Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Masih Banyak Kesempatan


__ADS_3

Rangga telah mengirim pesan pada Danu dan Dika bahwa hari ini ia tidak masuk kerja lagi.


Di lihatnya Shanum masih terlelap di alam mimpinya.


"Sayang, bangunlah sudah pagi sayang"bisik Rangga pada Shanum yang masih pulas di balik selimut tebalnya.


"He mhh" Shanum hanya menggeliatkan tubuhnya.


Cup cup cup


Rangga memberondonginya kecupan di seluruh wajahnya yang tersembul dari balik selimut.


"Lekas bangunlah? Siang ini kita harus mengikuti sidang"Shanum membuka matanya dengan cepat, mendengar kata 'sidang' membuat jantungnya berdebar tiba-tiba.


"Sidang"tannya Shanum gugup.


"Iya"Rangga menegaskan kalimatnya.


"Kau sudah mandi?"tanya Shanum karena melihat Rangga sudah tampak segar dengan rambut masih sedikit basah.


"Hu um"Rangga menganggukan kepalanya lalu mencolek hidung mancung sang istri gemas.


"Apa mau aku mandikan"tanya Rangga dengan senyum manis dan mengedikan alisnya.


"Ah tidak-tidak, aku mandi sendiri"ucap Shanum cepat karena akan membutuhkan waktu lama jika Rangga ikut bersamanya ke kamar mandi, sudah di pastikan waktu yang seharusnya hanya membutuhkan sekitar dua puluh menit maka akan menjadi dua jam.


"Sshhh"Shanum mengerutkan keningnya saat perutnya tiba-tiba terasa peris bagai di remas.


"Sayang, kau kenapa"Rangga menatap cemas saat Shanum menghentikan langkahnya dan memegang perut dengan wajah menahan sakit.


Shanum menggeleng pelan, rasa perih pada daerah perut yang biasa di alami nya jika masa periodenya datang.


Dengan pelan Rangga menuntun Shanum ke kamar mandi.


"Stop, jangan ikut masuk"perintah Shanum saat Rangga hendak ikut masuk bersamanya ke kamar mandi.


"Tapi kau sedang sakit, aku hanya ingin membantumu sayang"ucap Rangga melas.


Shanum menggeleng pasti, lalu melangkah pelan sambil menahan rasa perih di perutnya.

__ADS_1


"Sayang, biar aku ikut masuk ya, janji aku akan tutup mata di dalem"ucap Rangga merasa tak tega melihat sang istri yang menahan sakit.


Akhirnya Shanum membiarkan Rangga menuntunnya sampai ke dalam kamar mandi.


"Tutup mata dan menghadap ke tembok"perintah Shanum tegas.


Rangga pun menurut pada perintah Shanum.


Setelah membersihkan tubuhnya Shanum pun melangkah dengan perlahan memakai handuk kimono nya.


"Stop jangan lihat ke belakang"Shanum kembali berteriak cepat saat mengetahui Rangga hendak memutarkan tubuh ke arahnya.


"Tapi kan mandinya sudah selesai sayang?"tanya Rangga penasaran.


"Iya tapi jangan balik muka dulu, aku mau pakai baju"ujar Shanum masih meringis menahan perih perutnya.


"Oh oke"jawab rangga.


Shanum akhirnya menghela nagas lega, setelah selesai memasang pembalut dan memakai bajunya lengkap.


"Sudah sayang"tanya Rangga masih ragu untuk membalikan wajahnya.


Shanum duduk lemas di sofa panjang di kamarnya, wajahnya tampak pucat memandang Rangga.


"Kenapa sayang, sakit banget yah? Apa Kita ke dokter dulu sebelum ke kantor pengadilan?"tanya Rangga berjongkok dan meraih tangan Shanum lalu mengusap punggung tangannya lembut.


"Sebentar aku.."ucapan Rangga tak selesai saat Shanum kembali menarik tangannya.


"Jangan pergi"ucap Shanum menatap Rangga intens.


"Sayang, aku tidak akan pergi, aku hanya ingin membuat minuman untuk penghangat perutmu"ucap Rangga lembut.


Shanum menggelengkan kepalanya cepat.


"Jangan pergi hiks" Rangga tercekat saat mendengar Shanum terisak.


Di rengkuhnya tubuh sang istri dan di dekapnya erat.


Tak biasanya Shanum bersikap manja seperti ini, hal sepele pun membuatnya menangis, batin Rangga.

__ADS_1


Dengan lembut Rangga mengusap punggung Shanum, getaran kecil terlihat jelas, menandakan Shanum tengah menahan tangisnya.


"Sayang, apa perutmu sesakit itu yah, kita ke dokter yuk"ajak Rangga dengan suara yang lembut.


Namun tetap gelengan penolakan dari Shanum.


"Kalau begitu sebaiknya tubuhmu kau baringkan di ranjang, agar rasa sakitmu berkurang"ujar Rangga.


"Aku nggak mau,aku hanya ingin dekat denganmu hiks hiks"isak tangis Shanum semakin keras membuat Rangga kini di landa kebingungan.


"Cup cup, aku di sini sayang, dan aku nggak akan pergi"Rangga merengkuh wajah Shanum dan memandangnya tajam.


"Sayang lihat aku, kenapa kau menangis, katakan apa yang harus aku lakukan, atau ada kata-kataku yang telah menyakitimu?"tanya Rangga dengan nada tinggi.


Shanum diam.


"Sayang, bagaimana aku tahu apa yang kau mau jika kau tak menjawabku"kini Rangga semakin di buat bingung saat air mata semakin deras keluar dari mata Shanum.


"Hiks hiks"Shanum bergerak cepat memeluk tubuh Rangga.


Dengan lembut Rangga membelai rambut lebat sang istri, memang butuh kesabaran jika menghadapi seorang wanita yang sedang masa periodenya, pikir Rangga.


Shanum melerai pelukannya dan memandang Rangga tajam dengan air mata terus mengalir.


"Maafkan aku hiks".


"Eihh".


Rangga tersentak kaget, namun mencoba untuk tetap dapat mengendaliakn dirinya.


Minta maaf, apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang telah kau lakukan di belakangku, batin Rangga kini merasa tak tenang.


"Maaf kenapa sayang"tanya Rangga dengan suara bergetar, debaran jantungnya kini semakin kencang.


"Maafkan aku yang belum bisa ....tek dung"jawab Shanum polos.


"Bhua ha ha ha.."tawa Rangga pecah seiring perasaan hatinya yang kini terasa lega.


"Sayang...kenapa haru meminta maaf padaku, itu bukan salahmu sayang, jika kita memang belum di percaya oleh sang pencipta untuk mendapatkan seorang anak maka bukan berarti kita tidak akan memiliki anak, perjalanan masih panjang sayang dan kita harus berusaha lebih keras lagi, dan aku selalu siap untuk berusaha setiap saat agar kau segera tek dung"Rangga memeluk erat Shanum di kecupnya puncak sang istri dengan lembut.

__ADS_1


Masih banyak kesempatan untuk kita sayang, dan Arjunaku pasti selalu siap untuk membuat perutmu sesegera mungkin 'tek dung', Rangga tersenyum penuh arti.


__ADS_2