Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Rangga Cemburu


__ADS_3

Lefrant menyahut dengan mulut tergagap.


Untuk beberapa detik pesona Shanum mengalihkan dunianya, bahkan ia seakan lupa dengan amarah yang kini mulai memuncak.


" S silahkan tuan Hardy" ucap Lefrant terbata berusaha mengatasi kegugupannya.


Hardy pun melangkah memasuki mansion bergandengan dengan Shanum.


Rupanya semua orang tak menyadari kehadiran Hardy dan Shanum karena tak mendengar saat satpam penjaga membuka pintu.


Hardy pun mengulurkan tangan ke arah Lefrant, begitu juga dengan Shanum.


Sepersekian detik pria tegas itu menatap netra bening Shanum, begitu indah dan hangat, tangannya pun terasa halus saat ia menyambut untuk bersalaman.


Shanum tampak kikuk saat Kakak Linda itu tak juga melepas genggaman tangannya.


"Ehm hmm."


Deheman ringan Linda menyadarkan Lefrant, segera ia pun mengurai tangannya.


Hardy duduk di sofa dan Shanum memilih duduk di samping Rangga.


Meski rasa panas di dadanya karena ada pria lain yang nenggengam tangan sang istri, kini Rangga pun senang karena Shanum duduk di sebelahnya.


Ah kenapa tiba-tiba dadaku berdenyut nyeri, batin Lefrant memandang pasutri di depannya saling memandang dengan penuh cinta.


"Sayang, kau yang mengajak Ayah Hardy ke sini?" bisik Rangga.


"Heum, aku hanya tak ingin suamiku kecewa jika ternyata pak Lefrant menolakmu."


"Kau memang istriku yang sangat pintar" Rangga mencolek puncak hidung Shanum gemas.


"Maaf pak Lefrant, jika kedatangan saya begitu tiba-tiba dan membuat pak Lefrant merasa tak senang" Hardy memulai pembicaraan.


"Ah tidak Tuan, sungguh kedatangan Tuan Hardy merupakan suatu kehormatan bagi saya" jawab Lefrant hangat.


Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba pengusaha yang mempunyai nama yang begitu di segani di dunia bisnis, kini sudah berada di kediamannya, suatu kebanggaan


bagi Lefrant tentunya.


"Pak Lefrant sekiranya kedatangan saya ke sini adalah untuk me wakili atas nama kedua orang tua David untuk meminang adik anda,

__ADS_1


David sudah saya anggap seperti anak saya sendiri, maka saya juga merasa bertanggung jawab atas masa depannya, jika memang pak Lefrant ragu atas kesungguhan David, maka saya akan menjadi jaminan jika suatu saat kelak David mengecewakan anda, saya lah yang akan mempertanggung jawabkannya" kalimat Hardy tenang dan penuh wibawa.


David menatap Hardy tak percaya, pria pemilik Wijaya Corp, mau menjadi wali nya, sedangkan mereka tak memiliki ikatan darah sama sekali.


Dadanya berdenyut sesak, ada rasa haru yang kini memenuhi hatinya.


Lefrant terpaku di tempatnya duduk, pria seperti Hardy mau menjadi wakil kedua orang tua David, maka hal apalagi yang membuatnya masih menolak mereka.


Linda memeluk Shanum erat, terdengar isak tangis lirih dari mulutnya, ia begitu berhutang budi pada wanita cantik itu, andai saja tak ada bantuannya maka kemungkinan besar restu dari sang kakak gagal di dapatnya.


"Terima kasih atas bantuan bu Shanum, entah bagaimana saya harus membayar budi baik bu Shanum hiks."


"Sudahlah bu Linda, itu saya lakukan karena memang saya lihat pak David sungguh-sungguh mencintai bu Linda, ia ingin bu Linda lah yang akan menemani hari tuanya" bisik Shanum sambil mengusap punggung Linda.


Shanum mengurai pelukannya dan menatap netra Linda tajam.


"Sekarang kita harus memikirkan kapan pernikahan di laksanakan, jangan terlalu lama, kasihan dia" bisik Shanum sambil mengusap perut Linda yang masih rata.


"Perjuangan kalian masih panjang, tapi aku yakin kedua orang tua David pasti akan menerima cucu mereka, dia adalah putra satu-satunya, mana mungkin mereka tak akan menyambut kehadiran calon cucu mereka sendiri" ucap Shanum dengan tersenyum.


Linda mengangguk lau memandang David calon suaminya, kini ia akan berusaha demi kebahagiaan calon anaknya, ia akan membuat calon mertuanya menerima dirinya dan calon bayi yang ada dalam perutnya.


Linda melambaikan tangan saat iringan mobil yang membawa calon suaminya meninggalkan mansion.


"Sejak kapan kau dekat dengan putri Tuan Hardy?" tanya Lefrant akhirnya tak dapat menutupi rasa penasarannya.


Linda hanya memandang ke arah sang kakak dengan seringai tipis.


Warna merah di kedua matanya sudah tak terlihat lagi bahkan kini berganti dengan tingkahnya yang berubah aneh.


"Kak, untuk apa kau tanyakan kapan aku mengenal Nona muda Shanum, dan apa urusannya denganmu" ujar Linda sarkas.


"Hei aku kakakmu sopanlah sedikit" hardik Lefrant.


"Hmm, aku hanya tak ingin kakakku berhasrat pada wanita yang sudah memiliki suami" jawab Linda santai.


"A apa maksudmu?"


"Kak, aku bukan seorang adik yang bodoh yang tak bisa melihat tatapan kakak memandang dengan penuh dengan rasa kagum dan rasa ketertarikan pada nona muda Shanum, aku melihatnya dengan jelas kak."


Hati Lefrant mencelos, rupanya sang adik menyadari tingkahnya yang mendadak gugup jika bertatap dengan putri Tuan Hardy itu.

__ADS_1


"Kau jangan salah sangka, aku hanya kembali teringat dengan sahabatku Daren."


"Kenapa memangnya dengan kak Daren?" tanya Linda karena ia pun mengenal salah satu sahabat kakaknya itu.


"Nona Shanum lah wanita yang bisa membuat Daren pertama kalinya jatuh cinta."


Lefrant menghela nafas berat, mengingat bagaimana terpukulnya sahabatnya itu, saat mengetahui bahwa wanita yang di cintainya ternyata sudah menjadi milik orang lain.


Linda menutup mulutnya yang terbuka lebar, ternyata memang kecantikan nona muda Shanum telah banyak membuat para pria patah hati, batinnya.


Sementara itu di mansion, Rangga menatap sang istri dengan intens, ia begitu terkejut saat melihat wanitanya sudah berada di mansion Linda.


Dan tak bisa di pungkiri, darahnya seakan mendidih saat Lefrant terus menatap Shanum dengan penuh rasa kagum.


Di rengkuhnya pinggang lurus Shanum hingga mengikis jarak keduanya.


Perlahan diciumnya bibir mungil Shanum, lalu hidung mancung, dan mata indah sang istri pun tak luput dari kecupan bibirnya yang bertubi-tubi menghujani wajah sang istri.


Shanum menutupi wajah dengan kedua tangannya, sungguh Rangga tak biasanya berskap seperti itu.


"Sayang apa yang kau lakukan?" ujar Shanum yang masih mencoba menghindar dari serangan ciuman yang kini mendatanginya lagi.


"Aku ingin menghabisimu, kau adalah miliku."


"T tunggu, tak biasanya kau seperti ini, kau mencium wajahku membabi buta, ada apa denganmu sayang" Shanum bertanya lirih.


"Andai tadi kita tak sedang dalam misi penting untuk melamar Linda, sudah ku pastikan Lefrant akan ku hajar sampai habis, berani-beraninya ia menatap wajahmu begitu lama, tak tahukah dia bahwa ada aku suamimu" hardik Rangga keras kesal.


Shanum tersenyum, rupanya sang suami sedang di landa rasa cemburu buta.


"Kenapa kau tersenyum heum? Apa kau pun suka padanya?" tanya Rangga dengan mata tajam ke arah Shanum.


Glek.


Shanum menggeleng cepat.


"Mana mungkin aku menyukai pria lain, aku hanya menyukaimu seorang, hanya kau yang menepati seluruh hatiku tak akan ada yang bisa menggesermu dari sisiku sayang muacch" Shanum sebenarnya jengah mengeluarkan kata-kata romantis, sungguh bukan sifatnya untuk membujuk dan merayu.


Rangga menyeringai lebar dan memeluk sang istri erat.


"Kau memang hanya tercipta untukku."

__ADS_1


__ADS_2