Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Testafood


__ADS_3

Rangga diam membeku, aliran darahnya seakan berhenti, wajahnya memang cantik dengan bibir merah menggairahkan, tubuh pun proporsional dambaan para lelaki, namun tidak dengan dirinya.


Entah kenapa Rangga begitu ilfil dengan CEO dari Testafood itu.


Berada dekat dengannya pun membuat dirinya merasa tak nyaman.


Dadanya berdebar keras, tentu saja bukan karena bahagia, keringat dingin selalu muncul saat Linda mendekatinya.


Tak ingin kejadian memalukan yang membuatnya pingsan terulang lagi, Rangga berusaha untuk bersikap tenang.


Dengan mengatur nafas kini Rangga mulai dapat menguasai dirinya.


"Selamat siang pak Rangga, saya datang ke sini khusus untuk membawakan hidangan makan siang untuk anda, makanan istimewa yang kami racik dari bahan berkualitas tinggi dengan peralatan higienis serta olahan dari bermacam-macam hasil laut, saya harap bapak Rangga mau berkenan untuk mencicipi hidangan dari kami."


Linda menjelaskan dengan detail produk yang di hasilkan oleh perusahaannya.


Rangga menelan salivanya, tampilan hidangan yang membuat air liurnya menetes, aroma harum masakan pun semerbak ke seluruh ruangan.


Dengan telaten Linda menata hidangan di atas meja tamu di ruangan Rangga.


Tak lebih dari sepuluh menit, hidangan pun tertata rapi.


Satu piring kosong di sodorkan Linda kehadapan Rangga.


Tak ingin membuat kliennya kecewa, Rangga pun segera mengambil beberapa potong olahan seafood dengan bumbu berwarna merah menyala.


"Kenapa hanya sedikit pak?"


"Saya tidak terlalu suka pedas bu."


"Oh ini tidak seperti yang anda bayangkan pak, cobalah pedasnya masih bisa di terima untuk mereka yang tidak terlalu menyukai pedas." Linda dengan penuh percaya diri menjelaskan masakannya.


Dengan tangan yang sedikit ragu, Rangga menyuapkan irisan daging ikan berbumbu merah ke dalam mulutnya, bayangan akan rasa pedas yang menyiksa sirna seketika, sungguh Rangga di tipu dengan penampakan luar dari masakan tersebut.


Rangga mengangguk ringan, dengan senyum simpul tersungging dari bibirnya.


Linda tersenyum puas saat Rangga menghabiskan beberapa potong ikan, lalu kembali ia menyodorkan hasil resep masakan yang lain, kali ini olahan dari udang, lalu cumi, dan terakhir, baby gurita.


Semua olahan seafood yang Testafood sajikan begitu lezat.


Tak pernah ia menikmati hidangan selezat ini, pikir Rangga.


"Pak saya sudah siapkan beberapa bungkus untuk di nikmati di rumah, anda tinggal memanaskan dulu sebentar dan makanan siap di sajikan." Linda menyodorkan paperbag besar.


"Ah terima kasih bu Linda, makanan ini sangat enak, pas di lidah saya."


Linda tersenyum smirk.


"Baiklah pak, karena misi kami telah selesai maka kami mohon pamit, dan terima kasih kami ucapkan pada perusahaan Wijaya Corp atas kerja samanya."

__ADS_1


Rangga mengangguk ramah dan tersenyum melepas kepergian Linda.


Tok tok tok.


"Ya masuk."


David memasuki ruangan dengan tangan mengusap perutnya yang datar.


"Kenapa perutmu Vid? Sakit?" Rangga menatap David penuh tanya.


"Tidak pak, habis makan produk dari Tetsafood perut jadi kekenyangan, sungguh pak, baru kali ini saya nikmati masakan se enak dan se lezat ini, berbeda dengan produk olahan dari perusahaan lain." David menjelaskan dengan antusias.


"Andai bapak ikut menikmati makanan dari Tetsafood pasti bapak akan ketagihan, mereka sungguh pintar mengolahnya menjadi makanan yang bergizi tinggi dan super lezat."


Rangga tersenyum melihat penjelasan David.


"Aku pun menikmatinya Vid, bahkan CEO nya secara khusus menyajikan untuku di ruangan ini, bahkan aku di beri bonus untuk di bawa pulang" terang Rangga dengan penuh percaya diri.


David kini menatap heran ke arah bosnya, jika kemarin pria atasanya itu terang-terangan menghindari wanita itu namun kini sikapnya tampak melembut, batin david.


"J jadi bu Linda ke ruangan bapak?"


Rangga mengangguk sengan seringai puas ke David.


"Waaahh ternyata, gesit juga bu Linda mendekati bosku ini" David bertepuk tangan, dengan menggelengkan kepala seakan tak percaya jika sekuat tenaga menjaga Linda agar tak sampai ke ruangan bosnya itu, namun ia masih bisa di kecoh oleh wanita itu.


Linda memperdaya David saat ia lengah karena kelezatan makanannnya.


"Sore ini gue nggak lembur Vid."


Tumben ijin, ada angin apa ini, David membatin.


Rangga melangkah keluar dari perusahaan, para karyawan menatap dengan penuh tanda tanya, tak biasanya sang bos membawa jinjingan besar keluar dari perusahaan.


Sepanjang perjalanan Rangga terus saja tersenyum, Shanum pasti akan menyukai makanan yang di bawanya.


Langkahnya tergesa memasuki mansion.


Tampak sang istri dan ibu, sedang bercengkerama di taman sambil menikmati secangkir teh hangat.


Rangga menghampiri keduanya.


Shanum yang melihat kedatangan Rangga tampak tertegun dan tatapannya mengarah ke tangan yang membawa jinjingan besar.


"Sayang, apa yang kau bawa?" tanya Shanum.


Rangga tersenyum.


"Coba kau cium wanginya."

__ADS_1


Tangannya mengarahkan paperbag ke arah hidung Shanum.


"A apa ini, wangi sekali" ucap Shanum berkali-kali mengenduskan indra penciumannya hingga cuping hidungnya mengembang lucu.


Hana tersenyum melihat tingkah sang menantu yang menggemaskan.


"Ayo bukalah, apa isinya?" rengeknya.


"Bukalah Ngga, kasihan istrimu."


"Ha ha haaa, baiklah, heum coba kau rasakan wangi masakan ini" Rangga lalu membuka bungkusan dan menaruhnya di atas meja.


Aroma wangi masakan sontak menyeruak ke lubang hidung Shanum dan Hana.


Mata Shanum berbinar terang, tak pernah ia mencium aroma masakan sewangi ini.


"Aku mau" ujarnya dengan riang bagai anak kecil mendapat permen coklat kesukannya.


"Tunggu biar bibi hangatkan dulu sebentar" ucap Rangga lalu kembali membawa makanan ke dapur mansion, Shanum mengerutkan bibirnya kesal.


Rangga hanya tersenyum gemas sambil mencubit pipi chuby sang istri.


"Sabarlah sebentar sayang."


Rangga lalu membersihkan diri dan mengenakan baju casual, karena sore ini akan mengantar sang ibu pulang.


Shanum yang suadah tak sabar menunggu di ruang makan berkali-kali melihat ke arah dapur.


Tepukan tangan dengan wajah berseri terbit seketika kala sang bibi datang dengan beberapa piring berisi masakan seafood produk dari Testafood.


"Sayang cepatlah, makanan sudah siap."Shanum berteriak tak sabar karena Rangga tak juga muncul dari kamarnya.


Rangga keluar dan bergegas menuju meja makan.


Tak sabar rasanya melihat ekspresi sang istri saat menikmati makanan nan lezat yang di bawanya.


Hana menyiukan beberapa sendok ke piring sang menantu, karena wajahnya tampak tak sabar menunggu.


"Sayang apa kau tidak alergi dengan makanan laut?"


Shanum menggeleng cepat " Tidak bu, aku pemakan segala, tenanglah."


Ekspektasi yang sesuai dengan realita, itulah yang di rasakan Shanum saat memasukan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


Drrt drrtt.


"Pak Rangga apa makanan yang dari Testafood sudah kau hangatkan? Saya hanya mengingatkan agar kau harus segera menyimpannya di lemari pendingin jika belum sempat kau hangatkan."


Rangga tertegun, jadi nomor yang berulang kali menghubunginya kemarin adalah nomor bu Linda, batinnya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengingatkan bu, sudah di makan pemberian bu, sebelumnya saya sudah menghangatkannya terlebih dahulu."


Rangga membalas langsung, kali ini ia harus mengucapkan terima kasih pada kliennya itu, dan sekaligus untuk menebus rasa bersalahnya karena sudah mengacuhkannya dari awal pertemuan.


__ADS_2