
Beberapa hari berada di rumah sakit membuat Linda begitu suntuk, apalagi rasa rindu pada Rangga membuat tidurnya tak nyenyak, setiap waktu yang di lalui di ruangan ini, bagai siksaan yang begitu berat.
Lefrant muncul dari pintu dengan wajah ceria, hari ini dokter sudah membolehkan sang adik untuk pulang.
Linda menyambut dengan tubuh berjingkrak riang.
"Linda, tahan gerakanmu, ingat kau belum sepenuhnya pulih."
"Sudah kak, aku sudah sembuh, lihatlah luka di tangan dan kaki sudah mulai mengering."
Lefrant pun mengangguk senang.
Keduanya meninggalkan rumah sakit setelah pria itu mengurus administrasi rumah sakit.
"Kau perbanyaklah istirahat, perusahaan biar aku yang handle, pulihkan dulu lukamu."
"Baik kak, aku pun kurang tidur selama di rumah sakit."
"Baiklah, aku pulang dulu, untuk makan sudah bibi siapkan semua di meja makan, kalau ada sesuatu segera hubungi aku."
"Baik kak."
Ceklek, Lefrant pun meninggalkan apartemen.
Sementara di balik pintu, seringai lebar terbit dari bibir sexy Linda.
Selama di rumah sakit Linda begitu di landa rindu, rindu pada pak Rangga, lelaki yang sudah membuatnya menggila.
Bahkan Linda seakan lupa pada David, lelaki yang telah merenggut mahkotanya.
Di tatapnya wajah di layar kaca, dengan sapuan bedak dan perona bibir merah menyala, membuat wajah pucatnya kini berwarna kembali, bibir sexy dan tubuh nyaris sempurna, apa benar kau tidak tertarik padaku pak Rangga, tanya Linda dalam hati, dengan melenggak-lenggokan tubuhnya di depan cermin.
"Lihatlah aku, wajah dan tubuhku adalah idaman setiap lelaki, lihatlah aku pak Rangga, apa istrimu semenarik diriku ini?"
Linda bahkan berbicang dengan cermin di hadapannya seorang diri.
"Tapi hhmm hmm" Linda tampak mengendus dan mencium aroma tubuh dan ketiaknya sendiri.
"Tubuhku beberapa hari ini tidak terkena sabun, rasanya lengket dan aromanya aneh" ucapnya dengan senyum masam, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dengan air hangat dan campuran minyak aroma theraphy dengan wangi lavender membuat tubuh Linda terasa nyaman.
Luka di tubuh yang mulai mengering dengan meninggalkan bekas warna pucat membuat Linda mencebik kesal.
__ADS_1
Kulitnya yang putih kini berubah dengan bekas luka yang berwarna lebih terang.
Setelah puas berendam dan memanjakan diri dengan air hangat, kini Linda sudah bersiap diri dengan penampilan maksimal.
Setelah memantaskan diri di depan cermin, langkahnya dengan pasti menuju lelaki sang pujaan.
Senyum yang selalu mengembang penuh percaya diri, anggukan dari satpam penjaga lobi pun ia jawab dengan lambaian tangan dan kedipan mata menggoda.
Mobil merah kesayangan Linda pun meluncur menuju ke sebuah cafe yang terletak tak jauh dari gedung Wijaya Corp.
Linda ingin menghabiskan kejenuhan di cafe itu, sejenak melupakan kegundahan hatinya.
Jam di pergelangan tangan menunjukan angka lima, sebagian karyawan sudah mulai keluar dari gerbang Wijaya Corp.
Linda masih tenang sambil mata terus menatap ke arah bangunan gedung tinggi di depannya, dengan harapan, sang pujaan akan muncul segera.
Aku tidak akan menyerah, akan ku lakukan apapun untuk mendapatkanmu, meski kini kau telah memiliki seorang istri, aku tak akan mundur sejengkalpun, kau adalah miliku pak Rangga.
Kepulan asap rokok keluar dari bibir Sexy Linda, tatapannya tajam ke arah gedung Wijaya Corp.
Sorot mata yang menyiratkan amarah dan dengki tergambar jelas.
Kini jam telah melewati ke angka enam, namun Linda tak melihat mobil pak Rangga keluar lewat gerbang.
"Kak, aku besok mau masuk" Linda berucap tegas lewat ponselnya.
"Tidak, kau belum sepenuhnya pulih, aku belum mengijinkan mu masuk untuk bekerja."Lefrant menjawab tanpa penolakan.
"Tapi aku bosan di apartemen kak."
"Kau bisa jalan-jalan ke mall, atau makan di restoran atau ke mana pun kau ingin"
Linda menutup ponselnya kesal, jika ia terus berada di apartemen maka ia tak mempunyai lagi alasan untuk pergi ke Wijaya Corp. Untuk menemui pak Rangga.
Sementara itu di sebuah rumah mewah nan megah, David duduk termenung dengan ponsel dalam genggaman tangannya.
Tak berjumpa dengan cinta satu malamnya membuat David tampak di landa rindu.
setiap hari ia terus berharap agar memiliki kesempatan untuk berkunjung ke gedung Testafood dan berjumpa dengan bu Linda, namun mereka ternyata malah mengutus orang lain untuk menyelesaikan meeting ataupun rapat rutin dengan Testafood.
Andai itu bukan rasa suka apakah David kini terobsesi dengan wanita satu malamnya, karena semenjak kejadian itu hatinya seakan terpatri.
Apa kabarnya sekarang, masih ingatkah dia saat kehangatan yang telah mereka rengkuh bersama, dan keringat yang membasahi tubuh polos malam itu, batin David dengan ingatan kembali berputar pada kegiatan panas malam itu.
__ADS_1
Glek.
Sialan kenapa tiba-tiba tubuhku terasa gerah, gumamnya sambil melepas kaos hitam polosnya.
Langkahnya ia tuju ke lemari pendingin, segelas orange juise ia tenggak hingga tandas.
Apa yang sedang kau lakukan saat ini bu Linda, apakah kau juga merasakan getaran yang masih terasa jika mengingat akan malam panas itu, batin David.
malam panjang yang mereka lalui memang tak bisa di katakan indah, semua itu mereka lakukan dalam keadaan terpaksa, andai saja bu Linda tidak dalam pengaruh obat laknat itu, hingga saat ini mungkin David masih belum bisa merasakan indahnya surga dunia.
Memang benar apa kata orang, nikmatnya bercinta sungguh indah, bagai terbang ke surga.
******* dan rintihan malam itu masih sering membayang di memori David, mungkin tak akan pernah hilang selamanya.
**********
Udara pagi membuat Linda terjaga, bergegas ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini meski tanpa ijin Lefrant sang kakak, Linda akan mulai bekerja, toh tubuhnya sudah terasa bugar.
Linda sungguh tersiksa berada di apartemen dengan menahan rindu di dadanya.
Wajah pak Rangga selalu bermain di pelupuk matanya, senyum dan tatapan mata yang tajam, selalu mampu membuat dada Linda berdebar kencang.
Meski kenyataan pahit kini sudah Linda ketahui, bahwa sang pujaan telah memiliki seorang pendamping hidup.
Namun itu tak membuatnya mundur, bahkan semangatnya kini semakin berkobar, hasrat untuk memiliki Rangga kini semakin menggebu.
Rok hitam span tujuh per delapan, serta blouse lengan panjang dengan warna senada menjadi outfitnya hari ini, untuk menutupi sebagian bekas luka di tangan terpaksa Linda memakai ukuran panjang.
Dengan langkah penuh percaya diri, Linda ayunkan kaki memasuki ruangannya.
Para satpam dan sebagian karyawan yang melihat tampak tertegun.
CEO mereka yang terbiasa dengan baju sexy menampilkan kemulusan tangan dan kaki, kini tampak tertutup.
Hanya belahan dada Linda yang masih tersembul menggoda.
Satpam paruh baya mengangguk hormat pada atasannya.
Melihat tampilan kaki dan tangan sang bos membuat laki-laki itu merasa bersyukur, dengan tubuh sexy dan baju minimal yang biasa di pakai atasannya membuat satpam tersebut tak jarang pergi ke kamar mandi untuk mengeluarkan hasratnya secara solo.
Semoga saja tampilan beliau semakin membaik, untuk kebaikan semua , batin nya.
__ADS_1