cape di jalan" ujar Shanum sambil memandang Nadya.


Bocah kecil itu menggeleng pasti.


"Tidak, aku tidak cape, aku mau lihat putri" ucap Nadya polos masih mengganggap Shanum adalah seorang putri.


"Bailah kalau begitu, apa Nadya mau bantuin kakak, kakak mau ganti baju di kamar dan nggak ada yang pegangin baju kakak".


Mata gadis kecil itu seketika berbinar senang, dan menganggukan kepala dengan semangat.


Shanum pun menggandeng tangan kecil Nadya lalu melangkah kembali ke kamarnya.


Setelah menyelesaikan make up nya Shanum beralih duduk ke kursi di sebelahnya, kini berganti Rangga dengan wajah yang terlihat tak nyaman duduk berhadapan dengan Merry.


"Hmm, giliran kamu cyiint, jangan tegang yaa" ujar Merry santai.


Tegang matamu, yang ada mual perut gue.


"Tegakkan wajah mu cyint" Merry menarik dagu Rangga agar tengadah hingga memudahkannnya meng aplikasikan riasannya.


Ish, pake pegang-pegang segala, mau gue buntungin ni tangan.

__ADS_1


Umpat Rangga dalam hati.


__ADS_2